Kembali

© USAID SEA/WWF-Indonesia/Jumardin

.



Ikan Melimpah, Masyarakat Desa Labuan Memancing di Pesisir Pantai

Posted by Nur Arinta on 21 May 2020
Author by Jumardin

Suasana pagi itu, begitu tenang, sunyi dan sepi. Salah satu masyarakat di Desa Labuan berjalan menyusuri pesisir pantai dan melihat banyaknya ikan melompat dan bergerombol di dekat pesisir pantai, ia pun terkejut karena sudah sejak lama tidak ada lagi ikan-ikan di pesisir pantai. Muhamad Amin Makutuin biasa di panggil Amin adalah seorang petani kasbi (singkong) berumur 69 tahun yang tidak memiliki keahlian memancing ikan pun turut ikut memancing karena melihat banyaknya ikan di pesisir pantai Desa Labuan. 

Beta (saya) sangat senang barang (karena) ikan-ikan banyak dekat pantai, jadi katong (kami) seng (tidak) mangael (memancing) jauh-jauh lae (lagi), selain itu katong yang seng punya body (kapal) bisa mangael dekat-dekat saja” ujar Amin dengan sangat antusias.

Melimpahnya ikan pada bulan November 2019 membuat semua masyarakat berbondong-bondong ke pantai untuk memancing ikan dari mulai anak-anak, bapak-bapak maupun ibu-ibu semua ikut memancing. Mereka senang karena pada bulan tersebut, ikan melimpah di sekitar pesisir pantai Desa Labuan, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah yang juga berseberangan dengan Pulau Tujuh.

Hasil tangkapan ikan dari memancing di pesisir pantai Desa Labuan pada bulan November ini bermacam-macam, jenis ikan sarden, kembung, layang, barakuda, bubara, tongkol dan bahkan ikan tenggiri pun didapat oleh masyarakat. Pada bulan sebelumnya, nelayan melakukan penangkapan ikan lebih jauh dari garis pantai dengan jarak ±5.8 mil, berbanding jauh dengan bulan November nelayan hanya perlu menangkap ikan di sekitaran pantai Desa Labuan.

Sejak tahun 2000, ikan-ikan yang bermain disekitar pantai sudah tidak terlihat lagi, hal ini diakibatkan adanya aktivitas penangkapan ikan yang merusak pada tahun 1998-2008. Berdasarkan keterangan dari ketua Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas) Pantura yaitu Miyono Musasir, adanya penggunaan alat tangkap bom dan potas yang dilakukan selama ini, mempengaruhi habitat biota laut di Perairan Pulau Tujuh sebagian telah hancur, ditambah lagi penangkapan hewan laut dilindungi yang sering dilakukan oleh masyarakat setempat.

“Dulu sebelum tahun 1998 ikan-ikan di katong pung kampong (di kampung kami) paling banyak, bahkan katong orang kampong sini tangkap ikan pake (menggunakan) tangan kosong dan saparu (separuh) pake kain khususnya mama-mama dan ade-ade (ibu-ibu dan anak-anak) yang barmaing (bermain) di pinggir pante (pantai). Dulu itu katong seng susah (kami tidak susah) mangael dan ikan masih banyak tabuang (terbuang) bagitu (begitu) saja, tapi sekarang ini katong su susah (sudah susah) makan ikan dan su jauh (sudah jauh) menangkap ikan,” ujar La Ngkone Letahiit salah satu nelayan di Desa Labuan. 

Icha Ponto, seorang istri dari Kepala Desa Labuan yang kesehariannya suka memancing ikan di sekitar pesisir pantai Desa Labuan, menceritakan banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh nelayan Labuan maupun dari luar, sejak adanya sosialisasi dari WWF-Indonesia sebagai mitra pelaksana dari Proyek USAID SEA, mulai ada perubahan yang terlihat. “Tadinya dorang (mereka) seng tau dampak dari menangkap ikan yang merusak dan dapat berakibat kurangnya ikan-ikan di laut, sekarang dorang su paham dan mengerti akibat yang dilakukan selama ini, beta sangat bersyukur sekali bisa mangael di dekat pantai dan tidak jauh dari beta pung rumah. Semoga katong lia ikan banyak lae di laut kampung Labuan, katong masyarakat deng nelayan bisa lebe sadar untuk jang tangkap ikan pake alat yang biking rusak lae” ujarnya.

Berkurangnya pelanggaran perikanan juga didukung dengan adanya Pokmaswas Pantura serta pejuang laut di Desa Labuan yang terus-menerus memberikan pemahaman dan ajakan agar tidak melakukan hal yang merusak seperti yang pernah nelayan Labuan lakukan selama ini. Pokmaswas Pantura di Desa Labuan terbentuk untuk membantu pengawasan di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Serutbar (Seram Utara dan Seram Utara Barat) dan mendukung program yang dimiliki oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku. Pembentukan Pokmaswas ini juga berdasarkan UU Perikanan No. 31 tahun 2004 pada Pasal 67 yang menyatakan bahwa masyarakat dapat dilibatkan dalam membantu pengawasan perikanan, sehingga perlu adanya keterlibatan dari masyarakat setempat karena melihat maraknya pelaku perikanan yang tidak ramah lingkungan dan penangkapan hewan laut yang terancam punah dan dilindungi yang terjadi di Perairan Pulau Tujuh.


Cerita Terkini

Tarakanita Gading Serpong Belajar Keanekaragaman Hayati Bersama Panda

Pada 26 Juli 2019, Panda Mobile WWF-Indonesia berkunjung ke SMA Tarakanita Gading Serpong, Tangerang. Sekolah swas...

Sekolah Tzu Chi dan Panda Mobile Ajak Siswa Dukung Pelestarian Alam

Senin, 15 Juli 2019 adalah hari pertama sekolah bagi sebagian besar siswa di seluruh Indonesia. Biasanya, sekolah-...

Panthera tigris sondaica, Si Harimau Indonesia

Oleh: Nur Arinta Dunia selama ini mengenal ada sembilan subspesies harimau, yakni Harimau Indochina (Pan...

Get the latest conservation news with email