Kembali

© WWF-Indonesia

Berfoto bersama setelah praktik ESD bersama siswa SD Sarongge, Cianjur, Jawa Barat.



Kesempatan Mengembangkan Pengetahuan Konservasi dalam Training of Trainers

Posted by Nur Arinta on 14 July 2020
Author by Rafika Rosmalida

Pertama kali mendengar adanya open recruitment volunteer Panda Mobile WWF-Indonesia pada pertengahan Juni 2019, saya sangat tertarik untuk mengikuti seleksi tersebut. Mengapa demikian? Berawal dari kecintaan saya terhadap binatang, khususnya kucing. Hal itu mengantarkan saya untuk melakukan eksplorasi mengenai flora dan fauna yang beragam jenisnya. Lalu, saya memikirkan kontribusi apa yang dapat dilakukan untuk perlindungan terhadap hewan dan tanaman. Saya terus mencari tahu dan menggali peran yang dapat dilakukan hingga akhirnya mengetahui adanya Panda Mobile WWF-Indonesia. Sebuah truk yang berkeliling untuk menyampaikan pesan konservasi kepada semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa, di sekolah, di taman, ataupun di tempat umum. 

Bagi saya, bergabung bersama Panda Mobile WWF-Indonesia sebagai volunteer sudah tepat. Di sini, saya bertemu dengan teman-teman yang memiliki visi dan misi yang sama. Kami dapat berkontribusi terhadap lingkungan mulai dari diri sendiri, salah satunya dengan menjadi relawan yang menyampaikan pesan konservasi yang disampaikan kepada semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga masyarakat umum. Harapannya, pesan yang dibawa Panda Mobile tersampaikan dan tercipta pola kehidupan yang ramah lingkungan serta senantiasa berkelanjutan.

Setelah enam bulan bergabung menjadi bagian dari volunteer Panda Mobile WWF-Indonesia, koneksi dan ikatan yang kami–para volunteer–miliki terus tumbuh. Dengan tujuan dan keinginan yang sama akan terjaganya lingkungan, kami melakukan pertemuan pada Januari 2020 untuk mendapatkan pembelajaran dari staf Panda Mobile WWF-Indonesia, salah satunya adalah menulis artikel mengenai situasi di tempat kami melakukan pembelajaran saat itu. Selain artikel, kami juga melakukan pemotretan yang dapat membantu membangun suasana saat dilakukannya penulisan artikel tersebut. Kemudian, kakak-kakak staf Panda Mobile WWF-Indonesia memberi tahu bahwa akan diadakan suatu pelatihan yang dinamakan dengan Training of Trainers (ToT). Kegiatan Training of Trainers NatureXYouth for Biodiversity, Our Food and Nation Pride!  ini diadakan di dekat Puncak, tepatnya Desa Sarongge, Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur. Pesertanya adalah anggota Earth Hour, Marine Buddies, Pramuka dan pesantren, serta satu orang volunteer Panda Mobile.  Satu orang volunteer beruntung ini dapat mengikuti ToT dengan syarat mengirimkan alasan mengapa kami perlu menerima pelatihan tersebut. Mengingat awal perkuliahan baru saja dimulai, saya sempat ragu untuk mengikuti ToT yang dilaksanakan selama empat hari, termasuk hari di mana saya harus kuliah. Namun, keputusan saya untuk mencoba di tengah adanya keraguan akan satu dan lain hal akhirnya menggugah hati kakak-kakak staf Panda Mobile WWF-Indonesia. Akhirnya, saya mengikuti ToT pada 7 sampai 11 Februari 2020.

Pada Jumat, 7 Februari 2020, saya berangkat menuju Stasiun Bogor untuk bertemu dengan Kak Resti –salah satu tim Panda Mobile WWF-Indonesia– yang juga menjadi peserta ToT di Desa Sarongge. Saya telah banyak mendengar mengenai ToT sebelumnya dari para volunteer yang sudah bergabung lebih dulu. Hal tersebut membuat saya semakin tidak sabar untuk cepat-cepat berada di tengah-tengah agendanya. 

