Kembali

© IAM Flying Vet / Yayasan WWF Indonesia

.



COLLABORATION OF FIRST RESPONDER NETWORK AND IAM FLYING VET FOR INDONESIAN AQUATIC MEGAFAUNA RESCUE

Posted on 07 May 2021
Author by IAM Flying Vet dan First Responder

Indonesian waters have an important role as a habitat for various migratory species such as whales, dolphins, turtles, and whale sharks, which are also included in the category of endangered marine animals. Unfortunately, these animals are often found stranded on the coast, both alive and dead. Over the past four years, the WWF Indonesia Foundation has collected data from various strandings involving turtles and marine mammals in Indonesia. More than 300 turtles and 400 marine mammals have been found stranded on the coast of Indonesia in less than four years. However, it is not uncommon for these animals didn't receive immediate treatment and care that affect their safety.

Therefore, the WWF Indonesia Foundation supports the movement of the First Responder Network (first responders to stranded marine mammals) which was initiated in 2013 along with the Ministry of Marine and Fisheries (KKP), the Indonesian Institute of Sciences (LIPI), the Indonesian Veterinary Association (PDHI) and Whale Stranding Indonesia to reduce the mortality rate of marine animals stranded on the coast and as a quick response in the first aid to stranding events. To date, more than 1000 people in Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali-Nusra to Papua have received special training in handling some cases of stranded marine animals in Indonesia.

Stranded marine animals are mostly found in poor health conditions and require appropriate medical care, but this is beyond the capacity of the First Responder group. Therefore, in 2018 an organization called the Indonesian Aquatic Megafauna Veterinarian Association (IAM Flying Vet) was formed as a follow-up responder. Given the importance of the role of veterinarians in providing medical treatment for stranded and/or sick marine animals, the WWF Indonesia Foundation plays an active role in providing support to IAM Flying Vet in the form of facilities, procurement of medicines to the training needed by IAM Flying Vet veterinarians. IAM Flying Vet tries to increase survival rate through medical treatment/rehabilitation of animals found sick/weak. Moreover, animals found dead are also subject to necropsy/veterinary forensic examinations to trace the alleged causes of animal deaths, as well as outreach efforts to the public to minimize the negative impact of stranded marine animals on public health and the surrounding environment.

IAM Flying Vet currently consists of 35 volunteer veterinarians to assist in the medical treatment of stranded and/or sick aquatic megafauna. Since its inception until December 3, 2020, IAM Flying Vet has handled 315 cases of stranded marine animals and/or requiring veterinary medical treatment, consisting of 301 turtles, 5 whales, 5 dolphins, and 4 dugongs. Of the 315 individuals treated, 252 were found alive while 63 were found dead and necropsy was performed to determine the possible cause of death. Of the 252 individuals treated alive, 242 were successfully treated until they were healthy and then successfully released back into their habitat. This number shows the survival rate from medical treatment actions carried out by IAM Flying Vet within 2.5 years reaching 96%, a number that is satisfactory and can only be achieved thanks to the help of all parties involved and the support given to this social movement.

So far, IAM Flying Vet has produced 5 scientific publications related to case handling and held 25 socialization and education sessions through various training, seminars, webinars, and even open classes.

The occurrence of stranded marine animals incident is almost unavoidable. It makes the role of the First Responder group and IAM Flying Vet a crucial component in handling these cases. Currently, IAM Flying Vet and First Responder continue their mission in handling reports of stranded marine wildlife cases throughout Indonesia to maintain the existence of aquatic megafauna in Indonesia. Undeniably, this movement requires full support from various parties to be able to achieve the best goals in efforts to save aquatic megafauna, environmental health, and mitigation.

____________________________________________________________________________________________________________________________________________

KOLABORASI JEJARING FIRST RESPONDER DAN IAM FLYING VET UNTUK PENYELAMATAN MEGAFAUNA AKUATIK INDONESIA

Perairan Indonesia memiliki peran penting sebagai habitat dari berbagai spesies yang bermigrasi seperti paus, lumba-lumba, penyu, maupun hiu paus; yang juga termasuk dalam kategori satwa laut terancam punah. Sayangnya, hewan-hewan ini sering ditemukan terdampar di pesisir, baik dalam keadaan hidup maupun yang telah mati. Selama empat tahun terakhir, Yayasan WWF Indonesia telah mengumpulkan data dari berbagai kejadian satwa terdampar yang melibatkan penyu dan mamalia laut di Indonesia. Ditemukan lebih dari 300 ekor penyu dan 400 mamalia laut yang terdampar di pesisir Indonesia dalam waktu kurang dari empat tahun. Namun tak jarang dari satwa tersebut yang tidak mendapatkan penanganan dan perawatan segera yang dapat mempengaruhi faktor keselamatannya.

