Kembali

© Yayasan WWF Indonesia / Andy A. Romadhoni

 



STUDY OF LIMESTONE EXTRACTION PLAN IN MARATUA ISLAND FOR CORAL REEF REHABILITATION OF DERAWAN ISLAND

Posted on 15 March 2022
Author by Suryaningsih

Berau (14/01/2022)—WWF Indonesia, together with Muhammadiyah Berau University, studied the limestone extraction plan in Maratua Island for coral reef rehabilitation of Derawan Marine Protected Area (MPA), Berau Regency, on January 10 to 14, 2022. This activity aims to support Derawan MPA management through coral reef ecosystem rehabilitation by using artificial reefs called rock pile that utilizes limestone material. The ecosystem rehabilitation will be done in degraded areas, like the coastal and marine.

The rock pile is an effective coral reef restoration method to stabilize rubble area and substrate by utilizing rock pile/limestone. The advantages of this method are using simple treatment, preventing the introduction of invasive species (as there is no coral transplantation use), and using local resources. The rock pile will be installed in Zone II A Tebba Binga and Zone II B Gusung Senggalau, Derawan Island. The limestone resources that will be used are available on Maratua Island. 

This study assesses risk by observing possible effects on the ecosystem and biodiversity, including alternative ways. So there will not be any biodiversity function/existence loss or the changes that occur in social and biophysical conditions.  

The survey was done in four villages on Maratua Island; Payung-Payung, Teluk Harapan, Teluk Alulu, and Bohe Silian. Information and data collection method are carried out by conducting in-depth interviews with stakeholders and local communities, executants, and users of limestone material, as well as conducting field monitoring.


Picture 1. Interview and Observation of limestone condition in Payung-Payung Village, Maratua Island

The provisional results of this study stated that most Maratua Island communities use limestone as a building material, road construction, also selling and buying activities. Limestone extraction has been carried out using simple tools like a crowbar and hammer, then transported using a cart or pick-up car. Limestone is only taken and utilized by the community on the land.

The limestone natural resource is spread over four villages on Maratua Island. The local community of Maratua Island has been using limestone for a long time and has not felt any harmful effects. Limestone extraction in Maratua Island is carried out on a small scale by the Family Head and is used for personal needs. However, some people use limestone for selling and buying activities by becoming masons and doing limestone extraction activities alone. The average amount of limestone taken is 2-4 cubic/day.


Picture 2. One of the limestone piles that spread over Maratua Island

The limestone extraction will only be done if there is a customer's order, then the mason will begin to survey the location and the condition of the limestone to be taken. On average, the existing land is owned by individuals. So the masons who will dig up the ground should have an agreement with the land owner of around IDR 15.000,- up to IDR 20.000,-/cubic to be given to the land owner. The limestone should be easily separated from the soil structure, even using a crowbar. In the limestone extraction process, there is no tree logging to clear the land, but getting rid of the existing wild grasses. The selling price of limestone is around IDR 200,000, - up to IDR 350.000/cubic. Abundant limestone stock in Maratua Island can be seen in various places evenly. In some communities, the houses are located on limestone land, or at least, every house on the mainland has limestone land, making it easy to get. 

The great limestone potential can be one of the main recommendations for coral reef rehabilitation. It can utilize abandoned limestone or those provided by the community, so there is no new clearing land for limestone extraction. According to the Lecturer of Environmental Engineering of Muhammadiyah Berau University, Sufriady Syam, the team leader of the study, "To improve the quality of coastal and marine ecosystems, and to reduce anthropogenic pressure on coral reef ecosystems in Derawan MPA, the right natural material to use for coral rehabilitation is the limestone from Maratua Island. It aims to accelerate the process of restoring the reef's function in forming a strong community. The rock pile method is the choice of coral reef rehabilitation based on considerations of material durability and availability, considering the structure of the reef limestones, as well as paying attention to the surface texture (coarse aggregate) with holes (interstitial spaces). So that the limestone structure is declared "safe" and "feasible" to be used as natural material in coral reef rehabilitation activities in Derawan MPA, Berau Regency."

