Kembali

© Faridz

 



Lokakarya Pengelolaan Sidat yang Berkelanjutan

Posted on 11 March 2022
Author by Si Luh Komang Trisna Dewi – Capture Fisheries Volunteer Yayasan WWF Indonesia

Pengelolaan perikanan berkelanjutan di Indonesia  merupakan suatu hal yang sangat kompleks, karena melibatkan begitu banyak aspek sosial, budaya dan juga tentunya keterlibatan ilmu pengetahuan. Kompleksitas yang sama juga dihadapi oleh pengelolaan perikanan Sidat yang berkelanjutan. Banyak informasi mengenai habitat ikan ini yang masih menjadi misteri, seperti informasi terkait lokasi pemijahan dan parameter lingkungan yang tepat bagi ikan sidat dalam proses melakukan pemijahan. 


Dalam pengelolaan suatu komoditas tentunya diperlukan informasi sains yang meliputi, data stok hingga produktivitas populasi. Kajian ilmiah mengenai sumber daya ikan sidat sangat penting untuk dilakukan, karena menjadi dasar pijakan dari terciptanya suatu pengelolaan yang berkelanjutan.


Pengelolaan berkelanjutan erat kaitannya dengan aspek konservasi,  yang tidak terlepas dari upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan suatu sumber daya secara seimbang. Yayasan WWF Indonesia menggelar Panel Ilmiah dan Lokakarya Pengelolaan Perikanan Sidat yang Berkelanjutan secara daring pada 9 Maret 2022.


Lokakarya ini dihadiri oleh perwakilan Direktorat Jendral Perikanan Tangkap (DJPT), Direktorat Jendral Pengelolaan Ruang Laut (DJPRL), Balai Riset Sumber Daya Manusia Kelautan Perikanan (BRSDMKP), Balai Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas IPB, PT Suri Tani Pemuka, perwakilan Indonesia Society for Tropical Eels (ISTEs), perwakilan dari WWF-Jepang, King Fahd University of Petroleum and Minerals dan Chuo University. Topik yang dibahas dalam lokakarya ini adalah bagaimana pengelolaan perikanan sidat di Indonesia dan aspek-aspek ilmiah terkait dengan pengelolaan tersebut.


Pemanfaatan Sidat di Indonesia

Diversifikasi produk adalah salah satu upaya yang dapat diterapkan dalam pemanfaatan ikan sidat di Indonesia. Indonesia adalah salah satu negara penyuplai sumber benih sidat tropis untuk negara-negara konsumen ikan sidat. Data yang dikumpulkan melalui pendampingan yang dilakukan Yayasan WWF Indonesia di sektor perikanan sidat menunjukan adanya penuurunan tren permintaan ekspor, serta banyaknya pelaku usaha modal asing yang berhenti melakukan budidaya sidat.


Hingga saat ini produk sidat di Indonesia masih belum popular untuk dikonsumsi. Melalui diversifikasi produk, diharapkan dapat meningkatakan minat pasar lokal maupun global atas produk-produk sidat. “Unagi Kabayaki merupakan salah satu diversifikasi produk ikan sidat yang telah dilakukan. Karena budidaya ikan sidat secara genetik belum menemukan solusi, maka untuk sementara kami berhenti melakukan budidaya. Kedepan diharapkan benih sidat dapat dilakukan penetasan sendiri, bukan bersumber dari alam”, hal ini disampaikan Jenny Budiati dari PT Suri Tani Pemuka.


Saat ini, kemajuan IPTEK dan segmentasi pasar sangat dibutuhkan dalam budidaya ikan sidat. Eri Setiadi S.Si M.Sc dari BRSDMKP, menyampaikan “Kendala budidaya benih sidat/glass eel adalah rendahnya sintasan atau tingkat kelangsungan hidup yang diperoleh, sehingga berdampak terjadinya penurunan produktivitas. Dengan menggunakan Recirculating Aquaculture System (RAS) menengah banyak keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan sistem ini, misalnya produktivitas yang lebih terukur.”