Oleh karena itu, Yayasan WWF Indonesia mendukung gerakan dari jaringan First Responder (penanggap pertama mamalia laut terdampar) yang dirintis sejak tahun 2013 bersama Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) serta Whale Stranding Indonesia untuk mengurangi tingkat kematian dari satwa laut yang terdampar di pesisir dan sebagai respon cepat dalam penanganan pertama pada kejadian terdampar. Hingga saat ini, lebih dari 1000 orang di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali-Nusra hingga Papua telah mendapatkan pelatihan khusus untuk menangani kasus satwa laut terdampar di Indonesia.

Kebanyakan satwa laut yang terdampar memiliki kondisi kesehatan yang buruk dan membutuhkan perawatan medis yang layak, namun hal ini di luar kapasitas dari kelompok First Responder. Maka dari itu, pada tahun 2018 dibentuklah suatu organisasi bernama Asosiasi Dokter Hewan Megafauna Akuatik Indonesia (IAM Flying Vet) sebagai penanggap lanjutan. Mengingat pentingnya peranan dokter hewan dalam memberikan penanganan medis terhadap satwa laut yang terdampar dan/atau sakit maka Yayasan WWF Indonesia turut berperan aktif memberikan dukungan kepada IAM Flying Vet baik berupa fasilitas, pengadaan obat-obatan hingga pelatihan yang dibutuhkan oleh dokter hewan anggota IAM Flying Vet. Adapun upaya yang dilakukan oleh IAM Flying Vet adalah sebagai upaya untuk meningkatkan peluang hidup (survival rate) melalui penanganan medis/ rehabilitasi pada satwa yang ditemukan sakit/lemah. Tak hanya itu, satwa yang ditemukan mati juga dilakukan nekropsi/ pemeriksaan forensik veteriner untuk menelusuri dugaan penyebab kematian satwa, serta upaya sosialisasi kepada masyarakat untuk meminimalisir dampak negatif dari kejadian satwa laut terdampar terhadap kesehatan publik dan lingkungan sekitarnya.

IAM Flying Vet saat ini telah beranggotakan 35 relawan dokter hewan untuk membantu proses penanganan medik megafauna akuatik terdampar dan/ sakit. Sejak awal didirikan hingga 3 Desember 2020, IAM Flying Vet telah menangani sebanyak 315 kasus satwa laut terdampar dan/ atau memerlukan penanganan medik veteriner, terdiri dari 301 penyu, 5 paus, 5 lumba-lumba, dan 4 dugong. Dari 315 individu yang ditangani tersebut sebanyak 252 individu ditemukan dalam keadaan hidup sementara 63 lainnya ditemukan dalam keadaan sudah mati dan kemudian dilakukan nekropsi untuk mencari tahu kemungkinan penyebab kematian. Dari 252 individu yang ditangani dalam kondisi hidup 242 diantaranya berhasil ditangani hingga sehat dan kemudian berhasil dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Jumlah ini menunjukkan tingkat keselamatan (survival rate) dari tindakan penanganan medik yang dilakukan oleh IAM Flying Vet dalam kurun waktu 2,5 tahun mencapai 96%; sebuah angka yang cukup memuaskan dan hanya bisa dicapai berkat bantuan dari semua pihak yang terlibat dan dukungan yang diberikan kepada gerakan sosial ini.

Sejauh ini, IAM Flying Vet telah menghasilkan 5 publikasi ilmiah dari kasus-kasus yang telah ditangani, dan telah menyelenggarakan 25 sesi sosialisasi dan edukasi melalui berbagai pelatihan, seminar, webinar, bahkan kelas terbuka.

Kejadian satwa laut terdampar merupakan insiden yang hampir tidak bisa dihindari. Hal ini membuat peran dari kelompok First Responder dan IAM Flying Vet sebagai komponen yang krusial dalam penanganan kasus-kasus tersebut. Saat ini IAM Flying Vet dan First Responder terus melanjutkan misinya untuk melakukan penanganan terhadap pelaporan dari kasus satwa laut terdampar di seluruh Indonesia demi menjaga keberadaan megafauna akuatik di Indonesia. Tentunya gerakan ini membutuhkan dukungan penuh dari berbagai pihak untuk dapat mencapai tujuan terbaik dalam upaya penyelamatan megafauna akuatik dan kesehatan lingkungan hingga mitigasinya.


Cerita Terkini

Mengamati Perilaku Burung Cenderawasih di Laboratorium Alam Sejati

Manusia dan satwa liar tidak dapat bertahan hidup di Bumi tanpa adanya pohon. Dibanding ekosistem lainnya, komposi...

Subayang

...

Menjadi Pahlawan Lingkungan Dimulai dari Dirimu Sendiri!

BE WARRIORS!BE WARRIORS!BE WARRIORS!Be warriors, menjadi jargon Bina Bangsa School (BBS) Bandung dalam mengajak ma...

Get the latest conservation news with email