Kembali

© Yayasan WWF Indonesia

.



Foto Pilihan: Desember 2021

Posted on 24 December 2021
Author by Yayasan WWF Indonesia


PETANI RUMPUT LAUT

Seorang petani rumput laut di Desa Blang Merang, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), tengah membersihkan tanaman rumput lautnya dari kotorang seperti pasir dan serasah, agar kualitas terus terjaga hingga masa panen nanti. Foto itu diambil oleh Harimurti Asih Bimantara (@dhivadive) pada Mei 2021, saat kegiatan monitoring pemanfaatan sumber daya di Kawasan Konservasi SAP Selat Pantar dan Laut Sekitarnya.

Selain sektor pariwisata, budidaya rumput laut adalah sektor andalan yang sangat penting bagi Provinsi NTT saat ini. Program pengembangan rumput laut, tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi NTT dengan “Program Revolusi Biru Untuk NTT Sejahtera”. Pemerintah Provinsi NTT telah menentukan target jumlah produksi rumput laut sebagai indikator keberhasilan program tersebut. Kabupaten Alor masuk dalam Klaster IV bersama dengan Kabupaten Lembata dan Flores Timur. Potensi areal rumput laut di kluster IV ini sebesar 10.446 Ha dengan potensi produksi sebesar 3.133.800 Ton.

Bersama Universitas Tribuana Kalabahi, Pemerintah Kabupaten melalui DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) Kabupaten Alor, dan Pemerintah Provinsi melalui KCD (Kantor Cabang Dinas) Kelautan dan Perikanan Wilayah Alor, Yayasan WWF Indonesia ikut berupaya dalam bahu membahu dalam mendukung perbaikan perikanan budidaya, salah satunya adalah melalui skema pengembangan pusat unggulan (Center of Excellence) di Kawasan Konservasi SAP Selat Pantar dan Laut Sekitarnya. Dengan adanya skema tersebut kedepannya, diharapkan beberapa persoalan baik yang bersifat teknis maupun non-teknis yang menjadi kendala dalam keberlanjutan usaha budidaya rumput laut dapat diidentifikasi secara holistik, serta menjadi media pembelajaran yang baik bagi semua pihak dalam pengembangan usaha budidaya rumput laut di dalam kawasan konservasi.


PELATIHAN PENANGANAN MAMALIA LAUT TERDAMPAR

Indonesia adalah salah satu habitat penting bagi mamalia laut dunia. Tercatat ada 35 jenis mamalia laut yang diketahui berada atau melintas di perairan Indonesia. Data Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, sejak tahun 2014 hingga 2021, tercatat ada 550 kasus mamalia laut seperti paus, dugong dan lumba-lumba, terdampar di Indonesia. Hal ini merupakan suatu hal mengkhawatirkan dan mengharuskan dilakukannya peningkatan kapasitas kemampuan penanganan dan pertolongan pertama pada kejadian mamalia laut terdampar.

Umumnya mamalia laut yang terdampar ditemukan dengan beragam kondisi. Sebagian ditemukan dalam kondisi tewas, namun sebagian lain ditemukan masih dalam kondisi hidup dan membutuhkan penanganan yang tepat untuk bisa diselamatkan dan dilepasliarkan kembali ke laut. Dalam penanganan mamalia laut yang terdampar, ada teknik-teknik khusus yang dapat mempermudah penolong pertama atau first responder untuk mengevakuasi ataupun melepaskan kembali ke laut. Selain itu, metode penanganan yang tepat dapat mengurangi risiko cidera pada mamalia laut yang akan ditolong, maupun pada tim penolong.

Foto ini diambil oleh Dicky Bisinglasi (@dickybisinglasi) pada kegiatan Pelatihan Penanganan Mamalia Laut Terdampar untuk Penanggap Pertama (First Responder) pada tanggal 16-17 November 2021. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Yayasan WWF Indonesia bersama kantor Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan (KCD KP) Kabupaten Alor, dan Balai Pengelolan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar Wilayah Kerja Nusa Tenggara Timur.

Pelatihan Penanganan Mamalia Laut Terdampar diikuti oleh masyarakat Kalabahi, Alor mengenai berbagai teknik yang diperlukan untuk melakukan penanganan penanganan mamalia laut terdampar oleh penanggap pertama (first responder). Wilayah di sekitar perairan Alor adalah area yang sering dilalui mamalia laut. Dalam kesempatan ini pula dibentuk jejaring first responder bagi penanganan mamalia laut terdampar di Alor, yang bertujuan untuk memudahkan koordinasi antar pihak, sehingga dapat saling membantu menangani apabila terjadi lagi peristiwa mamalia laut terdampar di kemudian hari.


TABOB

Penyu belimbing (Dermochelys coriace) atau dikenal oleh masyarakat Kepulauan Kei, Maluku, sebagai Tabob, adalah penyu raksasa terbesar di dunia. Memiliki ciri khas, yaitu garis-garis menonjol berbentuk buah belimbing pada bagian kerapas/tempurung. Dengan berat bisa mencapai mencapai 700 kg dan panjang 3 meter, penyu belimbing adalah satu-satunya jenis dari suku Dermochelyidae yang masih bertahan hidup. (Wikipedia)

Foto ini diambil oleh Muhammad Ramdhany (@rmadhany), pada Desember 2021, saat Tim dari Yayasan WWF Indonesia Inner Banda Arc Seascape bersama Kantor Cabang Dinas Gugus Pulau VIII Kepulauan Kei, tengah melakukan survei udara habitat ruaya pakan penyu belimbing di perairan Kei Kecil Barat, Maluku Tenggara, Maluku. Survei ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat sebaran spesies penyu belimbing dan Endangered, Threatened and Protected (ETP) spesies lainnya, serta kelimpahan ubur-ubur sebagai pakan penyu belimbing di Perairan Kei Kecil Barat.

Berdasarkan data kajian migrasi penyu belimbing dengan menggunakan satelit telemetri yang pernah dilakukan Yayasan WWF Indonesia, Tabob yang ditemui di Kepulauan Kei adalah kelompok penyu belimbing yang bertelur di pantai peneluran utara di Papua Barat (Abun)dan bermigrasi ke Maluku.

Penyu belimbing umumnya dapat dijumpai di Kawasan Konservasi Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Taman Pulau Kecil (TPK) Pulau Kei Kecil pada bulan Agustus hingga Januari. Kawasan konservasi pesisir seluas 150.000 ha tersebut, merupakan habitat ubur-ubur yang menjadi salah satu pakan utama (majorfood) bagi spesies reptil laut terbesar ini. Selain penyu belimbingm Di KKP3K TPK Kei Kecil terdapat 3 jenis penyu lainnya, yaitu Penyu hijau (Chelonia mydas), Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu lekang (Lepidochelys olivacea)


Cerita Terkini

Aksi Nyata Empat Siswi Santa Ursula Jakarta Selamatkan Orangutan

“Ayo Selamatkan Orangutan Yuk!”Tagline ini terus disuarakan oleh empat siswa SMA Santa Ursula Jakarta di ...

BMP Perikanan Bycatch Hiu

Oleh: Ranny Ramadhani Yuneni“Better Management Practices (BMP) Seri Panduan Perikanan (Bycatch): Panduan Pe...

Food of the Archipelago, Indonesia

https://www.youtube.com/watch?v=6Eb6I73Z4pA...

Get the latest conservation news with email