Kembali

© Michel Gunther

.



PRESS RELEASE

Konsumsi Satwa Liar Global Menurun 30% Hal Ini Dianggap Berkaitan dengan Pandemi Seperti Covid-19

Posted on 26 May 2021
Author by WWF

  • Survei GlobeScan untuk WWF yang dikeluarkan 24 Mei 2021 dalam sebuah laporan berjudul, COVID-19: One Year Later:  Public Perceptions about Pandemics and their Links to Nature’
  • WWF menemukan dukungan publik yang luar biasa untuk mendorong tindakan nyata penyebab utama kerusakan alam dan pandemi
  • Mencegah pandemi di masa depan bisa dilakukan dengan mendesak pemerintah mengadopsi pendekatan One Health untuk perdagangan satwa liar berisiko tinggi dan deforestasi.

Gland, 24 Mei 2021 - Konferensi Kesehatan Dunia dibuka hari ini di tengah-tengah kesengsaraan berkelanjutan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, hampir 30% orang yang mengikuti survei di wilayah China, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka telah mengurangi konsumsi atau berhenti mengonsumsi satwa liar sama sekali karena krisis kesehatan.

Khususnya, 28% responden di China mengonsumsi lebih sedikit satwa liar atau sudah berhenti mengonsumsi satwa liar karena COVID-19, sedangkan di Thailand meningkat hampir dua kali lipat (21% pada 2020 menjadi 41% pada 2021), Vietnam tetap stabil (41% pada tahun 2020 menjadi 39% pada tahun 2021). Namun diketahui sampai saat ini beberapa kelompok masih konsisten mengonsumsi satwa liar, dimana 9% responden di kelima negara tersebut masih memiliki niatan untuk membeli produk satwa liar di masa depan.

Penilaian tersebut di atas merupakan bagian dari survei yang dilakukan oleh GlobeScan untuk WWF yang dikeluarkan pada 24 Mei 2021 dalam sebuah laporan baru berjudul, 'COVID-19: One Year Later:  Public Perceptions about Pandemics and their Links to Nature’. Studi ini dipublikasikan setelah studi awal yang dilakukan setahun yang lalu untuk memperdalam pemahaman tentang sikap dan perilaku publik dalam menangani pandemi di masa depan. Dengan investigasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini yang merujuk bahwa satwa liar sebagai kemungkinan sumber pandemi, survei tahun ini menemukan bahwa dukungan kuat di kelima negara untuk mendukung upaya pemerintah untuk menutup pasar yang memiliki risiko tinggi dalam perdagangan satwa liar (85%) dan menghentikan deforestasi (88%), sebagai penyebab utama wabah penyakit  yang bersumber dari satwa liar (zoonosis).

Lebih dari satu tahun setelah wabah COVID-19, data menunjukkan bahwa interaksi manusia dengan hewan liar sangat berisiko, dan hal tersebut berkaitan erat dengan deforestasi dan tingginya perdagangan satwa liar, di mana dapat menimbulkan wabah penyakit yang serius, bahkan 46% responden dari keseluruhan menyatakan bahwa penularan penyakit dari hewan ke manusia adalah akar penyebab yang paling mungkin memicu pandemi di masa depan.

Mayoritas responden yang mengikuti survei percaya bahwa mencegah pandemi di masa depan dapat dilakukan dengan mengatasi akar penyebab, termasuk perdagangan satwa liar yang berisiko tinggi dan penggundulan hutan. Empat dari lima orang responden mendukung tindakan pemerintah untuk mengatasi ancaman ini, sedangkan saat ini belum ada tindakan yang diambil untuk menutup pasar satwa liar berisiko tinggi, oleh karenanya 79% dari seluruh responden di lima negara mengatakan cukup khawatir bahkan menunjukkan kekhawatiran yang  lebih akan adanya wabah serupa.

