Kembali

© Yayasan WWF Indonesia

 



Foto Pilihan: April 2022

Posted on 30 April 2022
Author by Yayasan WWF Indonesia

The Wings of The Baranusa Angel (Sayap Bidadari Baranusa)

Pulau Lapang di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur kerap disebut sebagai “The Wings of the Baranusa Angel” atau Sayap Bidadari Baranusa. Hal ini merujuk pada bentuknya yang menyerupai sayap yang tengah terbuka lebar, bila dilihat dari udara. Pulau kecil tak berpenghuni berpasir putih ini masuk dalam Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar dan Laut Sekitarnya.

Foto keindahan Pulau Lapang diabadikan oleh Yosua Engelbert Loe saat kegiatan monitoring pemanfaatan sumber daya perikanan atau Resources Use Monitoring (RUM) pada awal April 2022. Kegiatan tersebut dilakukan oleh Kantor Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan (KCD KP) kabupaten Alor, Dinas Perikanan Kab.Alor, bersama Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), Yayasan TAKA dan didukung oleh Yayasan WWF Indonesia.

Monitoring dilakukan secara berkala, dengan tujuan untuk memantau pemanfaatan sumber daya laut untuk memastikan aspek biofisik, sosial, serta tata kelola tetap terjaga dengan baik. Kegiatan ini dilakukan untuk mengevaluasi pola pengelolaan ruang dengan menilai tipe aktivitas pemanfaatan eksisting serta tingkat kepatuhan zonasi oleh pemanfaat sumberdaya laut di dalam kawasan konservasi perairan. Sehingga keseimbangan antara pemanfaatan perairan dengan upaya perlindungan sumber daya laut dapat terjaga dan mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.

Bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Pantar Barat, khususnya masyarakat adat rumpun Baranusa, upaya dalam pengelolaan sumber daya laut telah dimulai sejak jaman nenek moyang Suku Sandiata, dan Kerajaan Baranusa.

Reef Check EcoDiver

Hariadi dengan cekatan mencatat jenis-jenis dan kondisi terumbu karang yang ia temui saat menyelam di perairan Karang Tebabinga Derawan, Kalimantan Timur. Hariadi yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang pemandu wisata selam di perairan Derawan, adalah salah satu peserta pelatihan Reef Check EcoDiver yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim dan Yayasan WWF Indonesia, bersama Reef Check Indonesia, Yayasan Penyu Berau (YPB) dan pemerintah kampung Derawan.

Foto ini diambil oleh Yudhi Rizal pada 17 Maret 2022. Pelatihan Reef Check EcoDiver menjadi salah satu kegiatan dalam rangkaian kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Masyarakat di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS).

Reef Check EcoDiver adalah metode yang didesain untuk mengajak semua kalangan untuk membantu menyediakan data kondisi kesehatan terumbu karang di sebuah wilayah. Metode pendataan terumbu karang tersebut dirancang sesederhana mungkin namun tetap ilmiah. Dengan harapan dapat dilakukan oleh orang awam seperti nelayan, pemandu wisata, bahkan wisatawan, tentunya dengan prosedur yang telah ditentukan

Pelatihan tersebut diikuti oleh 20 orang peserta dari berbagai komunitas dan instasi, yaitu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Asosiasi Guide Snorkling Derawan (AGSD), Kelompok Nelayan Delawan Boko Lestari, masyarakat Maratua dan Talisayan, YPB dan DKP Kalimantan Timur.

Tujuan dari pelatihan ini adalah memberikan peningkatan sumber daya kelompok masyarakat untuk dapat mendukung program rehabilitasi terumbu karang di KKP3K KDPS. Data-data pemantauan yang dihasilkan oleh para relawan EcoDiver dapat dibagian untuk membantu lebih banyak orang dalam memahami jenis terumbu karang, dan ikut terlibat dalam kegiatan konservasi terumbu karang.

Desa Seribu Pancing

Desa Pasir Putih di Pulau Messah, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) kerap dijuluki sebagai Desa Seribu Pancing. Nama ini disematkan pada desa nelayan yang mayoritas penduduknya menangkap ikan dengan alat tangkap pancing. Ada setidaknya 700 nelayan bersama keluarganya, yang menggantungkan kehidupan pada laut dan sumber daya perikanan.

Joana Viviani mengabadikan suasana senja di pesisir Desa Pasir Putih, saat perahu-perahu nelayan tengah bersandar. Foto ini diambil pada tanggal 15 April 2022, saat Yayasan WWF Indonesia bersama Kantor Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan (KCD KP), Penyuluh perikanan Bantu, dan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Manggarai Barat memfasilitasi masyarakat melakukan proses pembuatan kelengkapan izin kapal Pas Kecil dan Tanda Daftar Kapal Perikanan (TDKP)

Yayasan WWF Indonesia sejak tahun 2021 mulai melakukan berbagai kegiatan bersama masyarakat Desa Pasir Putih, antara lain untuk melakukan pengenalan praktik perikanan berkelanjutan. Berbagi bermacam informasi penggunaan alat tangkap, ukuran layak tangkap, serta spesies-spesies yang dilindungi dan terancam punah atau Endangered, Threatened and Protected (ETP) Species. Hal ini juga sejalan dengan Peraturan Bupati Manggarai Barat No. 18/2019 tentang perlindungan hiu dan pari sebagai daya tarik wisata.


Cerita Terkini

Badak Sumatera Kritis, Tim Khusus dari Sumatera dan Kalimantan Dilatih

Perwakilan sebanyak 34 orang tim survei badak dari Aceh, Lampung, dan Kalimantan berkumpul pada tanggal 14 -18 Feb...

PT MRT Jakarta dan WWF-Indonesia Jalin Kemitraan Ajak Masyarakat Berg

Jakarta, 20 September 2019 – PT. Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta) dan Yayasan WWF-Indonesia (WWF-Indo...

Kisah Sukses Perempuan Adat dalam Kedaulatan Pangan

Tidak hanya kaya akan tradisi dan ritual, masyarakat adat Dayak juga kaya dengan cerita dan pengalaman dalam menja...

Get the latest conservation news with email