Kembali

© Yayasan WWF Indonesia

.



Foto Pilihan: November 2021

Posted on 30 November 2021
Author by Yayasan WWF Indonesia


MENANGKAP TUNA DENGAN LAYANGAN

Mayoritas masyarakat Desa Labuan Bajo di Pulau Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, adalah nelayan tradisional yang menggantungan kehidupan mereka dari hasil laut. Ada satu alat tangkap sederhana dan ramah lingkungan, yang hingga kini masih digunakan para nelayan di kawasan ini untuk menangkap ikan tuna dan cakalang, yaitu pancing dengan bantuan layang-layang.⁣⁣

Caranya, salah satu ujung senar pancing dikaitkan pada tali layang-layang yang kemudian diterbangkan dengan bantuan angin dan dikendalikan oleh nelayan. Satu sisi senar pancing lainnya terhubung dengan mata kail dan umpan buatan, yang akan melompat-lompat memancing perhatian tuna setiap kali sang nelayan menarik benang layangan. Panjang tali layangan yang digunakan bisa mencapai 100 meter dan tali pancing yang diikatkan pada ekor sekitar 75 meter. ⁣⁣

Teknik penangkapan ikan dengan pancing seperti yang dilakukan nelayan Desa Labuan Bajo ini sangat ramah lingkungan karena memiliki tingkat selektifitas yang tinggi, dibanding menangkap ikan dengan jaring dan rawai atau longline. Selektifitas alat pancing membantu meminimalkan bycatch atau tangkapan sampingan, yaitu tertangkapnya jenis ikan atau satwa laut lain yang bukan target. ⁣⁣

Foto ini diambil oleh @leatemiadaniel saat kegiatan Resource Use Monitoring (RUM) di bulan Juni 2021 yang dilakukan oleh Kantor Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan (KCD KP) Provinsi NTT Wilayah Alor, Dinas Perikanan Kabupaten Alor, Satuan Polairud-Polres Alor, dan dua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pomaswas) yaitu Kabola dan Blangmerang, didukung oleh Yayasan WWF Indonesia. Kegiatan RUM bertujuan untuk pengumpulan data dan pemantauan aktivitas pemanfataan sumber daya laut dan perikanan, serta pengawasan kegiatan perikanan merusak di Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Alor-Pantar.⁣


KERAMBA JARING APUNG

Keramba jaring apung (KJA) merupakan salah satu teknik budidaya ikan yang memanfaatkan jaring dengan kerangka berbentuk segi empat atau lingkaran (bulat) dan diapungkan pada permukaan air. KJA menggunakan pelampung terbuat dari kayu, bambu, besi, atau berbahan High Density Polyethylene (HDPE), yang terikat pada sebuah jangkar di dasar laut. Teknik ini biasa digunakan dalam praktik perikanan budidaya baik di laut maupun di perairan tawar.⁣⁣

Jenis ini menggunakan jaring knotless (tanpa simpul) sehingga meminimalkan resiko ikan terluka karena tergores simpul jaring, lebih tahan terhadap gelombang sehingga memiliki umur penggunaan yang lama menjadikannya lebih ramah lingkungan dibanding KJA dari bahan kayu atau bambu yang sering rusak terkena gelombang sehingga jaringnya hanyut dan ikan terlepas. ⁣⁣

Foto ini diambil oleh @yudhincex pada bulan Maret 2021 untuk program @seafoodsavers dalam rangka pendokumentasian rangkaian kegiatan program perbaikan budidaya (aquaculture improvement program) mengikuti standar sertifikasi Aquaculture Stewardship Council (ASC) di KJA milik PT Bali Barramundi, di Desa Patas Gerokgak, Bali Utara. KJA berbentuk bulat sebanyak 29 unit ini telah beroperasi sejak tahun 2013 untuk pembesaran ikan kakap putih dan kerapu cantang, yang bibitnya diambil dari tempat pembibitan bukan dari alam. ⁣⁣

Program Seafood Savers telah dibentuk sejak tahun 2009, sebagai inisiatif WWF Indonesia untuk mencapai tujuan perikanan berkelanjutan melalui mekanisme kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri perikanan. Seafood Savers menjembatani para pelaku industri dalam mewujudkan perikanan Indonesia yang berkelanjutan.⁣⁣

NELAYAN BUBU DI PERAIRAN ALOR

Seorang nelayan tengah bersiap untuk menurunkan Bubu Dasar untuk menangkap ikan di perairan Pulau Pura, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bubu Dasar adalah salah satu alat penangkapan ikan yang dikategorikan sebagai alat tangkap perangkap. Bubu merupakan alat tangkap pasif yang ditempatkan di dasar perairan area terumbu karang untuk menangkap ikan demersal (berenang dekat dengan dasar laut).⁣

Bubu banyak digunakan oleh nelayan Pulau Pura. Bubu diletakkan pada bagian laut yang berarus deras, sehingga ikan akan terdorong masuk perangkap. Penentuan lokasi pemasangan Bubu membutuhkan kepiawaian nelayan dalam memahami kondisi arus laut, dan juga di lokasi yang tidak merusak terumbu karang. Perairan Pulau Pura, yang termasuk dalam kawasan Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar dan Laut Sekitarnya, memiliki karakteristik perairan yang sangat unik, dengan arus laut yang cenderung berubah secara musiman mengikuti sistem angin muson.⁣

Konstruksi bubu yang menyerupai keranjang bambu, mendukung selektifitas ukuran ikan tangkapan, karena memungkinkan ikan ukuran kecil (anakan) bisa keluar lagi dan tidak ikut tertangkap. Bubu ditempatkan di dasar laut selama satu hingga tiga hari, untuk menangkap jenis-jenis ikan Kerapu dan Butana. Saat diangkat, satu Bubu bisa memuat ikan antara 10-30 ekor ukuran dewasa. ⁣

Foto ini diambil oleh @leatemiadaniel pada Juni 2021 dalam perjalanan ke Pulau Pura Kabupaten Alor untuk melakukan pengambilan data pengelolaan perikanan berbasis ekosistem atau ecosystem approach to fisheries management (EAFM) Kabupaten Alor oleh Yayasan WWF Indonesia.⁣


Cerita Terkini

Youth Summer Camp Ajak Generasi Muda Peduli Mamalia Laut Terdampar

Indonesia merupakan negara maritim yang kaya akan satwa lautnya, tidak terkecuali mamalia laut. Fakta menunjukkan ...

Moke Womom

....

Melacak Asal Usul Benih Ikan Sidat dari Sukabumi, Jawa Barat

Oleh: Faridz Rizal Fachri (Capture Fisheries Officer, WWF-Indonesia)Selepas maghrib, muara Sungai Cimandiri, Pelab...

Get the latest conservation news with email