Kembali

© Andreas Brucker / Unsplash

.



PRESS RELEASE

Laporan SUSREG WWF: Bank Sentral dan Otoritas Perbankan Berperan Kunci dalam Memobilisasi Sistem Keuangan untuk Menghadapi Risiko Iklim dan Alam

Posted on 31 October 2021

  • Hasil penilaian perdana dari WWF Sustainable Financial Regulations and Central Bank Activities (SUSREG) menunjukkan adanya peningkatan kesadaran atas dampak finansial yang ditimbulkan dari perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah bank sentral dan otoritas perbankan yang telah mengambil tindakan untuk menciptakan sistem keuangan yang lebih berkelanjutan.
  • Krisis iklim dan lingkungan merupakan ancaman yang serius dan permasalahan keduanya memiliki keterkaitan yang erat. Oleh karena itu, prinsip kehati-hatian perlu diterapkan dan langkah konkret serta tepat waktu perlu dilakukan untuk menangani kedua ancaman tersebut secara paralel. 
  • Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap otoritas perbankan dan bank sentral di 38 negara, 13 di antaranya telah menerbitkan aturan perbankan berkelanjutan yang sifatnya mandatori, salah satunya Indonesia dengan diterbitkannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 51 tahun 2017.
  • Sementara itu, penggunaan perangkat moneter, regulasi, dan prudensial untuk memastikan lembaga jasa keuangan mendukung kegiatan yang sejalan dengan tujuan iklim, lingkungan, dan keberlanjutan secara luas masih terbatas. Namun, perkembangan mulai terlihat, antara lain, dalam hal pengelolaan devisa dan portofolio yang lebih baik dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial, di mana Bank Indonesia salah satunya yang telah mulai mengadopsi Sustainable Responsible Investment untuk pengelolaan devisa. 

Jakarta, 29 Oktober 2021 - Menyusul diluncurkannya publikasi kerangka kerja SUSREG dan tracking tool secara daring pada April 2021 lalu, World Wide Fund for Nature (WWF) meluncurkan Laporan Tahunan SUSREG yang pertama pada 28 Oktober 2021. Laporan ini mengangkat berbagai temuan terkait upaya dan perkembangan yang telah dilakukan oleh bank sentral dan otoritas perbankan dalam mengintegrasikan aspek-aspek terkait lingkungan dan sosial sesuai mandat dan ranah kegiatannya. Analisis tersebut mencakup 38 negara di Amerika, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia-Pasifik, termasuk mayoritas anggota dan pengamat Basel Committee on Banking Supervision. Secara keseluruhan, ke-38 negara tersebut telah berkontribusi lebih dari 90% PDB global, 80% dari total emisi Gas Rumah Kaca (GRK), dan 11 di antaranya termasuk dalam 17 negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar. 

Merujuk pada hasil analisis, bank sentral dan otoritas perbankan telah mengembangkan strateginya untuk mengambil langkah nyata dalam memitigasi risiko-risiko terkait iklim, namun tidak demikian terhadap risiko terkait lingkungan dan sosial yang belum banyak dipertimbangkan.

“Perkembangan yang telah dicapai para bank sentral dan otoritas perbankan cukup menjanjikan. Kita harus meningkatkan upaya tersebut agar dapat mengatasi berbagai tantangan lingkungan dan sosial, terutama apabila kita ingin memenuhi komitmen berdasarkan Perjanjian Paris dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” ungkap Margaret Kuhlow, Finance Practice Leader WWF. “Degradasi lingkungan memiliki ancaman yang sama besarnya dengan perubahan iklim, dan keduanya saling berkaitan. Oleh karenanya, kita tidak bisa menyelesaikan persoalan iklim tanpa mengatasi permasalahan degradasi lingkungan.”

Saat ini, berbagai ekspektasi dari bank sentral dan otoritas perbankan terkait integrasi risiko iklim, lingkungan, dan sosial secara global semakin terbangun. Dari keseluruhan negara yang telah dianalisis, 35% di antaranya memandatkan perbankan untuk mengembangkan dan/atau memperkuat praktik manajemen risiko terkait iklim, lingkungan, dan/atau sosial mereka. Sebagai contoh, Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ ECB) dan Otoritas Keuangan Singapura (Monetary Authority of Singapore/ MAS) mengeluarkan pedoman baru terkait manajemen risiko iklim dan lingkungan; Bank Sentral Brazil (Banco Central do Brasil) memperkuat aturan manajemen risiko mereka sehingga mencakup seluruh spektrum risiko lingkungan dan sosial.  

