Kembali

© Earth Hour Medan

Virtual tour dalam webinar "Konservasi Tradisional" (12/09/2020)



Kolaborasi Antarkomunitas EH Ajak Publik Memahami Konservasi Tradisional

Posted on 06 October 2020
Author by Nurhasanah Auliani

Setelah melaksanakan seminar virtual pertama pada Juni 2020 yang bertema “Harmoni Alam dan Kearifan Lokal”, Earth Hour Medan, Earth Hour Jayapura, dan Earth Hour Asmat kembali berkolaborasi dan melaksanakan webinar sekaligus virtual tour pada 12 September 2020 lalu. Kegiatan yang dihelat dengan semangat memeriahkan Hari Konservasi Nasional (10/08) ini mengambil tema “Konservasi Tradisional”. Webinar ini bertujuan untuk meningkatkan kesadartahuan publik secara umum terhadap konservasi dan kelestarian alam Indonesia, terutama upaya-upaya konservasi yang dilakukan secara tradisional melalui kearifan lokal yang ada di setiap daerah di Indonesia.

Webinar ini menghadirkan beberapa narasumber di antaranya adalah Rahman Muda Maulana (Horas Diving Club, Medan), Anis Sundoy (pelaku konservasi penyu di Tambrauw), Bambang Birawa (mantan pemburu cenderawasih), Yohanis Ayamiseba (pengelola Sasi Menarbu, Teluk Cenderawasih), Dede Penyu (pelaku konservasi penyu di Aceh), dan Calvin Waisimon (pengelola ekowisata di Rhepang Muaif, Nimbokrang). Acara ini juga dimoderatori oleh Bella Patty (EH Jayapura), dipandu oleh Nurhasanah Auliani (EH Medan), dan diikuti oleh sekitar 80 peserta yang berdomisili di Sumatera hingga Papua.

Hadirnya narasumber dari latar belakang yang berbeda membuat webinar ini membawa wawasan baru dan perspektif yang beragam kepada peserta mengenai upaya konservasi yang dilakukan untuk menjaga alamnya. Salah satu cerita menarik hadir dari salah satu narasumber bernama Calvin Waisimon. Calvin adalah seorang remaja berusia 16 tahun yang telah menjadi pemandu wisata untuk ekowisata pengamatan burung cenderawasih di Isyo Hills di Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Papua. Dalam upaya konservasi yang dilakukannya, Calvin mengikuti jejak sang ayah, Alex Waisimon yang berperan besar dalam kelestarian burung cenderawasih di sana dan akhirnya membawa kesejahteraan bagi masyarakat di desanya. Upaya yang dilakukan Calvin dan keluarganya pun akhirnya berhasil mengubah mindset Bambang Birawa, seorang mantan pemburu burung cenderawasih yang kini memilih untuk melindungi kecantikan dan keindahan burung ini di alam Tanah Papua.

Tak hanya narasumber dari Papua, narasumber dari Sumatera pun berbagi cerita kepada para peserta tentang upaya konservasi yang mereka lakukan di daerahnya. Salah satu cerita datang dari Rahman Muda Maulana, seorang akademisi universitas negeri di Sumatera Utara yang menjelaskan bagaimana melindungi laut agar tetap bisa terjaga. Dalam webinar ini, Rahman memberikan tips etika berwisata pinggir laut dengan mengurangi penggunaan bahan plastik saat berwisata dan juga harus menghormati aturan setempat.

Terlaksananya webinar ini mendapatkan respons positif dari para peserta. Salah satu peserta bernama Tasya Pricilia Iriana Rumatray mengatakan bahwa konsep virtual tour yang dilaksanakan di webinar ini membuatnya menjadi sangat menarik dan interaktif. “Saya terasa seperti benar-benar berada di lokasi kejadian,” pungkasnya.

Webinar ini diharapkan dapat membuat para peserta memahami maksud dari konservasi, dan dapat menginspirasi semua orang untuk dapat terlibat dan berpartisipasi aktif dalam upaya konservasi tradisional yang dapat dilakukan dan diimplementasikan di daerah masing-masing. Siapa saja dapat menjadi pelaku konservasi, baik secara perorangan maupun berkelompok tanpa terbatas latar belakang individu tersebut. Karena merawat dan menjaga ekosistem adalah tanggung jawab kita semua.


Cerita Terkini

Foto Pilihan: Juni 2022

Menganyam PandanNyai Anoi, seorang perempuan Dayak Ot Danum tengah menganyam di beranda rumahnya di Desa Tumbang H...

Wisata Sungai yang Menantang dan Eksotik

Ada penyebutan “Pulau Seribu Sungai”, itulah Kalimantan. Bila kita melihat dari pesawat, akan tampak banyaknya...

Get the latest conservation news with email