Kembali

© Yayasan WWF Indonesia

.



Foto Pilihan: Oktober 2021

Posted on 27 October 2021

PENJAGA HARIMAU

Hermanto, atau akrab dipanggil Bang Gebok, terlahir setengah abad lalu di komunitas Suku Melayu asli Riau. Ia tinggal di Pematang Reba, Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Di masa lalu, Bang Gebok pernah berprofesi sebagai perambah hutan, namun sejak 2005 ia tak lagi masuk hutan untuk menebang kayu, ia mengubah pandangannya tentang hutan dan bergabung sebagai tenaga lokal Tim Riset dan Monitoring Harimau Yayasan WWF Indonesia. Sejak saat itu Bang Gabok mendedikasikan dirinya untuk mendukung upaya konservasi Harimau Sumatera di Rimbang Baling. Setiap bulan, 2-3 minggu ia habiskan bersama tim untuk masuk hutan, memeriksa kamera-kamera jebak yang dipasang untuk monitoring Harimau Sumatera.⁣⁣⁣⁣

Foto ini, diambil oleh Febri Anggriawan Widodo pada bulan Maret 2017 di Blok III pemasangan SM Bukit Rimbang Bukit Baling. Kegiatan ini masuk dalam rangkaian proses pemasangan kamera jebak atau camera trap secara sistematis menyeluruh (full coverage) pertama di SM Bukit Rimbang Bukit Baling yang dilakukan pada tahun 2016-2018. Pemasangan kamera jebak secara menyeluruh ini membutuhkan total waktu hingga 20 bulan, di 142 titik pemasangan, dengan memasang 284 buah kamera jebak.⁣⁣⁣⁣

Kamera jebak adalah perangkat optik otomatis yang mampu merekam objek yang melintasinya secara otomatis, yang dapat memberikan informasi baik secara visual maupun audio visual. Jenis kamera ini banyak digunakan untuk memantau keberadaan satwa, termasuk Harimau Sumatera, yang bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan penelitan terhadap satwa tersebut. Kegiatan pemantauan populasi harimau Sumatera di SM Bukit Rimbang Baling telah dilakukan Yayasan WWF Indonesia beserta masyarakat hingga akhir tahun 2019.⁣


PENGANYAM NOKEN

Yuliana Yeblo (sebelah kiri) adalah satu dari empat perempuan di kampung Resye dan Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, yang masih memiliki keahlian menganyam noken dari serat kayu. Dari tahun ke tahun, pengrajin noken di Tambrauw semakin sedikit jumlahnya. Sumber bahan baku yang harus diambil dari hutan, serta persoalan pemasaran yang tak menentu, kian menyulitkan para perempuan Tambraw untuk terus menoken sebagai mata pencaharian. Transfer pengetahuan akan budaya membuat noken pada generasi muda pun mulai memudar, karena banyak anak-anak usia SMP kini memilih merantau keluar kampung untuk melanjutkan Pendidikan.⁣

Dalam kehidupan masyarakat Papua, noken adalah tas tradisional yang serbaguna. Dahulu, noken bisa dipakai untuk membawa beragam barang, dari ubi, buah-buahan, pokok sagu, hingga bayi yang masih perlu digendong. Dalam perjanannya noken kini menjadi salah satu kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomi sebagai cendera mata khas Papua.⁣⁣

Pesisir Jeen Womom, tempat mama Yuliana tinggal berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik yang menjadi adalah salah satu kawasan ekowisata pantai peneluran penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Sejak tahun 2005 hingga saat ini, Yayasan WWF Indonesia telah bekerja bersama masyarakat lokal untuk kegiatan pemantauan aktivitas peneluran Penyu Belimbing, dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal di Tambrauw.⁣

Foto ini diambil oleh Lumeli Jacky Buli pada April 2021, Wika Rumbiak, Manager Papua Program, Yayasan WWF Indonesia Program Papua, tengah berbincang dengan Mama Yuliana yang asyik menoken. Tak hanya fokus pada konservasi penyu belimbing, Yayasan WWF Indonesia juga mendampingi masyarakat Womom dan Resye dalam mengelola sumber daya alam yang dihasilkan tanah ulayat mereka.⁣


SURVEY LAMUN MANGGARAI BARAT

Tidak kalah dengan mangrove dan terumbu karang, ekosistem lamun juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan laut. Padang lamun adalah ekosistem khas di laut dangkal pada wilayah perairan hangat dengan dasar pasir dan didominasi oleh tumbuhan lamun. Padang lamun biasanya hanya dapat terbentuk pada bagian perairan laut yang dangkal (kurang dari tiga meter) namun senantiasa tergenang . Padang lamun juga dapat dilihat sebagai ekosistem antara ekosistem mangrove dan ekosistem terumbu karang. (Wikipedia)⁣