Siang itu, saya menelusuri jalanan Bogor bersama Kak Resti dengan suasana hati senang meski langit yang memayungi kami berwarna abu-abu. “Mau hujan,” pikir saya. Payung yang melindungi tas dan baju, saya keluarkan bersama dengan jaket. Saya tidak boleh sakit di hari pertama kegiatan. Kemudian, kami menuju ke halte titik penjemputan dan bertemu dengan teman-teman peserta ToT dari Earth Hour, Marine Buddies, serta Pramuka dan pesantren. Kak Chris, selaku panitia yang in charge untuk urusan transportasi dari ToT ini telah menyiapkan kendaraan yang akan kami gunakan menuju Desa Sarongge. 

Perjalanan pun dimulai, mobil yang kami tunggangi dalam keadaan sunyi karena orang-orang yang ada di dalamnya belum pernah bertemu dan mengenal satu sama lain sebelumnya. Setelah sampai di Desa Sarongge, kami berganti ke kendaraan yang lebih kecil karena akses menuju desa yang dituju cukup sempit. Saya melihat kebun teh di kanan dan kiri, terdapat pula beberapa kebun stroberi yang saat itu belum berbuah. Hujan ringan yang cukup membuat baju basah menyambut kedatangan kami di Saung Sarongge, tempat yang hangat. Bangunannya terbuat dari kayu-kayu yang disusun menjadi satu kesatuan dan menciptakan sebuah tempat berkumpul yang hangat dan menyenangkan, bukan hanya untuk kami, tetapi juga untuk warga sekitar serta pengunjung-pengunjung yang sebelumnya pernah datang. Kami disambut dengan aroma hidangan makanan khas Sunda yang dimasak oleh ibu-ibu Desa Sarongge dan memulai kegiatan dengan melakukan perkenalan. 

Saung Sarongge yang cukup luas menampung kami peserta ToT yang beragam. “Selamat Datang di Desa Sarongge, teman-teman. Sebelumnya tak kenal maka tak sayang, kita kenalan yuk, masing-masing menyebutkan nama, asal, pekerjaan, dan……,” Ibu Rini Andriani  perwakilan tim Education for Sustainable Developmen WWF-Indonesia memberikan jeda yang cukup panjang membuat kami, para peserta ToT saling melirik satu sama lain, “dan kalian sebutin deh, kalau saat ini kalian tidak jadi manusia, kalian mau menjadi apa? Yuk mulai dari kamu.” Lanjutan jeda kalimat yang disampaikan Wak Rini –nama panggilan Ibu Rini Andriani–membuat saya berpikir cepat. Saya mau jadi apa ya bila bukan manusia? Masing-masing peserta menyampaikan jawabannya yang unik dan beberapa menciptakan tawa menambah kehangatan akan petualangan yang akan kami lakukan empat hari ke depan. 

Hari menjelang malam, kami mendapatkan kesempatan untuk live in di rumah para warga Desa Sarongge. Saya bermalam bersama dengan Kak Resti dan juga Dede dari Pramuka Tasikmalaya di rumah warga yang tidak jauh dari Saung Sarongge. Malam yang gelap membuat saya, Kak Resti, dan Dede waspada saat perjalanan menuju “rumah sementara” kami. Hujan yang baru saja mengguyur Desa Sarongge membuat jalanan agak licin dan udara cukup dingin. Sesampainya di rumah yang akan ditempati empat hari ke depan, Teteh–begitu kami memanggil pemilik rumah–menyambut kedatangan kami dengan menyiapkan beberapa jenis camilan rebus dan air putih untuk diminum. Lalu, Teteh mengantarkan kami ke kamar dan memperkenalkan ruangan-ruangan di rumah. Setelahnya, Teteh memperkenankan kami untuk segera istirahat, karena pelatihan yang sesungguhnya akan dimulai esok hari. Saya tidak sabar. 