Di samping itu, semakin banyak riset dilakukan untuk memahami dan mengukur paparan perbankan terhadap berbagai macam risiko terkait perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, serta pengembangan taksonomi untuk menentukan praktik-praktik yang masuk ke dalam kategori ‘berkelanjutan’. Namun demikian, ditemukan bahwa belum banyak otoritas perbankan yang membuat aturan khusus ataupun menggunakan perangkat pengawasan untuk memastikan kepatuhan terhadap berbagai aturan yang telah dibuat maupun ekspektasi para regulator guna menjaga sistem keuangan terhadap risiko-risiko iklim dan lingkungan secara luas. 

“Perkembangan awal kebijakan keuangan berkelanjutan di Indonesia menunjukkan kemajuan yang positif, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengesahkan POJK 51 sebagai kerangka integrasi pertimbangan lingkungan dan sosial, serta kini tengah mengembangkan taksonomi hijau. Hal ini merupakan langkah lanjutan yang baik. Diharapkan pengembangan taksonomi ini dilakukan secara berbasis ilmiah guna efektif dalam membangun ekonomi rendah karbon yang tangguh.” pungkas Rizkiasari Yudawinata, Sustainable Finance Program Lead, Yayasan WWF Indonesia.

“Berdasarkan analisis Sustainable Banking Assessment (SUSBA) WWF di tahun 2020, terlihat kemajuan yang lebih pesat pada perkembangan integrasi lingkungan, sosial dan tata kelola (LST) dari perbankan nasional setelah regulasi efektif berlaku. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan pemenuhan indikator integrasi LST sebanyak 30% dibandingkan tahun sebelumnya,” tambahnya.  

Dari sisi bank sentral, pertimbangan terhadap aspek lingkungan dan sosial belum sepenuhnya terintegrasi dalam kebijakan-kebijakan utama, seperti pembelian aset, kerangka penjaminan, maupun program pelunasan pembiayaan/ pembiayaan kembali. Sejauh ini, baru 22% bank sentral yang telah memiliki beberapa kebijakan tersebut, dan belum ada yang memenuhi indikator SUSREG secara keseluruhan. Walaupun sudah terlihat adanya perkembangan pada cadangan devisa dan manajemen portofolio secara keseluruhan, pemanfaatan perangkat-perangkat kebijakan tersebut akan memastikan bahwa bank sentral dapat mengendalikan risiko lingkungan dan sosial, sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi yang berkelanjutan.

OJK dan Bank Indonesia (BI) merekognisi bahwa perubahan iklim merupakan risiko yang signifikan terhadap stabilitas keuangan dan kedua institusi dimaksud telah bergabung pada platform NGFS (Network for Greening the Financial System) yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan di dalam mengelola risiko iklim dan lingkungan yang lebih luas. 

“Bank Indonesia tengah menjajaki riset terkait risiko transisi dari perubahan iklim. Ini merupakan langkah penting untuk menguatkan strategi penanganan risiko iklim. Harapannya, hal ini dapat diikuti juga dengan kajian terkait risiko fisik (physical risk), serta memasukkan unsur peluang selain risiko, dan secara bertahap memasukkan aspek lingkungan yang lebih luas,” jelas Rizkiasari.

Beberapa inisiatif yang mendukung terciptanya efektivitas perbankan berkelanjutan di Indonesia juga ditemukan, antara lain insentif OJK berupa peningkatan kapasitas untuk perbankan terkait keuangan berkelanjutan, serta insentif Bank Indonesia yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 21/13/PBI/2019 yang mencakup Loan to Value dan Financing to Value bagi properti berwawasan lingkungan serta kemudahan uang muka bagi kendaraan bermotor berwawasan lingkungan.

WWF berharap bank sentral dan otoritas keuangan, sebagai penentu kebijakan keuangan, dapat mengambil langkah kepemimpinan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan sosial. Hal tersebut akan membangun kepercayaan diri pemerintah dalam menentukan arah yang lebih ambisius, serta mengirimkan sinyal yang tepat kepada lembaga jasa keuangan atas proyeksi perubahan aturan dan pengawasan yang akan datang. Di tengah periode yang penuh tantangan ini, intervensi yang ambisius serta koordinasi di tingkat nasional dan internasional menjadi kunci kesuksesan dalam menghadapi tantangan global secara kolektif.

WWF akan memperbarui hasil analisis secara daring di laman SUSREG Tracker dua kali dalam setahun, dan merilis laporan tahunan terkait perkembangan regulasi dan kegiatan terkini, menampilkan praktik-praktik positif yang telah diterapkan, termasuk ruang untuk perbaikan yang dibutuhkan.

