Kembali

© Earth Hour Indonesia

.



Hari Orangutan Sedunia 2021: Berbicara Orangutan, Habitat, dan Gaya Hidup Manusia

Posted on 26 August 2021
Author by Samantha Aulia Ramadhanti

Hanya ditemui secara terbatas di beberapa wilayah Indonesia, Orangutan menjadi salah satu satwa liar yang dilindungi dan selalu menarik untuk diperhatikan. Banyak gerakan komunitas yang menyoroti upaya konservasi orangutan di Indonesia, salah satunya adalah Komunitas Earth Hour Indonesia yang berkolaborasi dengan Forum Orangutan Indonesia (FORINA) dalam perayaan Hari Orangutan Sedunia tahun ini dengan menyelenggarakan serangkaian kegiatan, yaitu Webinar dan Instagram Live yang melibatkan komunitas lokal dari Kalimantan Barat, ahli keanekaragaman hayati, ilmuwan, hingga influencer. Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 18 Agustus 2021 lalu melalui platform Zoom dan Instagram.

Rangkaian perayaan dimulai dengan kegiatan Webinar bertajuk "Restorasi Koridor, untuk Pelestarian Habitat Orangutan" yang juga berkolaborasi dengan Forum Konservasi Orangutan Kalimantan Barat (FOKKAB), Tim Restorasi Ngaung Keruh Lestari, dan LPHD Kalibandung, yang dilaksanakan melalui platform Zoom dan dihadiri oleh sekitar 140 peserta. Pada kegiatan webinar ini, narasumber yang dilibatkan adalah Pak Robertus Tutong dan Pak Usman, yang berasal dari Tim Restorasi Ngaung Keruh Lestari dan LPHD Kalibandung di Kalimantan Barat. Pak Tutong menyampaikan bahwa sebagai komunitas lokal yang hidup berdampingan dengan habitat orangutan, banyak sekali kegiatan yang telah dilakukan oleh Tim Restorasi Ngaung Keruh Lestari untuk menjaga dan merestorasi ekosistem hutan supaya tetap lestari, beberapa diantaranya adalah sosialisasi dan lokakarya tentang habitat, membangun pusat pembibitan, hingga rangkaian penanaman dan monitoring, yang tentunya menguntungkan untuk masyarakat setempat dan satwa liar, salah satunya orangutan. Sama seperti Pak Tutong, Pak Usman sebagai Ketua LPHD Kalibandung juga memaparkan usaha yang telah dilakukan masyarakat setempat, termasuk restorasi, intensifikasi lahan, patrol Kawasan, dan juga berkolaborasi dengan pemangku kepentingan lainnya dengan metode pentaheliks. 

Selanjutnya, sebagai penanggap, Prof. Ani Mardiastuti menyatakan bahwa kegiatan yang telah dilakukan oleh Pak Tutong dan Pak Usman merupakan pekerjaan yang sebetulnya penuh dengan tantangan, namun keduanya berhasil menjalankan restorasi habitat dengan kerjasama yang baik. Dalam tanggapannya, Prof. Ani menambahkan pentingnya menjaga koridor hutan demi kelangsungan hidup satwa hutan, seperti orangutan yang merupakan spesies payung di ekosistem hutan. Selaras dengan Prof. Ani, Ibu Sri Suci Utami juga menyatakan bahwa restorasi yang dilakukan sangat menantang, mengingat keadaan hutan yang berbukit, terlebih di daerah Pak Tutong di Ngaung Keruh. Menyentuh salah satu komponen penyusun ekosistem tempat tinggal orangutan, Ibu Suci memaparkan pentingnya peran liana dalam ekosistem hutan tropis dan bagaimana tumbuhan tersebut menjadi salah satu favorit orangutan, yang juga sangat bermanfaat untuk manusia dengan potensinya sebagai tumbuhan obat, sehingga dengan kata lain, Bu Suci menyatakan bahwa seluruh komponen penyusun habitat orangutan ini memberikan manfaat yang luar biasa, baik bagi orangutan dan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Rangkaian perayaan Hari Orangutan Sedunia dilanjutkan dengan kegiatan Live Instagram di laman Earth Hour Indonesia (@ehindonesia) bersama dengan ilmuwan dan spesialis orangutan dari FORINA, yaitu Didik Prasetyo, dan juga aktor sekaligus Nature Warrior, yaitu Arifin Putra. Selama kurang dari satu jam, siaran yang dimoderatori oleh Wibi dari Earth Hour Indonesia membahas mengenai sains dasar orangutan, serta bagaimana gaya hidup manusia mampu memengaruhi kelangsungan hidup orangutan, secara tidak langsung. Mas Didik mengatakan bahwa di masa pandemi Covid-19 saat ini, sangat mungkin untuk kita menularkan virus tersebut ke primata, termasuk orangutan, salah satu contoh kasus sudah terjadi di kebun binatang di Kebun Binatang San Diego, terhadap dua individu gorila. Menurut Arifin, sangat bijak jika ketika berhadapan dengan primata (dan juga hewan lain), untuk kita tidak menyentuh mereka untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang antar hewan ke manusia, dan sebaliknya. 

Sebagai aktor, Arifin Putra merupakan salah satu figur publik yang aktif dalam berkampanye mengenai perlindungan satwa liar dan gaya hidup berkelanjutan, dimana ia sadar akan pentingnya menyuarakan dan meningkatkan kesadaran publik dalam isu-isu tersebut, dan menjadi Nature Warrior merupakan salah satu jalan mengadvokasi dan menjadi inspirasi. Menurutnya, merubah gaya hidup menjadi lebih sadar dan berkelanjutan merupakan satu langkah paling awal dalam menjaga dan merawat lingkungan. Setuju dengan Arifin, Mas Didik menambahkan, bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan akan berdampak sangat besar untuk lingkungan yang bahkan jauh dari yang dapat kita lihat.


Cerita Terkini

CEO WWF-Indonesia Menjadi Pimpinan Inisiatif Global di Asia Pasifik

WWF-Indonesia Antusias Atas Penunjukan Rizal Malik sebagai Pimpinan Inisiatif Global “New Deal for Nature dan Pe...

Perayaan Para Penjaga Mangrove

Di Sungai Lueng, sebuah desa kecil di pinggiran hutan mangrove di Kota Langsa, Propinsi Aceh, masyarakat melakukan...

Mengulik Cerita di Pante Deere - Pt 1

Bagi Blue Traveler yang belum pernah menjelajahi Indonesia bagian timur, mungkin masih sedikit asing mendengar nam...

Get the latest conservation news with email