Kembali

© Yayasan WWF Indonesia / Jibriel Firman

.



PRESS RELEASE

Kolaborasi Multipihak Demi Tingkatkan Kualitas dan Produksi Ekspor Rumput Laut

Posted on 27 January 2022
Author by Yayasan WWF Indonesia dan JaSuDa

Makassar, 27 Januari 2022 - Jaringan Sumber Daya (JaSuDa) bersama Yayasan WWF Indonesia menyelenggarakan diskusi multi pihak pada hari Selasa, 25 Januari 2022 dengan perwakilan pemerintah dan pelaku industri rumput laut mengangkat tema “Kajian Kebutuhan Industri dalam Pengembangan Sektor Rumput Laut”. Diskusi membahas berbagai tantangan dalam pengembangan produk lumput laut, juga mengidentifikasi solusi dalam menghadapi tantangan tersebut.  

Empat puluh pelaku industri rumput laut dari hulu hingga hilir, mulai dari pembudidaya, pengepul, koperasi, asosiasi, eksportir bahan baku serta prosesor di wilayah Sulawesi Selatan aktif terlibat dalam diskusi yang diselenggarakan dengan metode daring dan tatap muka. Dialog integrasi ini terjadi atas kesadaran bersama akan penurunan produksi rumput laut akibat krisis iklim dan masalah limbah ditingkatan rantai pasok, sehingga daya saing komoditas menurun.

Pembudidaya Rumput Laut di Sulawesi Tenggara

Rumput laut adalah komoditas unggulan nasional dengan kontribusi terhadap nilai ekspor Indonesia hingga 279 juta dolar AS di tahun 2020 (data Kementerian Kelautan dan Perikanan). Rumput laut juga menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir yang strategis karena selain mudah dibudidayakan, modal yang dibutuhkan juga tidak terlalu besar. Namun, beberapa tahun terakhir ini telah terjadi penurunan produksi serta penurunan kualitas bibit rumput laut.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dalam “Laporan Kinerja Tahunan 2021: Triwulan 3” menyebutkan bahwa produksi rumput laut menurun dari triwulan 3 tahun 2020 sebesar 7,78 juta ton menjadi 7,14 juta ton pada tahun 2021. Selain itu, hasil produksi ini juga berada di bawah target produksi yang sebesar 8,45 juta ton pada triwulan ketiga tahun 2021. Di lapangan, penurunan ini cukup dirasakan bagi para industri pengolahan dan eksportir. “Tahun ini, kami sering kekurangan bahan baku. Kekurangannya bisa sampai 70-120 ton per hari,” ujar Bapak Chen Xuan dari PT Biota Laut Ganggang.

Agar usaha rumput laut yang produktif, pembudidaya sangat bergantung pada kalender budidaya yang disusun berdasarkan perhitungan cuaca dan musim. Namun kemudian, cara ini tidak lagi efektif diakibatkan oleh kondisi cuaca yang tidak menentu dengan adanya fenomena perubahan iklim. Suhu panas ekstrem serta curah hujan yang tinggi mempengaruhi tumbuh kembang bibit dan pertumbuhan budidaya rumput laut. Sehingga hal ini berdampak pada jumlah produksi yang kian menurun dari tahun ke tahun.

Dalam diskusi ini juga mengemukakan berbagai tantangan yang dihadapi produsen rumput laut, baik tantangan dari sisi produksi maupun persyaratan dari pasar. Ada pun kendala yang ditemukan adalah tantangan perubahan iklim, kualitas bibit yang buruk, dan isu mikroplastik. Mengutip Mursalim, perwakilan dari Asosiasi Rumput Laut Indonesia saat ini masih dijumpai adanya pelaku budidaya rumput laut yang menggunakan pelampung serta tali bentangan berbahan plastik, di mana penggunaan bahan plastik menjadi perhatian khusus bagi mitra-mitra bisnis internasionalnya.

Suasana diskusi antara pembudidaya dengan eksportir dan lembaga pendukung

Adanya integrasi menyeluruh pada multisektor sangat dibutuhkan, termasuk perbaikan budidaya (best practices), investasi pihak eksportir dan industri pada sektor budidaya, perhitungan HPP terbaik bagi seluruh pihak untuk mencapai ekuilibrium secara ekonomis, perbaikan pengelolaan limbah, serta dukungan teknologi berbasis IoT (Internet of Things) menuju smart farming

Di sisi lain, para pelaku usaha rumput laut juga berharap pemerintah mendukung melalui kebijakan yang mendukung produksi dengan pendampingan teknis teknologi budidaya 4.0, sertifikasi Cara Budidaya Ikan (termasuk didalamnya komoditas rumput laut) yang Baik (CBIB), serta sentralisasi daerah budidaya rumput laut oleh pemerintah daerah. Pendampingan ini telah banyak didukung oleh berbagai lembaga masyarakat yang peduli terhadap keberlangsungan usaha rumput laut, salah satunya Yayasan WWF Indonesia.

Asdar Marsuki, pelaku usaha rumput laut di Sulawesi Selatan mengatakan, “Persaingan usaha saat ini tidak hanya secara domestik, namun kami bersaing dengan para pelaku usaha dari negara lain dengan menjual komoditas yang sama. Hal ini patut menjadi pertimbangan para pelaku usaha rumput laut dalam negeri, untuk itulah perlu adanya sinergi dan penguatan dalam menghadapi persaingan global.”

Hardi Haris, Kepala Bidang Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan menyampaikan bahwa sektor usaha rumput laut telah menyumbang 80% produksi perikanan budidaya di Sulawesi Selatan. Hal ini menjadikan provinsi ini sebagai produsen rumput laut tropis terbesar di Indonesia.

Lebih lanjut Hardi mengatakan, “Para pembudidaya harus memperhatikan sanitasi dan kualitas produksi rumput laut. Jika hal seperti itu diperhatikan, maka kualitas akan terjaga serta kepercayaan pasar meningkat. Pelaku pembudidaya dengan pelaku industri juga diharapkan saling bekerja sama agar produksi terintegrasi dan berbasis kebutuhan pasar,” tutupnya.

--- SELESAI ---

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

  • Boedi Sarjana Julianto, Direktur PT JaSuDa | Email: [email protected] | 0811-4443-738 
  • Karina Lestiarsi, Communication, Campaign & Public Relations Team Yayasan WWF Indonesia | Email: [email protected] | 0852-181-616-83


Cerita Terkini

Panduan Produk Berbahan Dasar Kayu

Dalam segala sisi kehidupan, manusia tidak dapat lepas dari manfaat hutan dan hasil hutan berupa kayu. Pemanfaatan...

Nature X Youth: Ajak Milenials Bersuara untuk Alam

Oleh: Nur ArintaMilenials adalah kelompok yang penting untuk didengar suaranya. Milenials adalah generasi penentu ...

Protokol Pemantauan Kesehatan Terumbu Karang

Kondisi ekosistem pesisir dan laut merupakan bagian dari aspek biofisik pengelolaan yang perlu diidentifikasi, din...

Get the latest conservation news with email