Kembali

© Administrator

Administrator



Forum Komunikasi Pemerhati Satwa Liar Dibentuk di Kalimantan Utara

Posted by Anastasia Joanita on 05 July 2019
Author by Agus Suyitno

Tingkat kejahatan terhadap satwa liar dilindungi di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, temuan kasusnya terus meningkat. Berdasarkan informasi dari Wildlife Crime Unit  WCS IP, jumlah kasus kejahatan satwa liar dilindungi tercatat meningkat tajam dari 106 kasus pada tahun 2015 kemudian menjadi 120 kasus pada tahun 2016 dan pada tahun berikutnya menjadi 225 kasus. Kasus perdagangan satwa liar tidak hanya terjadi secara konvensional tetapi juga terjadi melalui perdagangan secara online, dari catatan WWF Indonesia sepanjang tahun 2017 telah terindentifikasi 2.500 iklan di Facebook, 2.207 iklan di Instagram dan 195 iklan di e-commerce yang menjual satwa liar, baik yang hidup maupun sudah berbentuk bagian tubuh.

Mengutip pernyataan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, bahwa kasus kejahatan satwa liar menjadi salah satu kasus terbesar di Indonesia menduduki peringkat ke 3 setelah kasus kejahatan narkoba dan perdagangan manusia. Nilai transaksi kasus perdagangan satwa liar dari hasil penelusuran PPATK diperkirakan lebih dari Rp 13 triliun per tahun dan nilainya terus meningkat.

Kejahatan satwa liar juga menyasar di wilayah Kalimantan, berdasarkan laporan Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Wilayah Kalimantan pada tahun 2017 telah menangani sebanayk 13 kasus, pada tahun 2018 sebanyak 5 kasus, khusus di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara pada tahun 2017 jumlah kasus yang ditangani sebanyak 8 kasus, semuanya sudah masuk tahap P-21. Dari catatan WWF Indonesia, selain dari data Balai Gakkum Kalimantan, pada tahun 2017 pihak Polres Nunukan dan Polres Tarakan juga pernah menangani kasus kejahatan satwa liar, yaitu penyelundupan gading gajah.

Memerangi tindak kejahatan satwa liar yang dilindungi tentunya dibutuhkan kerjasama yang kuat oleh para pihak, tidak hanya terpusat pada penegak hukum saja namun para pihak yang lain juga memiliki konribusi yang cukup besar di dalam melakukan pencegahan dan penanganan kejahatan satwa liar dilindungi di Kalimantan Utara.

Pada tanggal 26 Juni 2019 WWF Indonesia memfasilitasi kegiatan diskusi tentang inisiatif pembentukan jaringan (forum komunikasi) pemantauan kejahatan satwa liar dilindungi di Kalimantan Utara yang dihadiri oleh para pihak diantaranya dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Balai Gakkum Kalimantan, Ditreskrimsus Polda Kalimantan Utara, Polres Nunukan, Polres Tarakan, Bea Cukai Tarakan, Dinas Kehutanan, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Utara, Balai Karantina Pertanian Tarakan, Universitas Borneo, Yayasan Pioner, Gappeta Borneo, PLH Nunukan, KPH Nunukan, KPH Tarakan.

Dalam pertemuan tersebut para pihak menyepakati dibentuknya forum yang memiliki fungsi untuk media komunikasi dan koordinasi para pihak di dalam pencegahan dan penanganan kejahatan satwa liar di Kalimantan Utara. Sedangkan peranan dari forum itu sendiri nantinya sebagai media edukasi, sosialisasi dan advokasi. Dalam pertemuan tersebut para pihak bersepakat dibentuknya forum dengan nama Forum Komunikasi Pemerhati Satwa Liar (FKPSL).

Hasil diskusi dari anggota forum, agenda selanjutnya adalah melakukan pertemuan lanjutan untuk mendiskusikan struktur forum, kemudian membuat rencana kerja yang dapat dilakukan para pihak berdasarkan tugas dan fungsinya masing-masing. Sebagai langkah awal, untuk memudahkan koordinasi dan komunikasi, anggota forum memakai saluran aplikasi grup WhatsApp.

Para pihak menyambut baik agenda pertemuan ini, dari forum ini diharapkan bisa memberikan manfaat dalam hal fungsi pencegahan dan penanganan kejahatan satwa liar dilindungi, pertukaran informasi atau pengetahuan dalam isu kejahatan satwa liar, berbagi pengetahuan melalui peningkatan kapasitas, memberikan edukasi kepada masyarakat luas untuk tidak terlibat di dalam praktik perburuan dan perdagangan satwa liar dilindungi di Kalimantan Utara.


Cerita Terkini

BMP Perikanan Kerang

Penulis: Davidson Rato Noto (Capture Fisheries Officer, WWF-Indonesia)Better Management Practices (BMP), Seri...

WWF Goes To School – SMAN 1 Bukit Batu Berani Melawan Perubahan Ikli

Asap tebal akibat kebakaran lahan dan hutan yang menyelimuti Desa Sejangat, Kecamatan Bukit Batu, Bengkalis tidak ...

Deklarasi Pengurangan Sampah Plastik Kabupaten Alor

Fokus dalam pembangunan Kabupaten Alor adalah visi Alor Sehat, Alor Kenyang dan Alor Pintar tahun 2019-2024, Bupat...

Get the latest conservation news with email