Kembali

© Yayasan WWF Indonesia / Tri Wibawanto

  



PRESS RELEASE

THE MINISTRY OF COOPERATIVES AND SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES (SMES) STRENGTHENING SUSTAINABLE BUSINESS ECOSYSTEMS IN COOPERATIVES AND MICRO, SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES THROUGH THE SIGNING OF AN MOU WITH WWF INDONESIA FOUNDATION

Posted on 29 June 2022
Author by Yayasan WWF Indonesia

Jakarta, 29 June 2022 – In an effort to empower and improve a sustainable business ecosystem for cooperatives, micro, small and medium enterprises, the Ministry of Cooperatives and SMEs (KemenKopUKM) signed a Memorandum of Understanding with the WWF Indonesia Foundation on Wednesday, 29 June 2022. 

This Memorandum of Understanding is the first step in a deeper collaboration to create sustainable and integrated cooperatives, micro, small and medium enterprises to achieve the SDGs targets. This collaboration is expected to facilitate the institutional strengthening of the business ecosystem, aid small and medium-sized businesses to improve the quality of business products, and support a circular economy that empowers communities, innovative, and protects nature and the environment. 

Taking place at the WWF Indonesia Foundation office in South Jakarta, the signing of the Memorandum of Understanding presented Arif Rahman Hakim as Secretary of the Ministry of Cooperatives and SMEs, and Alexander Rusli as Chair of the WWF Indonesia Foundation Management Board. 

In his remarks, Arif Rahman Hakim, Secretary of the Ministry of Cooperatives and SMEs said, “By signing this Memorandum of Understanding, it is hoped that cooperation can be carried out more intensively. As for the Ministry of Cooperatives and SMEs, there are six main activities that can later be synergized, where its achievement requires partnerships with various parties, one of which is with WWF-Indonesia”. 

"The WWF Indonesia Foundation is committed to contributing, of course, in accordance with our role, both in terms of education and pilot projects as well as preparing the components that make this circular economy a reality," explained Alexander Rusli, Chair of the WWF Indonesia Foundation Management Board. 

As an alternative to the traditional linear economy, the circular economy prioritizes the use of resources, waste, emissions, and wasted energy to a minimum. This is achieved through closing the production-consumption cycle by extending product life, design innovation, maintenance, reuse, remanufacturing, recycling to the original product (recycling), and recycling into other products (upcycling). 

The circular economy is also a solution to the community's plastic waste problem, which is a global threat today. Approximately 75% of leakage from land-based sources is estimated to come from uncollected waste (Ocean Conservancy, 2017). 

The Ministry of Cooperatives and SMEs affirmed its policy to bring Cooperatives and SMEs to the top class, improve the position and role of SMEs to access national and international markets while continuing to strengthen the application of business standards and product standards that are green, socially and environmentally wise, as well as sustainable. WWF-Indonesia hopes to support these efforts to achieve sustainable development. 

*** 


For more information, please contact: 

• Anang Rachman, Head of Public Relations, Ministry of Cooperatives and SMEs 

e-mail: [email protected] 

• Karina Lestiarsi, Communication, Campaign & PR Team WWF Indonesia Foundation 

email: [email protected] | 0852-1816-1683 

__________________________________________________________________________________________________________________________________________

Kementerian Koperasi dan UKM Perkuat Ekosistem Bisnis yang Berkelanjutan Pada Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Melalui Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Yayasan WWF Indonesia

Jakarta, 29 Juni 2022 – Dalam upaya pemberdayaan dan peningkatan ekosistem bisnis yang berkelanjutan pada koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah, Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) melaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Yayasan WWF Indonesia pada Rabu, 29 Juni 2022. 

Nota Kesepahaman ini merupakan langkah awal kolaborasi yang lebih dalam untuk mewujudkan pelaku koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah yang berbasis keberlanjutan dan terintegrasi dalam upaya pencapaian target SDGs. Kerja sama ini diharapkan dapat memfasilitasi penguatan kelembagaan ekosistem bisnis, melakukan pendampingan usaha kecil dan menengah untuk peningkatan kualitas produk usaha, mendukung ekonomi sirkular yang memberdayakan masyarakat, inovatif, serta melindungi alam dan lingkungan hidup. 

Bertempat di kantor Yayasan WWF Indonesia di Jakarta Selatan, acara penandatanganan Nota Kesepahaman ini menghadirkan Arif Rahman Hakim selaku Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, dan Alexander Rusli selaku Ketua Badan Pengurus Yayasan WWF Indonesia.

Dalam sambutannya, Arif Rahman Hakim, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM mengatakan, “Dengan melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman ini diharapkan kerja sama dapat dilakukan lebih intensif lagi. Adapun di Kementerian Koperasi dan UKM memiliki enam kegiatan utama yang nantinya dapat disinergikan dimana pencapaiannya tentu membutuhkan kemitraan dengan berbagai pihak salah satunya dengan WWF-Indonesia”.

“Yayasan WWF Indonesia berkomitmen memberikan sumbangsih tentunya sesuai dengan peran kita baik itu edukasi dan pilot project serta mempersiapkan komponen-komponen yang membuat ekonomi sirkular ini menjadi kenyataan”, terang Alexander Rusli, Selaku Ketua Badan Pengurus Yayasan WWF Indonesia.

Sebagai alternatif dari ekonomi linier tradisional, ekonomi sirkular mengutamakan penggunaan sumber daya, sampah, emisi, dan energi terbuang secara minimal. Hal ini dicapai melalui penutupan siklus produksi-konsumsi dengan memperpanjang umur produk, inovasi desain, pemeliharaan, penggunaan kembali, remanufaktur, daur ulang ke produk semula (recycling), dan daur ulang menjadi produk lain (upcycling).

Ekonomi sirkular juga menjadi solusi untuk masalah limbah plastik masyarakat yang menjadi ancaman global saat ini. Sekitar 75% kebocoran dari sumber berbasis lahan diperkirakan berasal dari sampah yang tidak terkumpul (Ocean Conservancy, 2017). 

Kementerian Koperasi dan UKM menegaskan kebijakannya untuk membawa Koperasi dan UKM naik kelas, meningkatkan posisi dan peran UMKM untuk mengakses pasar nasional maupun internasional dengan tetap terus memperkuat penerapan standar usaha dan standar produk yang hijau, arif secara sosial dan lingkungan hidup, serta berkelanjutan. WWF-Indonesia berharap dapat mendukung upaya upaya tersebut demi mencapai pembangunan berkelanjutan.

***


Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi: 

Anang Rachman, Kepala Bagian Humas, Kementerian Koperasi dan UKM

e-mail: [email protected]

Karina Lestiarsi, Communication, Campaign & PR Team Yayasan WWF Indonesia

email: [email protected] | 0852-1816-1683



Cerita Terkini

Better Management Practices (BMP) - Perikanan Siput Abalon

Pemanfaatan siput laut sebagai sumber makanan telah lama dilakukan oleh manusia, terutama oleh masyarakat yang tin...

Nelayan Alor Pahami Pentingnya Lepaskan Penyu yang Tak Sengaja Tertang

Oleh: Veronica Louhenapessy (Fisheries Officer, WWF-Indonesia)Kesadaran masyarakat pesisir di wilayah SAP Selat Pa...

Ancaman Keberadaan Penyu di Ujung Tenggara Pulau Sulawesi

Oleh : Darwan Saputra (Bycatch Fisheries Improvement Program)Penyu merupakan spesies dengan kemampuan jelajah yang...

Get the latest conservation news with email