Kembali

© WWF-Indonesia

FB Live Streaming IPA: Ajakan untuk Generasi Zaman Kiwari Supaya Jaga Air Agar Tetap Lestari



FB Live Streaming IPA: Ajakan untuk Generasi Zaman Kiwari Supaya Jaga Air Agar Tetap Lestari

Posted by Administrator on 04 June 2020
Author by Natalia Trita Agnika

Siapa yang bisa hidup tanpa air? Tak ada satu pun makhluk hidup di dunia ini yang bisa hidup tanpa air. Namun kelestarian air yang sangat penting ini sering kita abaikan. Hanya sedikit sungai yang masih dalam kondisi jernih dan sehat. Coba saja tengok sungai di sekeliling kita. Warna, aroma, dan sampah yang memenuhinya sering membuat kita memalingkan muka 

Ya, kita sering kurang memberikan penghargaan lebih pada air dan sungai. Padahal sungai adalah sumber kehidupan. Dalam rangka mengajak publik untuk memperlakukan air sebagai harta berharga yang harus dijaga, WWF-Indonesia membuat sebuah tayangan melalui Facebook Live Streaming bertajuk “Kelas IPA (Ilmu Pengetahuan Air)”. Episode perdana “Kelas IPA” telah tayang pada Selasa (29/08) yang lalu pukul 17.15 WIB. Acara bincang-bincang seputar air tersebut merupakan kolaborasi antara WWF-Indonesia dengan PT Bank HSBC Indonesia dalam rangkaian kerja sama program konservasi air yang akan dilakukan di wilayah Koto Panjang, Riau & Sumatera Barat.

 Kelas IPA dipandu oleh Pevita Pearce dan menghadirkan narasumber Agus Haryanto sebagai Spesialis Freshwater WWF-Indonesia. Diawali dengan pemutaran film “Penjaga Air” dan film tentang hutan, Kelas IPA episode perdana menjelaskan tentang jumlah air yang melimpah di Bumi ini, tetapi hanya 1% air tawar (dari 3% air tawar di Bumi) yang dapat dimanfaatkan. “Wah, berarti dari 1% itu, manusia, tumbuhan, binatang, semua rebutan menggunakannya, dong?” tanya Pevita. “Betul, dari 1% itu yang menggunakan tidak hanya manusia saja,” jawab Agus.

Selain mengupas tentang kondisi air tawar di Bumi, acara bincang-bincang tersebut juga menjawab pertanyaan dari netizen yang muncul melalui kolom komentar Facebook WWF-Indonesia dan volunteer HSBC yang hadir dalam acara tersebut. Dewi Anggraini, salah satu volunteer HSBC bertanya tentang peran WWF dalam menanggulangi masalah sampah di sungai, terutama di Jakarta. Agus pun menjelaskan bahwa dalam Strategic Plan WWF lima tahun ke depan ini, akan ada program tentang air di Jakarta, khususnya untuk Sungai Ciliwung.

Salah satu event penting yang akan diselenggarakan oleh WWF-Indonesia sebagai aksi nyata menjaga sungai adalah gerakan “Mulung Ciliwung/Aksi Bersih Ciliwung” pada Minggu, 16 September 2018. “Kita akan turun bersama untuk membersihkan Sungai Ciliwung,” jelas Agus.

Media sosial dalam hal ini Facebook Live Streaming dipilih sebagai salah satu sarana untuk mengajak generasi kiwari (zaman now) supaya lebih peduli terhadap kondisi sungai dan tergerak untuk ikut menjaga kelestarian air. Saat ini penonton tayangan itu sudah mencapai angka 1.600. Harapannya, semakin banyak anggota masyarakat, terutama generasi muda lebih peduli terhadap air dan turut serta menyebarkan informasi penting tersebut dengan cara berbagi di media sosial. 

Saatnya kita memperlakukan air sebagai harta berharga yang harus dijaga dengan cara memperbaiki pola konsumsi air kita sehari-hari dan peduli terhadap kondisi sungai di sekitar kita. Jangan lupa, ikuti aksi Mulung Ciliwung pada 16 September 2018 mendatang. Informasi lengkap akan diumumkan melalui media sosial WWF-Indonesia.


Cerita Terkini

KUMBANG 2020: Keberagaman untuk Indonesia Berseri

Kegiatan KUMBANG (Kumpul Belajar Bareng) Nasional kembali diadakan pada tahun ini, berlokasi di The Cangkringan Re...

Kunjungan Kasih Sayang Teruntuk Mawar sang Duyung

“Seperti anak sendiri karena Mawar sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat Alor. Karena ketika kehilangan, rin...

STOP Perdagangan Ilegal

https://youtu.be/cqMn-t8VK9c...

Get the latest conservation news with email