Kembali

© Administrator

Administrator



Haum!! Ada Harimau Masuk Pesantren

Posted by Anastasia Joanita on 01 August 2019
Author by WWF-Indonesia/Fitriani Dwi Kurniasari

Suasana berbeda terlihat di pesantren Syekh Burhanuddin- Kuntu, Kampar Kiri pagi itu. Sekitar 40 santri dengan atribut beraneka warna terlihat berbaris rapi di depan gerbang. Penampilan mereka pun lain daripada biasanya. Ada yang wajahnya sudah dilukis cat oranye dengan loreng khas hitam dan putih khas harimau. Ada pula yang memakai atribut kreatif dengan tulisan dan gambar satwa. Lalu, tanpa dikomando, tiba-tiba mereka berteriak lantang, “Global Tiger Day! Aksi kita, untuk Harimau kita!” teriak adik-adik santri itu. Wah pada pada mau ngapain sih mereka?

Bertepatan dengan perayaan Global Tiger Day 2019, relawan dari komunitas Tiger Heart Riau, Earth Hour Pekanbaru and River Ambassador mengajak santri-santri dalam rangkaian kegiatan pendidikan lingkungan, yang dilaksanakan pada 28-29 Juli 2019. Kegiatan Pendidikan Lingkungan ini pun dilaksanakan di dua lokasi berbeda. Pada hari pertama, dilaksanakan di Pondok Pesantren Syekh Burhanuddin di Deesa Kuntu Darussalam, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar dan kedua di Pesantren Miftahul Khairiyah Ummah di Desa Koto Baru, Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi.

Eko Jatmiko, koordinator Tiger Heart Riau mengatakan, bahwa tujuan perayaan Global Tiger Day di pesantren ini untuk mengajak adik-adik santri berperan aktif dalam kegiatan lingkungan. “Kami ingin menularkan semangat untuk peduli dengan lingkungan sekitar kepada adik-adik santri. Harapannya ada generasi penerus yang dapat meneruskan semangat konservasi,” ujar Jatmiko.

Menurut Antika Fardilla dari WWF-Indonesia, terpilihnya pesantren Syekh Burhanuddin dan Miftahul Khairiyah Ummah menjadi lokasi pendidikan lingkungan sekaligus perayaan peringatan Global Tiger Day 2019 adalah karena anak-anak Desa Kuntu dan Koto Baru merupakan representatif dari anak-anak Rimbang Baling,  yang hampir 95% tinggal di desa-desa penyangga ekosistem Rimbang Baling. Kedepannya, jika anak-anak ini telah selesai melakukan pendidikannya di pesantren, dapat kembali ke desa mereka untuk meyebarkan semangat positif untuk menjaga kelestarian alam Rimbang Baling.

“Tujuannya untuk menanamkan edukasi sedari dini agar mereka lebih peduli dengan alam sendiri. Kenapa pesantren, karena sebelumnya kegiatan pendidikan lingkungan dilakukan di sekolah umum. Dan di kegiatan ini kami juga bekerjasama dengan para dai dari wilayah Rimbang Baling yang tergabung dalam FORKODAS (Forum Komunikasi Da’i Konservasi Rimbang Baling) untuk mengenalkan konservasi melalui pendekatan agama. Hal ini sejalan dengan upaya perlindungan satwa langka yang telah difatwakan oleh MUI pada tahun 2014.” lanjut Antika.

Rangkaian acara di hari pertama pada 28 Juli di Desa Kuntu dimulai dari pemutaran film pendek tentang Rimbang Baling di pondok pesantren. Kemudian dilanjutkan dengan pawai dan  kegiatan ‘Explore the Nature’. Nah, santri-santri yang tadi berbaris dengan memakai atribut tersebut sedang bersiap-siap melakukan pawai keliling desa. Pawai berlangsung meriah, karena sepanjang perjalanan, santri-santri tidak putus-putusnya menyanyikan yel-yel kreatif hasil ciptaan mereka sendiri. Rute pawai pun berakhir di Sungai Siantan sebagai lokasi ‘Explore the Nature’.

Sungai Siantan yang mengalir di Desa Kuntu, merupakan anak Sungai Subayang yang terbentang di sepanjang kawasan hutan Bukit Rimbang - Bukit Baling. Desa Kuntu ini sendiri merupakan salah satu desa penyangga ekosistem Suaka Margasatwa Rimbang Baling yang memiliki kantong populasi harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Di sungai Siantan ini lah masing-masing perwakilan dari komunitas Tiger Heart, Earth Hour dan River Ambassador memberikan materi edukasi lingkungan untuk para santri.

Pemateri Laura dan Farid dari Tiger Heart Riau menjelaskan peranan rantai makanan dalam ekosistem. Sementara Yeni dan Aulia dari River Ambassador mengajak para santri untuk praktek langsung mengamati kualitas air sungai. Fitriani dari WWF-Indonesia mengajak santri untuk mengidentifikasi nama ilmiah jenis pepohonan serta manfaatnya yang berada di sepanjang Sungai Siantan. Pendidikan lingkungan di sungai berlangsung seru karena peserta begitu antusias dalam mengikuti setiap materi yang diberikan.

Di hari kedua, yakni bertepatan dengan puncak perayaan Global Tiger Day pada 29 Juli, kegiatan serupa juga dilaksanakan di Pesantren Miftahul Khairiyyah Ummah di Desa Koto Baru, Kecamatan Singingi Hilir. Kali ini, Irfan dari Tiger Heart Riau yang bercerita tentang harimau Sumatera. Aulia dari River Ambassador kemudian menjelaskan tentang kualitas air dan Ulya dari Earth Hour Pekanbaru memberikan tips untuk memulai green lifestyle.

Pada akhir acara saat refleksi kegiatan, para santri pun saling unjuk gigi menunjukkan kebolehan mereka. Santri putri khususnya, mereka dengan semangat menampilkan puisi-puisi indah bertema lingkungan yang terinspirasi dari rangkaian materi edukasi hari itu. Salah satu peserta mengatakan bahwa ia sangat senang dengan adanya acara pendidikan lingkungan yang diberikan hari itu. Mereka belajar bahwa menjaga alam itu sangat penting karena jika lingkungan rusak, maka keseimbangan alam pun dapat terganggu. Acara kemudian ditutup dengan penanaman pohon di pesantren Miftahul Khairiyyah Ummah oleh perwakilan dari masing-masing komunitas Tiger Heart Riau, Earth Hour Pekanbaru, River Ambassador dan WWF.


Cerita Terkini

Sungai Sebagai Sumber Energi Terbarukan di Kalimantan Utara

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) merupakan salah satu energi terbarukan selain tenaga surya, biomassa ...

Setahun Moratorium Sawit, Menyusun Langkah Strategis Implementasi

Jakarta, 10 Oktober 2019 – Pada 19 September 2018, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengeluarkan kebijaka...

Pendidikan Lingkungan dan Pengembangan Mata Pencaharian Berkelanjutan

Sumatera merupakan salah satu pulau yang memiliki keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia ini, namun telah ke...

Get the latest conservation news with email