“Pandemi COVID-19 telah membawa dampak terhadap aktivitas manusia terhadap alam yang secara tragis dekat dengan rumah dan keluarga kita, dan orang-orang semakin khawatir dan mendesak untuk melakukan tindakan: mengatasi penyebab utama wabah zoonosis dan mengambil pendekatan One Health harus menjadi bagian strategi pencegahan pandemi global kolektif kami”, menurut Marco Lambertini, Direktur Jenderal, WWF Internasional. “Satu-satunya cara untuk mencegah pandemi di masa depan adalah dengan mengurangi aktivitas manusia yang merusak yang mendorong hilangnya alam - seperti penggundulan hutan, perdagangan satwa liar yang tidak berkelanjutan, dan konsumsi satwa liar yang berisiko - daripada bereaksi terhadap wabah setelah muncul. Pencegahan pandemi diperkirakan memakan biaya 100 kali lebih murah daripada menanggulanginya. Pandemi menunjukkan secara jelas bahwa berinvestasi untuk kesehatan planet dan alam adalah satu-satunya cara untuk menghindari dari dampak sosial dan ekonomi yang tidak dapat kita tanggung lagi di masa depan, seperti yang sudah dijelaskan oleh para ilmuwan bahwa kita harus menyeimbangkan kembali hubungan kita dengan alam, pertanyaannya adalah 'kapan' pandemi berikutnya akan menyerang, bukan 'bagaimana'”.

Penyebab utama wabah zoonosis termasuk di antaranya peternakan satwa liar, alih fungsi lahan yang menyebabkan deforestasi, dan perdagangan satwa liar risiko tinggi, di mana keseluruhannya memiliki kontribusi dalam mempermudah penyebaran penyakit seperti COVID-19, SARS, MERS dan Ebola dengan menempatkan hewan liar lebih dekat kepada manusia dan hewan peliharaan.

Pemerintah China mengumumkan larangan konsumsi hewan liar secara luas pada Februari 2020, dan survei menemukan bahwa di China, menutup pasar satwa liar berisiko tinggi dipandang sebagai tindakan paling efektif untuk mencegah pandemi (91%). Di Vietnam, di mana Perdana Menteri juga mengumumkan tindakan melawan perdagangan satwa liar ilegal tahun lalu, 84% responden setuju bahwa menutup pasar satwa liar berisiko tinggi sangat penting.

Aksi advokasi WWF Preventing Future Pandemics mendesak pemerintah untuk mengadopsi pendekatan One Health untuk perdagangan satwa liar berisiko tinggi dan deforestasi.

Organisasi konservasi juga mendesak para pengambil keputusan untuk melakukan intervensi yang diperlukan untuk mengatasi penyebab utama wabah zoonosis dalam rencana pencegahan pandemi mereka. Menghentikan deforestasi dan menutup pasar satwa liar yang berisiko, misalnya, membantu dalam pemulihan populasi satwa liar dan memelihara keanekaragaman hayati lokal dan global yang secara alami membantu menekan penyebaran penyakit, serta membantu memastikan penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

- SELESAI -

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi Julien Anseau di [email protected]

Tentang survei GlobeScan

GlobeScan adalah survei online terhadap responden berusia 18+ tahun yang dilakukan di lima negara pada 4 Februari - 18 Maret 2021. Waktu ini dipilih bertepatan dengan survei tahun 2020, yang dilakukan pada 6 - 11 Maret 2020. Ukuran sampel: AS (2.000 responden), Cina (2.000 responden), Vietnam (1.000 responden), Thailand (1.000 responden) dan Myanmar (631 responden). Karena kerusuhan politik di Myanmar, penelitian di negara ini terhenti.

Tentang One Health

Ketika pendekatan “One Health” dijelaskan kepada peserta dalam survei GlobeScan, 85% responden sangat mendukung atau mendukung pendekatan yang akan dilakukan untuk memerangi pandemi.

'One Health' didefinisikan oleh WHO sebagai pendekatan untuk merancang dan melaksanakan program, kebijakan, perundang-undangan dan penelitian di mana berbagai sektor berkomunikasi dan bekerja sama untuk mencapai hasil kesehatan masyarakat yang lebih baik. Hal tersebut menyatukan keahlian di bidang kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, kesehatan tumbuhan dan lingkungan. Ini didukung oleh beberapa organisasi internasional dan nasional termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE), Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Koordinasi Sistem Influenza, Bank Dunia, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan lainnya.



Cerita Terkini

BMP Perikanan Kerang

Penulis: Davidson Rato Noto (Capture Fisheries Officer, WWF-Indonesia)Better Management Practices (BMP), Seri...

Festival PARARA 2019 Dorong Konsumsi Pangan Lokal

Jakarta, 29 November 2019 – Sebanyak 85 lebih komunitas lokal dari seluruh nusantara akan hadir di Festival...

Lawan Isu Boikot Global, WWF Dorong Produsen dan Retailer Berkomitmen

Jakarta, 17 Januari 2020 – Bagi Indonesia, kelapa sawit merupakan komoditi kunci yang banyak berkontribusi ...

Get the latest conservation news with email