Kembali

© Administrator

Administrator



Harimau Sumatera dan Legenda

Posted by Nur Arinta on 24 July 2019
Author by Nur Arinta

Indonesia dikenal dengan negara sejuta budaya berbeda yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Maka tak heran di Indonesia terdapat banyak sekali bahasa, bentuk rumah adat, baju daerah, hingga kisah legenda dan mitos-mitos yang merebak di masyarakat dan tersebar secara turun temurun. Bila dunia Barat memiliki mitos tentang manusia dan serigala, sejumlah daerah di Indonesia hidup dengan legenda yang bersinggungan dengan harimau.

Sejak dulu di Sumatera, manusia telah lama hidup berdampingan dengan harimau. Masyarakat di sana menghormati satwa berkharisma ini. Berdasarkan kisah legenda, hubungan antara manusia dan harimau mengandung dimensi spiritual, dan hal inilah yang melindungi keberadaan Harimau Sumatera di hutan Sumatera. 

Kita memulai cerita pertama dari Aceh. Masyarakat Aceh menyebut Harimau Sumatera dengan nama “rimueng”. Dilansir liputan6.com, Henri Carel Zentgraff, seorang penulis asal Belanda dalam bukunya yang berjudul “Atjeh” menyebutkan rimueng merupakan jelmaan dari harimau putih dan harimau hitam yang menjaga makam milik Teuku Cot Bada di daerah Pidie. Rimueng sesekali mendatangi makam itu menjelang magrib.

Bertolak ke Kerinci, masyarakat Kerinci memercayai bahwa Harimau Sumatera merupakan jelmaan “sahabat” dan “prajurit” dari para roh leluhur mereka. Harimau disebut Imaw Srabat atau Imaw Ulubalang yang tinggal di punggung-punggung bukit di dalam hutan, muara, dan hulu sungai. Imaw Srabat merupakan pelindung manusia, menjaga hutan dan menghalau satwa buas masuk ke pemukiman. Masyarakat Kerinci juga berkeyakinan bahwa harimau harus dihormati, sehingga pantang bagi siapa pun yang masuk ke dalam hutan dan menyebut “harimau”. Mereka harus menyebutnya dengan panggilan layaknya manusia, seperti “dio”, “diyau”, atau “hangtuo”. Penghormatan ini karena harimau dianggap makhluk yang telah lebih dulu menempati wilayah Kerinci jauh sebelum kedatangan manusia.

Bila masyarakat melihat ada Harimau Sumatera yang masuk ke dalam pemukiman, maka ini menandakan bahwa ada larangan adat dan hukum moral yang dilanggar oleh orang yang ada di pemukiman tersebut. Karena peran pentingnya sebagai penjaga kedamaian di tanah Kerinci ini, masyarakat kerap mengadakan ritual dan memberikan sesajian oleh pemangku adat setempat.

Tidak hanya itu, jika ada masyarakat yang menemukan harimau yang mati, mereka akan menggelar tarian yang disebut “Ngagah Harimau”. Tarian ini ditujukan untuk menghibur roh harimau dan dipentaskan sebagai kegiatan ritual agar harimau dan masyarakat tetap damai dan terjauh dari konflik. Dalam ritual Ngagah Harimau, syair dibacakan untuk tiga harimau yang disebut Mangku Gunung Rayo, Rintek Ujan Paneh, dan Ulu Balang Tagea. Ketiga harimau ini diyakini memiliki perjanjian dengan nenek moyang masyarakat Kerinci untuk menjaga keharmonisan kehidupan mereka.

Berbeda dengan masyarakat Kerinci, di Sumatera Utara, Harimau Sumatera dipanggil “Ompung” yang berarti kakek dalam bahasa Batak. Sebutan ini merupakan tanda hormat kepada orang yang dituakan. Terdapat pula legenda Batak “Babiat Setelpang” yang mengisahkan tentang harimau pincang yang menjaga ibu serta seorang anak yang diasingkan ke dalam hutan. Legenda ini secara tidak langsung mempengaruhi perilaku masyarakat di sana yang “meminta izin” saat memasuki hutan atau ladang kepada Babiat Setelpang sebagai penguasa hutan. Selain itu, masyarakat Batak Mandailing di sana juga percaya bahwa bila ada harimau memasuki pemukiman, itu artinya ada orang di pemukiman tersebut yang melakukan hal yang dilarang.

Bergeser ke tanah minang, di Minangkabau harimau disebut Datuak atau Inyiak  dan dipercaya sebagai roh leluhur mereka. Datuak pun menjadi inspirasi aliran ilmu bela diri di sana, yakni silek harimau (silat harimau). Bela diri tersebut menggunakan senjata yang disebut kurambik, yakni sejenis pisau kecil yang merepresentasikan cakar harimau. Terdapat pula mitos yang mengatakan bahwa pesilat yang menguasai silek harimau dapat berubah wujud menjadi harimau.

Harimau sangat lekat dengan budaya tanah Sumatera. Secara umum, masyarakat di Sumatera melihat satwa ini sebagai leluhur yang menjadi penjaga yang membuat kehidupan mereka aman dan terjauh dari marabahaya. Sayangnya, kearifan lokal ini mulai tergerus oleh zaman dan kebutuhan ekonomi, sehingga harimau justru terancam keberadaannya. Konflik antara harimau dan masyarakat semakin banyak terdengar, baik yang meminta korban manusia, atau lebih banyak lagi yang meminta korban harimau.

Sebagai satwa yang berkharisma, harimau telah menginspirasi banyak orang dan budaya, tak hanya di Indonesia namun juga di dunia. Dan tanpa kita sadari, harimau telah melekat dan menjadi bagian dari identitas banyak hal di Indonesia, khususnya di Sumatera. Sebagai masyarakat Indonesia, kita memiliki kewajiban untuk menjaga dan memastikan Harimau Sumatera tetap hidup lestari di habitatnya. Karena dengan lestarinya Harimau Sumatera di hutan Indonesia, berarti kita telah menjaga budaya warisan nenek moyang kita, menjaga satwa kebanggaan negara kita, dan menjaga identitas kita. 

Kalau harimau punah, akankah kita masih punya budaya dan legenda itu?


Cerita Terkini

TK Quantum Indonesia Mengenal Orangutan Melalui Permainan Engklek Bers

Oleh: Nabila Batari (Volunteer Panda Mobile)Terkadang kita lupa bahwa fungsi hutan bukan hanya untuk manusia,...

Panthera tigris sondaica, Si Harimau Indonesia

Oleh: Nur Arinta Dunia selama ini mengenal ada sembilan subspesies harimau, yakni Harimau Indochina (Pan...

Siswa SPH Karawaci Menonton Film Perlindungan Satwa Bersama Panda Mobi

Rabu (04/03) pagi, tim Panda Mobile WWF-Indonesia berkesempatan menyampaikan pesan konservasi dalam acara Soccer C...

Get the latest conservation news with email