It is hoped that using limestone on Maratua Island will not harm the environment and society. So that coral reef rehabilitation using the limestone method in Derawan MPA can be carried out and provide benefits for the environment and surrounding communities. WWF Indonesia will also carry out several activities. They are Manta Tow Surveys and Coral Recruitment to determine specific locations for coral reef rehabilitation, workshops about rehabilitation introduction, and coral reef monitoring activities in Derawan MPA by involving relevant partners and local communities.

_______________________________________________________________________________________________________________


Kajian Dampak Batu Kapur di Pulau Maratua

Berau (14/01/2022)—Yayasan WWF Indonesia bersama dengan Universitas Muhammadiyah Berau telah melaksanakan Kajian Dampak Rencana Pengambilan Batu Kapur di Pulau Maratua untuk Rehabilitasi Terumbu Karang di Kawasan Konservasi Perairan dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KDPS) Kabupaten Berau pada tanggal 10 sampai dengan 14 Januari 2022. Kegiatan ini merupakan upaya dalam mendukung pengelolaan KKP3K KDPS melalui rehabilitasi ekosistem terumbu karang yang telah mengalami degradasi di wilayah pesisir dan laut dengan menggunakan metode terumbu karang buatan (artificial reef) yaitu rock pile dengan memanfaatkan material batu kapur.

Rock pile merupakan metode restorasi terumbu karang yang efektif untuk menstabilkan areal patahan karang (rubble) dan substrat dengan memanfaatkan tumpukan batu alam/batu kapur. Keuntungan dari metode ini adalah perawatannya sederhana, mencegah masuknya spesies invasif (karena tidak ada penggunaan transplantasi karang), dan menggunakan sumber daya alam lokal. Pemasangan rock pile akan dilakukan di Pulau Derawan pada Zona II A Tebabinga dan II B Gusung Sanggalau. Sumber material batu kapur yang akan digunakan tersedia di Pulau Maratua.

Kajian ini bertujuan untuk melakukan penilaian resiko, dengan melihat kemungkinan dampak dari kegiatan terhadap ekosistem dan keanekaragaman hayati termasuk didalamnya alternatif yang harus dijalankan agar tidak ada kehilangan fungsi/eksistensi keanekaragaman hayati maupun perubahan-perubahan yang terjadi pada kondisi sosial dan biofisik.

Kegiatan survei ini dilakukan di empat kampung yang ada di Pulau Maratua, yaitu Kampung Payung-Payung, Teluk Harapan, Teluk Alulu, dan Bohe Silian. Metode pengambilan data dan informasi dilakukan dengan menggunakan pendekatan wawancara mendalam dengan mitra terkait dan masyarakat lokal, pelaku, dan pengguna material batu kapur, serta pengamatan langsung di lapangan.

Gambar 1. Interview dan observasi terkait kondisi batu kapur di Kampung Payung-payung, Pulau Maratua

Hasil sementara kajian ini menyatakan bahwa mayoritas masyarakat Pulau Maratua memanfaatkan batu kapur sebagai bahan bangunan rumah, bahan pembuatan jalan, dan untuk kegiatan jual beli. Pengambilan batu kapur yang selama ini dilakukan masih sederhana menggunakan linggis dan tukul, lalu diangkut menggunakan gerobak atau mobil angkut (pick up). Batu kapur yang diambil dan dimanfatkan oleh masyarakat hanya yang berada di daratan.

Sumber daya alam batu kapur ini tersebar di empat kampung yang ada di Pulau Maratua. Masyarakat Pulau Maratua sudah lama memanfaatkan batu kapur dan sejauh ini tidak merasakan dampak buruk dari pengambilan batu kapur tersebut. Pengambilan batu kapur di Pulau Maratua dilakukan dengan skala kecil oleh masing-masing Kepala Keluarga (KK) dan digunakan untuk kebutuhan pribadi. Namun, ada juga masyarakat yang memanfaatkan batu kapur untuk kegiatan jual beli dengan menjadi tukang batu dan melakukan kegiatan pengambilan batu kapur hanya seorang diri. Rata-rata jumlah batu kapur yang diambil adalah sebanyak 2-4 kubik/hari.