Foto ini diambil oleh Juraij, pada Februari 2020, saat Yayasan WWF Indonesia bersama Kantor Cabang Dinas (KCD) Manggarai Barat, Dinas Pariwisata Kab. Manggarai Barat, Badan pelaksana Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BPO LBF), Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKKP) Kab. Manggarai Barat, Lamina Indonesia, dan Asosiasi Pelaku Wisata, tengah melakukan survey ekosistem lamun sebagai habitat dugong, di Perairan Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur.⁣

Ekosistem lamun merupakan rumah bagi berbagai macam spesies penting di Indonesia, salah satunya adalah Duyung (Dugong dugon). Dugong adalah satwa laut dilindungi, yang merupakan salah satu dari 35 jenis mamalia laut di Indonesia, dan merupakan satu-satunya satwa ordo Sirenia yang area tempat tinggalnya tidak terbatas pada perairan pesisir. Lamun adalah tumbuhan makanan kesukaan dugong, rumah bagi berbagai hewan laut, dan pelindung wilayah pesisir dari erosi.⁣

Namun sayangnya, dari 1,507 km² luas padang Lamun yang menjadi tempat bernaung habitat Dugong di seluruh Indonesia, hanya 5% yang tergolong sehat, 80% kurang sehat, dan 15% tidak sehat.(LIPI, 2017)⁣

Metode survey yang digunakan adalah manta tow, dimana pengamatan dilakukan secara menyeluruh dalam waktu yang singkat. Peneliti melakukan pengamatan dan pencatatan sebaran lamun dengan cara ditarik menggunakan tali dan papan. Data ekosistem lamun ini sangat penting untuk mendukung pengelolaan perlindungan spesies dugong di Manggarai Barat.⁣


MOKE WOMOM

Matahari nyaris terbenam di Taman Pesisir Jeen Womom, Tambrauw, Papua Barat, saat Bapak Martinus Yeblo dan Mama Maria Yeblo berdiri mengenakan pakaian adat di tepian pantai. Dua kakak beradik yang juga merupakan tetua adat suku Abun ini tengah memulai ritual sakral memanggil penyu, yang disebut ritual “Moke Womom”.⁣

Taman Pesisir Jeen Womom, tempat Bapak Martinus dan Mama Maria tinggal adalah pantai peneluran penyu belimbing (Dermochelys coriacea) terbesar di Pasifik Barat dengan panjang mencapai 72,1 kilometer (KKP,2016). Sejak tahun 2005, Yayasan WWF Indonesia, Universitas Papua, Pemerintah Kabupaten Sorong, dan masyarakat lokal telah bekerja bersama melakukan kegiatan pemantauan aktivitas peneluran penyu belimbing, untuk perlindungan penyu serta habitat penelurannya di wilayah ini.⁣

Foto ini diambil oleh Novie Sartyawan pada Agustus 2019. ⁣ Moke Womom biasanya dilakukan masyarakat Abun pada masa awal musim peneluran penyu di sepanjang garis pantai Jeen Womom. Upacara ini hanya bisa dilakukan oleh para tetua adat Abun yang telah ditentukan, menjelang matahari terbenam, saat waktu menjelang datangnya penyu untuk bertelur. Melalui ritual Moke Womom, diharapkan banyak penyu yang datang untuk bertelur di pantai Jeen Womom sebagai tanda berkah.⁣

Bagi masyarakat adat suku Abun, penyu belimbing merupakan dewa laut yang harus dilindungi. Hingga saat ini masyarakat Suku Abun masih percaya, bahwa bila ritual Moke Womom dilakukan, maka sang dewa laut akan terus datang.⁣


Cerita Terkini

Menanam Bibit Asli Hutan Tesso Nilo, Menyelamatkan Habitat Gajah

Taman Nasional Tesso Nilo adalah kawasan hutan dataran rendah berlokasi di Provinsi Riau, Indonesia dan merupakan...

Panda Mobile Ajak Masyarakat Bijak Menggunakan Air

“Berapa liter air yang digunakan dalam satu kali menyiram toilet (flush)?” “Hmm 1.5 liter atau 2 liter?...

BMP Penangkapan Udang Ramah Lingkungan

Penulis: Buguh Tri Hardiyanto (Capture Fisheries Assistant, WWF-Indonesia)Menurut data Kementerian Kelautan dan Pe...

Get the latest conservation news with email