Pagi hari yang dingin dengan udara yang segar, serta langit yang cerah membuat saya berkeyakinan bahwa hari ini akan sangat menyenangkan. Kami memulai hari dengan sarapan masakan khas Sunda dari ibu-ibu Desa Sarongge. Setelah sarapan yang lezat dan perut yang kenyang, kami kembali berkumpul di Saung Sarongge. Para peserta ToT memulai bound satu sama lain dengan melakukan percakapan kecil dan saling bertukar informasi mengenai apa yang kami lakukan dalam kegiatan volunteer kami. Hari dimulai dengan presentasi mengenai Biodiversity yang disampaikan oleh Mba Sulis dari Education for Sustainable Development WWF-Indonesia. Presentasi dari Mba Sulis memberikan pengetahuan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang amat banyak dan tersebar luas dari Sabang sampai Merauke. Kemudian dilanjutkan dengan adanya presentasi mengenai Sustainable Development Goals (SDG’s) yang disampaikan oleh Mas Pietra. Berdasakan pemahaman saya secara intrinsik, lingkungan yang menjadi media kehidupan manusia memiliki keterkaitan dengan diciptakannya tujuan-tujuan dalam SDG’s. Kegiatan yang berlangsung dua arah menciptakan diskusi yang membangun suasana. Saya mendengarkan banyak pernyataan serta pertanyaan yang kritis dan membangun, serta menambah pengetahuan. 

Hari yang cukup padat dilanjutkan dengan kedatangan Ibu Yayah selaku Kepala Seksi Kurikulum Bogor yang memliki pengalaman luar biasa. Beliau menanamkan perilaku hidup ramah lingkungan kepada muridnya dahulu ketika ia menjadi Kepala sekolah di tahun 2006. Ibu Yayah, dalam pandangan saya, menerapkan pola pengajaran yang amat unik bukan hanya kepada anak-anak sebagai muridnya, tetapi juga kepada rekan-rekan guru di tempat kerjanya. Singkatan-singkatan yang unik menjadi salah satu cara Ibu Yayah menyampaikan pesan konservasi kepada muridnya. “SAWA SAPO menurut kalian apa kepanjangan dari ini?” Ibu Yayah bertanya kepada kami, saya sendiri tidak yakin untuk menjawab. Tetapi jawaban dari Ibu Yayah membuat saya menyadari bahwa beliau amat serius dalam bidang ini. “Satu Siswa Satu Pohon,” jawab Ibu Yayah cukup membuat saya mengingat kata tersebut hingga saat ini. Cara pembelajaran yang simple dan mudah di mengerti, begitu saya menangkap pesan dari Ibu Yayah. 

Hari semakin sore. Setelah makan siang -yang lagi-lagi makanan khas Sunda, dengan menu beragam dan berbeda dari sebelumnya-, kegiatan dilanjutkan dengan mempelajari praktik pengembangan metodologi pengajaran dari fasilitator. Materi kali ini tentang cara berkomunikasi. Sebab kami sebagai volunteer bertugas menyampaikan pesan konservasi, maka cara berkomunikasi yang diajarkan oleh fasilitator amat berguna agar kegiatan berjalan secara efektif. Dari fasilitator, kami juga belajar banyak permainan-permainan menyenangkan yang dapat diterapkan. Meskipun permainan adalah hal yang menyenangkan, namun dari game kita juga dapat menyampaikan pesan terselubung. Cara ini seringkali bisa mengantarkan pesan konservasi lebih mudah untuk sebagian kalangan. Aktivitas ini menjadi kegiatan terakhir kami di hari kedua. Setelahnya, hari semakin gelap, dan tubuh kami butuh istirahat untuk melanjutkan kegiatan di hari selanjutnya dengan penuh semangat.