Gambar 2. Salah satu tumpukan batu kapur yang tersebar di Pulau Maratua

Penggalian batu kapur hanya dilakukan saat ada pemesanan, kemudian tukang batu akan mulai melakukan survei lokasi dan kondisi batu kapur yang akan diambil. Rata-rata lahan yang ada merupakan milik perseorangan, sehingga tukang batu yang akan menggali di lahan tersebut harus membuat kesepakatan bagi hasil dengan pemilik lahan sekitar Rp. 15.000,- hingga Rp. 20.000,-/kubik untuk diberikan kepada pemilik lahan. Batu kapur yang diambil adalah batu-batu yang dapat dengan mudah lepas dari struktur tanah dengan hanya menggunakan linggis. Dalam proses pengambilan batu kapur tidak ada penebangan pohon untuk membuka lahan, namun tetap melakukan pembersihan rumput-rumput liar yang ada. Harga jual batu kapur berkisar Rp. 200.000,- sampai dengan Rp. 350.000/kubik.Stok batu kapur yang melimpah di Pulau Maratua, dapat dilihat di berbagai tempat batu kapur tersebar secara merata, bahkan rumah warga juga berada di atas lahan batu kapur atau setidaknya setiap rumah yang ada di daratan memiliki lahan batu kapur sehingga untuk mendapatkan batu kapur tidak sulit. 

Potensi batu kapur yang melimpah tersebut dapat menjadi salah satu rekomendasi bahan pokok rehabilitasi terumbu karang dengan memanfaatkan batuan kapur yang terbengkalai atau yang telah disediakan oleh masyarakat agar tidak terjadi pembukaan lahan baru untuk pengambilan batu kapur. Menurut Dosen Teknik Lingkungan dari Univeristas Muhammadiyah Berau Sufriady Syam selaku Ketua tim yang melakukan kajian ini, “Dalam upaya meningkatkan kualitas ekosistem pesisir dan laut serta untuk mengurangi tekanan antropogenik pada ekosistem terumbu karang di KKP3K-KDPS, bahan yang tepat digunakan sebagai bahan alami adalah batu kapur dari lokasi sumber Pulau Maratua.  Hal ini bertujuan untuk mempercepat proses pengembalian fungsi terumbu membentuk komunitas kokoh. Metode rock pile menjadi pilihan restorasi terumbu karang atas pertimbangan aspek daya tahan dan ketersediaan bahan, mempertimbangkan struktur penyusun batu gamping terumbu, serta memperhatikan tekstur permukaan (agregat kasar) berlubang-lubang (interstitial spaces), sehingga struktur batu kapur ini dinyatakan “aman” dan “layak” digunakan sebagai material alami pada kegiatan rehabilitasi terumbu karang di KKP3K KDPS Kab. Berau.”

Harapannya pemanfaatan batu kapur di Pulau Maratua ini tidak memberikan dampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat, sehingga rehabilitasi terumbu karang menggunakan metode batu kapur di KKP3K KDPS dapat dilakukan dan memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Dalam rangkaian proses pemasangan rock pile, Yayasan WWF Indonesia selanjutnya akan melakukan beberapa kegiatan diantaranya survei Manta Tow dan Rekrutmen Karang untuk penentuan lokasi spesifik rehabilitasi terumbu karang serta workshop pengenalan rehabilitasi dan monitoring terumbu karang di KKP3K KDPS melibatkan mitra terkait dan masyarakat lokal.


Cerita Terkini

Peran Aktif Masyarakat Dukung Keberlangsungan Hidup Hiu di Laut Mangga

Labuan Bajo, 28 Agustus 2020. Perairan Kabupaten Manggarai Barat, termasuk di dalamnya kawasan Taman Nasional Komo...

Food of the Archipelago, Indonesia

https://www.youtube.com/watch?v=6Eb6I73Z4pA...

Ancaman Serius Jerat Pemburu

Oleh: Nur Arinta Beberapa waktu yang lalu, dunia konservasi tengah berduka akibat ditemukannya satu individu ...

Get the latest conservation news with email