Kembali

© Dian Fika / Ilmu Kelautan FMIPA UNTAN

.



A Miracle Come True, the "Ancient Giant" Back to Paloh Beach

Posted on 16 September 2021
Author by Hendro Susanto

Wednesday (15/9) at midnight, the Paloh Turtle Monitoring Team was stunned to see a large black figure slowly moving in the sand. A leatherback turtle, a type of turtle that is said to have made the Paloh Coast a nesting site decades ago, was seen crawling on the sand that night. His body is heavy, it looks like it is full of eggs that are about to be released. After 13 years of routine patrolling, this is the first time the monitoring team has witnessed leatherback turtles returning to their homes.

Paloh Subdistrict, Sambas Regency, West Kalimantan, has a turtle nesting beach that stretches from Camar Bulan in the north (Indonesia-Malaysia border) to Selimpai Beach in the south. This white sand beach is a place for residents to carry out their daily activities as fishermen and was once a transportation route for residents from north to south.

This 63 kilometres long stretch of sand is one of the twelve main turtle nesting beaches in Indonesia. It is recorded that there are at least 3,700 turtle landings per year, and almost half of them are laying eggs. Four of the six species of sea turtles found in Indonesian waters are found in the waters and coastal areas of Paloh District, green turtles (Chelonia mydas), hawksbill turtles (Eretmochelys imbricata), olive ridley sea turtle (Lepidochelys olivacea), and leatherback turtles (Dermochelys coriacea).

Green turtles are the most common species or about 98 percent of the total turtles that climb to the Paloh Coast, the remaining 2 percent consist of hawksbill turtles and olive ridley turtles. While the most difficult to see – and it takes a lot of magic and luck – is the leatherback turtle. In the last 13 years, leatherback turtles have only been found three times, and even then, they were stranded dead or caught accidentally by fishermen (bycatch) at sea.

The miracle came that night, at around 00.45 WIB in sector 4 of the Belacan River Beach, or about 2 kilometres from the Belacan River Turtle Monitoring Post, Paloh. One individual leatherback turtle landed to perform the nesting ritual. For 60 minutes, the large turtle explored the beach, then returned to the sea.

The Paloh Turtle Monitoring Team, at that time, consisted of Enumerators BPSPL Pontianak and 7 Marine Science Students, FMIPA UNTAN who were carrying out an internship program, carried out routine monitoring patrols for turtle data collection. They initially found unusual turtle tracks; the tracks were twice as big as the green turtle tracks. After further checking, it was found that the female leatherback turtle was carrying out a nesting ritual.

“This is the first time I witnessed leatherback turtles go up and perform the nesting ritual. Unfortunately, the turtles do not reach the laying phase, this is usually due to natural factors (memeti) or there are indications of a disturbance. We have tried to minimize disturbances according to the Standard Operating Procedures (SOP) for monitoring, but it seems that natural factors are causing the turtles to not reach the egg-laying phase, even though they have already dug their body holes,” said Juhardi, a member of the Wahana Bahari Paloh Pokmas (Community Group) who is also an enumerator. BPSPL Pontianak Turtle. The team then conducted data collection according to the SOP, which was to measure the leatherback turtle. It was recorded that the length of the carapace arch was 174 cm, the width of the carapace arch was 114 cm, with a trace width of 194 cm, as well as taking photos of the turtle's body for identification purposes.

In the process of laying eggs, turtles usually explore the coastal area where they lay their eggs first, if it is comfortable, the turtles will return again in a few days to build a nest and lay their eggs. The Paloh Turtle Monitoring Team hopes to meet this leatherback turtle again, and be able to witness it laying eggs. Turtle nests and eggs will be well guarded so that they can hatch and the hatchlings can safely return to the sea. The appearance of this miracle is a good sign of turtle conservation efforts in Paloh. It is hoped that the leatherback turtle population can increase, and more and more leatherback turtles will return to Paloh Beach so that they become proud of the team and the people of Paloh.

Notes:

  1. Data on the discovery of leatherback turtles on Paloh coast and waters:
  2. Stranding dan mati : March 7, 2011 at Paloh Beach, Sebubus Village, Paloh
  3. Bycatch : March 8, 2013 around the waters of Tanjung Flag Beach, Temajuk Village, Paloh
  4. Bycatch : March 31, 2021 around the sea Village Kalimantan - Arung Parak, Paloh
  5. Naik dan Memeti : September 15, 2021 at Paloh Beach, Sebubus Village, Paloh

____________________________________________________________________________________________________________________________________________

KEAJAIBAN ITU DATANG, "RAKSASA PURBA" KEMBALI KE PANTAI PALOH

Rabu (15/9) tengah malam, Tim Monitoring Penyu Paloh terpaku melihat sesosok hitam besar perlahan bergerak di pasir. Seekor penyu belimbing, satu jenis penyu yang konon puluhan tahun lalu menjadikan Pesisir Paloh sebagai tempat peneluran, malam itu terlihat merambat di pasir. Tubuhnya berat, sepertinya penuh telur yang mau dikeluarkan. Setelah 13 tahun rutin berpatroli, baru kali ini tim monitoring menyaksikan penyu belimbing kembali ke rumahnya.

Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, memiliki pantai peneluran penyu yang terhampar dari Camar Bulan di utara (perbatasan Indonesia-Malaysia) hingga Pantai Selimpai di selatan. Pantai berpasir putih ini adalah tempat warga beraktivitas sehari-hari sebagai nelayan, dan pernah menjadi jalur transportasi warga dari utara ke selatan.

Hamparan pasir panjang sekitar 63 kilometer ini merupakan satu di antara dua belas pantai peneluran utama penyu di Indonesia. Terdata setidaknya kurang lebih ada 3.700 pendaratan penyu per tahun, dan hampir setengahnya melakukan kegiatan peneluran. Empat dari enam jenis penyu yang berada di perairan Indonesia ditemukan di kawasan perairan maupun pesisir pantai Kecamatan Paloh, penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).





Penyu hijau merupakan jenis yang paling sering dijumpai atau sekitar 98 persen dari total penyu yang naik ke Pesisir Paloh, 2 persen sisanya terdiri dari penyu sisik dan penyu lekang. Sementara yang paling sulit dilihat – serta dibutuhkan keajaiban dan keberuntungan besar – adalah penyu belimbing. Dalam 13 tahun terakhir, penyu belimbing hanya ditemukan tiga kali, itu pun dalam keadaan mati terdampar atau tertangkap tidak sengaja oleh nelayan (bycatch) di laut.

Keajaiban datang di malam itu, sekitar pukul 00.45 WIB di sektor 4 Pantai Sungai Belacan, atau sekitar 2 kilometer dari Pos Monitoring Penyu Sungai Belacan Paloh. Satu individu penyu belimbing mendarat untuk melakukan ritual peneluran. Selama 60 menit, penyu besar itu menjajagi pantai, kemudian kembali lagi ke laut.

Tim Monitoring Penyu Paloh, saat itu terdiri dari Enumerator BPSPL Pontianak dan 7 Mahasiswa Ilmu Kelautan FMIPA UNTAN yang sedang melaksanakan program magang, melakukan patroli pemantauan rutin pendataan penyu. Mereka awalnya menemukan jejak penyu yang tidak biasa, jejak tersebut berukuran dua kali lebih besar dari jejak penyu hijau. Setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, tenyata ditemukan induk betina penyu belimbing sedang melakukan ritual peneluran.

“Ini pertama kali saya menyaksikan penyu belimbing naik dan melakukan ritual peneluran. Sayangnya penyu tidak sampai pada fase bertelur, hal ini biasanya disebabkan faktor alami (memeti) maupun ada indikasi gangguan. Kami sudah berupaya meminimalisir gangguan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) pemantauan, namun nampaknya faktor alami yang menyebabkan penyu tidak sampai pada fase bertelur, padahal sudah sampai menggali lubang badan” ujar Juhardi, Anggota Pokmas (Kelompok Masyarakat) Wahana Bahari Paloh yang juga sebagai Enumerator Penyu BPSPL Pontianak. Selanjutnya Tim melakukan pendataan sesuai SOP, yaitu mengukur penyu belimbing tersebut. Terdata panjang lengkung karapas 174 cm, lebar lengkung karapas 114 cm, dengan lebar jejak 194 cm, serta mengambil foto bagian tubuh penyu untuk keperluan identifikasi.

Dalam proses peneluran, penyu biasanya menjajagi kawasan pantai tempatnya bertelur terlebih dahulu, jika dirasa nyaman, penyu akan kembali lagi dalam beberapa hari untuk membangun sarang dan meletakkan telurnya. Tim Monitoring Penyu Paloh berharap akan berjumpa lagi dengan penyu belimbing ini, dan bisa menyaksikannya bertelur. Sarang dan telur-telur penyu akan dijaga dengan baik, agar bisa menetas dan tukik-tukik bisa selamat kembali ke laut. Munculnya keajaiban ini, menjadi tanda yang baik dari upaya konservasi penyu di Paloh. Harapannya populasi penyu belimbing dapat meningkat, dan semakin banyak penyu belimbing yang kembali datang ke Pantai Paloh, agar menjadi kebanggaan untuk Tim dan masyarakat Paloh.


Catatan:

Data penemuan Penyu Belimbing di Pantai dan Perairan Paloh : 

  1. Stranding dan mati: 7 Maret 2011 di Pantai Paloh, Desa Sebubus, Paloh
  2. Bycatch: 8 Maret 2013 di sekitar perairan Pantai Tanjung Bendera, Desa Temajuk, Paloh 
  3. Bycatch: 31 Maret 2021 di sekitar laut Desa Kalimantan - Arung Parak, Paloh 
  4. Naik dan memeti: 15 September 2021 di Pantai Paloh, Desa Sebubus, Paloh


  



Cerita Terkini

Festival PARARA 2019 Dorong Konsumsi Pangan Lokal

Jakarta, 29 November 2019 – Sebanyak 85 lebih komunitas lokal dari seluruh nusantara akan hadir di Festival...

Michael Adopsi Lebih Dari 1.000 Pohon MyBabyTree Demi Konservasi

Oleh: Natalia Trita Agnika“Jujur, awalnya saya tidak terlalu peduli terhadap lingkungan hidup. Namun kemudian h...

Yuk, Berwisata Sambil Jaga Lingkungan di 3 Desa Ekowisata Alor Ini!

Ada yang istimewa dari ajang pameran pariwisata Expo Alor tahun ini (20/09/2018). Alor memperkenalkan 3 destinasi...

Get the latest conservation news with email