Di hari selanjutnya, kami berkeliling Saung Sarongge mengunjungi peternakan dan kembali melanjutkan hari dengan agenda selanjutnya. Satu yang menyenangkan adalah presentasi dari Pak Tosca, aktivis yang melakukan pendampingan Kampung Sarongge. Cerita beliau adalah yang paling menarik menurut saya. Beliau melakukan usaha agar ada lahan pertanian untuk warga Desa Sarongge, setelah adanya larangan dilakukannya kegiatan di dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango bagi para petani untuk memungut hasil hutan seperti yang biasa dilakukan sebelumnya. Pak Tosca mengusahakan adanya lahan pertanian bagi warga desa hingga mendapatkan izin Perhutanan Sosial. Setelah hari menjelang siang, kami melakukan survei sebagai bagian dari kegiatan ToT ke SD Negeri Pasir Sarongge. Setelah kembali kami mempersiapkan properti dan alat lainnya yang akan kami gunakan untuk kegiatan pengajaran terhadap siswa-siswi di SD Negeri Pasir Sarongge, sebagai salah satu praktik hasil pembelajaran yang telah kami lakukan selama ToT. Tidak lupa seharian ini santap makanan Sunda serta kudapan-kudapan ringan yang menemani aktivitas kami.

Akhirnya, tiba waktunya kami praktik mengajar. Hari itu begitu cerah, langit biru tidak tertutup awan, dan deretan gunung menemani kami melakukan aktivitas bersama para siswa SD Negeri Pasir Sarongge. Pesan konservasi yang ringan disampaikan dalam permainan yang menggembirakan. Saya merasa bahagia bisa bertemu dengan anak-anak yang memiliki kemauan belajar yang menyenangkan. Tidak sedikit anak-anak bercerita kepada saya tentang tindakan kecil yang mereka lakukan, yang ternyata dapat membantu menjaga lingkungan. Saya belajar banyak dari setiap pertemuan dengan anak-anak dalam kegiatan-kegiatan pengajaran seperti ini. Adik-adik kecil yang perlu dilindungi karena menjadi bagian dari masa depan bangsa, begitu saya melihat mereka. Saya bangga dapat turut memberikan kontribusi kepada para siswa dengan cara seperti ini. Setelah hari menjelang sore, saya dan beberapa peserta ToT harus mengakhiri pertemuan ini. Kami semua mulai semakin kompak dan semakin mengenal satu sama lain. Walaupun pertemuan harus berhenti, akan tetapi komunikasi kami senantiasa berjalan dengan adanya media sosial.

Pembelajaran, pengetahuan, dan pertemuan menjadi salah satu cara bagi saya mengembangkan diri khususnya dalam bidang konservasi lingkungan. Hal-hal tersebut membentuk diri saya, bagaimana saya akan berpikir dan bertindak ke depannya. Pengalaman ToT ini membuat saya semakin mencintai apa yang saya lakukan bersama dengan Panda Mobile WWF-Indonesia sebagai volunteer. Selain pengembangan diri, mendapatkan teman-teman baru adalah hal yang sangat menyenangkan. Apakah kamu bagian dari volunteer Panda Mobile selanjutnya?


Cerita Terkini

Publikasi Prosiding Simposium Nasional Krustasea 2017: “Menuju Penge

Oleh: Faridz R. Fachri (Capture Fisheries Officer, WWF-Indonesia)Simposium Nasional Krustasea 2017 telah diselengg...

MUI Ajak Umat Ikut Awasi Perdagangan Ilegal Satwa Langka

Keanekaragaman hayati berlimpah yang dimiliki Indonesia, membuat negeri ini mendapat julukan mega biodiversity cou...

Mitra Signing Blue Perhatikan Aspek Lingkungan dalam Operasional Wisat

Oleh: Luh Putu Sugiari & Wahyu Ardianta (Pewarta Warga, BaleBengong) Griya Santrian Rekanan Signing...

Get the latest conservation news with email