Gambar 1. Unagi Kabayaki sebagai inovasi produk olahan sidat dari PT Suri Tani Pemuka


Gambar 2. Rancangan teknologi RAS menengah yang efektif, ramah lingkungan dan dengan biaya yang terjangkau


Upaya Pengelolaan Perikanan Sidat

Pada lokakarya ini, Dony Armanto dari DJPT menyampaikan bahwa, pemerintah telah mengupayakan pembentukan Rancangan Pengelolaan Perikanan (RPP) sidat. “RPP sidat ditetapkan sebagai pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan pengelolaan perikanan sidat di Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari RPP sidat, DJPT telah menyusun panduan teknis restocking sidat, penangkapan dan penanganan ikan sidat stadia glass eel” ujarnya. 


Rancangan Aksi Nasional (RAN) 2021-2025 masih dalam tahap penyusunan. Selain itu, dalam pemanfaatan ikan sidat maupun ikan lainnya yang dilindungi, perlu memerhatikan legalitas dengan adanya Surat Ijin Pemanfaatan Jenis Ikan (SIPJI), keberlanjutan stok dapat dilakukan dengan penerapan kuota penangkapan, dan ketelusuran dapat ditracking dengan bantuan dari Surat Angkut Jenis Ikan (SAJI).


Gambar 3. Hasil tangkapan glass eel oleh nelayan ikan sidat, Sukabumi


Sebagian besar pemateri menyebutkan bahwa tantangan pengelolaan perikanan sidat di Indonesia adalah adanya keterbatasan data dan informasi terkait komoditas ini. Informasi terkait parameter lingkungan habitat ikan sidat dan pengkajian stok sangat diperlukan sebagai penyokong terwujudnya pengelolaan yang berkelanjutan. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Yu-Jia Lin dari King Fahd University of Petroleum and Minerals, “Dua hal penting perlu diperhatikan dalam pengelolaan stok perikanan sidat, yaitu stock size (kelimpahan dan biomassa) dan produktivitas populasi. Adapun model pendekatan yang dapat digunakan, yaitu catch dynamics model”. Dalam menentukan protokol pengawasan dan monitoring pengelolaan sumber daya sidat harus teliti dalam memilih tolak ukur, seperti populasi, Survival Rate (SR), mortalitas dan trend populasi.


”Dalam mengidentifikasi dan melihat distribusi ikan sidat dapat menggunakan pendekatan morfologi dan molekuler. Hasil yang didapati dalam kajian yaitu dilihat dari panjang pigmentasi pada ekor glass eel. Pigmentasi pada ekor ikan sidat jenis A. bicolor sampai ujung ekor, sedangkan pigmentasi pada A. marmorata tidak sampai ujung ekornya. Kajian terkait tanda morfologi ikan sidat yang mengalami matang gonad dan data kelimpahannya untuk mengetahui distribusi sidat perlu dikaji lebih lanjut” ujar Peneliti dari KKP, Dr. Melta Rini Fahmi. Metode lain yang dapat digunakan untuk mengetahui struktur komunitas, keragaman jenis sidat dan mencari lokasi spawning adalah dengan menggunakan e-DNA. 


Harapannya dengan adanya kegiatan Panel Ilmiah dan Lokakarya Pengelolaan Perikanan Sidat yang didukung oleh Yayasan WWF Indonesia dapat menjadi jembatan antara pemerintahan dan pemangku kepentingan lainnya untuk pengelolaan perikanan sidat yang berkelanjutan.











Cerita Terkini

Pertemuan Perdana Volunteer Panda Mobile Angkatan 2019

Pada Sabtu (07/09) lalu, WWF-Indonesia mengundang 41 relawan baru untuk menghadiri pertemuan perdana volunteer Pan...

Melacak Asal Usul Benih Ikan Sidat dari Sukabumi, Jawa Barat

Oleh: Faridz Rizal Fachri (Capture Fisheries Officer, WWF-Indonesia)Selepas maghrib, muara Sungai Cimandiri, Pelab...

Get the latest conservation news with email