Kembali

© Yayasan WWF Indonesia / Yosua Mala Tours

 



Gerakan Pariwisata Bersama Masyarakat Desa Marisa, Pulau Kangge, Kepulauan Alor, Nusa Tenggara Timur

Posted on 27 September 2022
Author by Alda Rizkiani Nikmatila (Marine Tourism Officer for Alor MPA), Haries Sukandar (Site Coordinator for Alor MPA)

Setelah sempat terdampak pandemi Covid-19 dan meredup hingga dua setengah tahun lamanya, kini lambat laun sektor pariwisata perlahan mulai bangkit kembali. Sejumlah destinasi wisata di Indonesia kembali mengeliat, salah satunya wisata di Kepulauan Alor, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Tersusun atas pulau - pulau kecil, Kabupaten Alor memiliki pesona bahari yang cukup popular,  salah satu andalannya adalah Desa Marisa yang berada di Pulau Kangge.

Pulau Kangge memiliki daya tarik objek wisata yang beragam. Wisatawan yang datang ke kawasan ini disuguhi beragam aktivitas wisata seperti island hopping, snorkeling, diving, sport fishing, dan wisata mengamati mola-mola. Bila beruntung wisatawan juga dapat menemui gerombolan paus dan lumba-lumba yang muncul ke permukaan di perairan Desa Marisa. Beberapa pantai andalan yang sangat diminati wisatawan antara lain Pantai Wato Pattik (Batu Peti), dan Pantai Boluwai Lorok. Kawasan Perairan di Pulau Kangge ini masuk ke dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Daerah.

Untuk mendukung peningkatan pengelolaan potensi dan daya tarik wisata bahari di Kawasan Konservasi Daerah Selat Pantar dan Laut sekitarnya, Pemerintah Kabupaten Alor, bersama Yayasan WWF Indonesia dan PT Epson Indonesia, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT wilayah Kabupaten Alor dan masyarakat Pulau Kangge menjalankan program rehabilitasi terumbu karang. Program ini tak hanya dilakukan untuk memulihkan ekosistem karang, melainkan juga bertujuan  untuk melahirkan objek daya tarik wisata baru dengan konsep berkelanjutan. 

Masyarakat memiliki peran yang sangat vital dalam membangun pariwisata berkelanjutan. Masyarakat sebagai tuan rumah bertanggung jawab menyediakan beragam informasi dan mendampingi para wisatawan yang berkunjung, untuk dapat mewujudkan pengelolaan wisata yang ramah lingkungan sekaligus memberikan pengalaman berkesan. Salah satu upaya pengelolaan pariwisata berkelanjutan diwujudkan melalui pendampingan teknis, serta peningkatan kapasitas kepada masyarakat desa melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Marisa. 

Pokdarwis berpedoman pada semangat Sapta Pesona, yang memiliki tujuh unsur yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan. Dengan semangat Sapta Pesona, segala aktivitas wisata diharapkan mampu meningkatkan minat kunjungan wisatawan ke destinasi, tumbuhnya iklim usaha di sektor pariwisata, meningkatnya lapangan pekerjaan dan peluang pendapatan serta dampak ekonomi bagi masyarakat secara berkelanjutan. Pokdarwis merupakan solusi dari pernyataan mengenai pentingnya menyiapkan pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam mengelola destinasi wisata. 

Pokdarwis Desa Marisa merupakan salah satu komunitas lokal yang percaya bahwa pariwisata bisa memberikan dampak baik bagi kehidupan mereka. Dan mereka telah membuktikan bahwa prinsip yang mereka dorongkan dalam wisata yang berkelanjutan membawa keselamatan bagi alam dan para pelaku wisatawan yang berkunjung ke Desa Marisa, Pulau Kangge.

“Awalnya, warga hanya fokus sebagai nelayan, nah, dengan pendekatan pariwisata ternyata mampu memberikan dampak pendapatan ekonomi warga. Memang belum merata, tapi sudah jauh lebih meningkat, ditambah masyarakat mulai berangsur meninggalkan ilegal fishing untuk menjaga sumber daya alam di Pulau Kangge," ujar Rahmat Laba, salah satu anggota Pokdarwis.  

Momentum Hari Pariwisata Sedunia, menjadi momentum penting bagi kita semua untuk menyamakan pandangan tentang baimana mengimplementasikan wisata yang berkelanjutan dengan menjadi Blue Traveler,  yaitu kategori konsumen pariwisata yang mampu menciptakan tren, permintaan atau kebutuhan pada ecotourism seperti digital savvy, consider travelling, millennial traveller. Sehingga, selain berwisata para traveler ini dapat menyebarluaskan pesan-pesan untuk dapat lebih memperhatikan aspek lingkungan, menghormati adat, sosial, dan budaya setempat. 

Kunjungi website Signing Blue untuk melihat lebih lanjut destinasi dan usaha pariwisata yang bertanggung jawab di Indonesia: www.signingblue.com 



Cerita Terkini

STUDY OF LIMESTONE EXTRACTION PLAN IN MARATUA ISLAND FOR CORAL REEF RE

Berau (14/01/2022)—WWF Indonesia, together with Muhammadiyah Berau University, studied the limestone extraction ...

Lepaskan Penyu, Lepaskan Ancaman Terhadap Ekologi Laut

Oleh: Syarif Yulius Hadinata / WWF-Indonesia Inner Banda Arc Subseascape (21/1) Balai Konservasi Sumber ...

Pesut

Pesut (Orcaella brevirostris) adalah spesies mamalia air yang menghuni wilayah perairan tropis dan sub-tropis di ...

Get the latest conservation news with email