---SELESAI ---


Laporan dapat diunduh di: https://wwfint.awsassets.panda.org/downloads/susreg_annual_report_2021.pdf 


Untuk informasi dan pertanyaan, silahkan menghubungi:

Karina Lestiarsi, Communication, Campaign & Public Relations Team | [email protected] | T. 0852-181-616-83


Tentang SUSREG Tracker 

The Sustainable Financial Regulations and Central Bank Activities (SUSREG) Tracker adalah suatu perangkat  berbasis daring yang didasarkan pada suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh WWF di bawah Greening Financial Regulation Initiative. SUSREG Tracker dirancang untuk mendukung para bank sentral dan otoritas keuangan dalam memperkuat stabilitas sektor keuangan, serta ketahanan terhadap risiko-risiko terkait iklim, lingkungan, dan sosial secara luas. SUSREG Tracker juga dirancang untuk memudahkan mobilisasi permodalan untuk transisi menuju ekonomi yang rendah karbon, tangguh, dan berkelanjutan. SUSREG Tracker juga memaparkan sejumlah praktik yang positif dan perbandingan antar-negara, serta menyoroti beberapa area yang membutuhkan peningkatan. Dengan menyediakan analisis yang konsisten dan rinci atas kebijakan-kebijakan di beberapa negara kunci, maka para bank sentral dan otoritas keuangan dapat menganalisis dan melakukan tolok ukur atas perkembangan dalam integrasi aspek lingkungan dan sosial sesuai mandat dan ranah kegiatan mereka. 

Dengan fokus utama pada pengawasan perbankan, kerangka kerja SUSREG akan secara bertahap diperluas sehingga mencakup aspek-aspek kunci lainnya dalam sistem keuangan, seperti asuransi, pasar modal, dan manajemen aset. Informasi lebih lanjut: https://www.susreg.org/


Tentang Greening Financial Regulation Initiative (GFRI) WWF

Greening Financial Regulation Initiative dari WWF berupaya  menempatkan risiko terkait iklim dan lingkungan pada sistem keuangan. Melalui inisiatif ini, WWF bermaksud untuk mendemonstrasikan hubungan antara risiko keuangan dengan risiko lingkungan seperti perubahan iklim, kelangkaan air, penurunan keanekaragaman hayati, serta melibatkan para pembuat kebijakan, bank sentral, dan otoritas perbankan untuk membahas kebutuhan integrasi risiko-risiko tersebut ke dalam mandat dan ranah kegiatan mereka. Melalui hal ini, WWF akan mendedikasikan  perangkat, penelitian ilmiah, analisis, dan dukungan yang dibutuhkan untuk membantu meningkatkan ambisi pada agenda kebijakan keuangan berkelanjutan global. Informasi lebih lanjut: www.panda.org/gfr


Tentang Yayasan WWF Indonesia

Yayasan WWF Indonesia adalah organisasi masyarakat madani berbadan hukum Indonesia yang bergerak di bidang konservasi alam dan pembangunan berkelanjutan, dengan dukungan lebih dari 100.000 suporter. Misi Yayasan WWF Indonesia adalah untuk menghentikan penurunan kualitas lingkungan hidup dan membangun masa depan di mana manusia hidup selaras dengan alam, melalui pelestarian keanekaragaman hayati dunia, pemanfaatan sumber daya alam terbarukan yang berkelanjutan, serta dukungan pengurangan polusi dan konsumsi berlebihan. Untuk berita terbaru, kunjungi www.wwf.id dan ikuti kami di Twitter @WWF_id | Instagram @wwf_id | Facebook WWF-Indonesia | Youtube WWF-Indonesia | Line Friends WWF Indonesia



Cerita Terkini

IKEA dan WWF Mempebaharui Kemitraan sebagai Upaya Percepatan Aksi untu

Selama hampir 20 tahun WWF dan Inter IKEA Group telah bermitra untuk mendorong dampak positif lingkungan dalam ber...

Penangguhan Kerja Sama Bilateral antara WWF-Indonesia dengan Royal Les

PERNYATAAN RESMIPenangguhan Kerja Sama Bilateral antara WWF-Indonesia dengan Royal Lestari Utama“Sejak 2015, WWF...

Pertemuan Perdana Volunteer Panda Mobile Angkatan 2019

Pada Sabtu (07/09) lalu, WWF-Indonesia mengundang 41 relawan baru untuk menghadiri pertemuan perdana volunteer Pan...

Get the latest conservation news with email