Kembali

© Sea Trek Sailing Adventures

 



Dukung Peningkatan Ekonomi Biru Indonesia bersama Signing Blue dan Seafood Savers

Posted on 08 September 2022
Author by I Gede Dananjaya Bagaskara & Siti Yasmina Enita

Indonesia dikenal dengan keindahan alam dan tingginya keanekaragaman hayati. Pariwisata yang merupakan salah satu sektor sumber perekonomian terbesar di Indonesia, tentunya memiliki peran penting tidak hanya dari sisi ekonomi tapi juga dari kelestarian alam yang menjadi objek wisata. Sebagai negara kepulauan, wisata bahari menjadi salah satu destinasi yang diminati oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Jika berbicara tentang wisata bahari, tentunya tidak jauh dari hidangan seafood menjadi target kuliner para wisatawan.

Yayasan WWF Indonesia, memiliki dua inisiatif program yang mendukung kedua sektor tersebut, yaitu Signing Blue dan Seafood Savers. Signing Blue (www.signingblue.com) merupakan program dari Yayasan WWF Indonesia yang ditujukan kepada pelaku pariwisata (wisatawan, pelaku usaha wisata, dan kelompok/asosiasi wisata) untuk bersama mendukung dan mewujudkan pariwisata bahari yang berkelanjutan di Indonesia. Sedangkan, Seafood Savers (seafoodsavers.org) merupakan program yang menjembatani para pelaku industri dari mulai produsen perikanan tangkap, perikanan budidaya hingga ritel dan retauran demi mewujudkan perikanan yang berkelanjutan.

Memilih Wisata yang Bertanggung Jawab bersama Signing Blue

Sebagai wisatawan, tentunya kita mempunyai peran dalam memilih tempat berwisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. Saat ini, sudah banyak pelaku usaha wisata yang sadar akan pentingnya mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan ke alam. Beberapa diantaranya juga berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat mengukur dan menjaga komitmen mereka dalam mewujudkan pariwisata yang bertanggung jawab, salah satunya melalui Program Signing Blue.

Pelaku usaha wisata yang tergabung dalam anggota Signing Blue yang disebut Blue Allies mendapatkan hak penilaian dari auditor independen. Penilaian ini digunakan untuk mengetahui kesesuaian yang telah mereka lakukan terhadap Global Sustainable Tourism Council Criteria (GSTC Criteria). Kriteria yang menjadi acuan global standar pariwisata berkelanjutan dan dengan penyesuaian Praktek Terbaik dari Yayasan WWF Indonesia.

Signing Blue berperan mendampingi Blue Allies dalam memenuhi kriteria tersebut, dan memberikan penghargaan berupa sertifikat Starfish 1 hingga yang tertinggi adalah Starfish 5. Penghargaan ini diberikan dengan harapan dapat membantu wisatawan dalam memilih tempat berwisata yang terjamin komitmennya terhadap lingkungan, serta memotivasi Blue Allies untuk memenuhi bagian Kriteria GSTC yang belum tercapai dan mencapai penilaian yang lebih tinggi hingga Starfish 5.


Sea Trek Sailing Adventure mendonasikan buku cerita tentang satwa laut kepada masyarakat lokal

Hingga saat ini terdapat 120 Blue Allies yang terdiri dari penyedia akomodasi, restoran, dive operator, dan kapal pinisi yang tersebar di seluruh Indonesia. Sofia Tedestam, selaku Manager Dive Komodo yang merupakan Blue Allies menyatakan, "Awalnya kami mengira sudah melakukan praktik terbaik saat menyelam, tetapi memang saat itu kami tidak memiliki rancangan penilaian. Dengan bergabung dalam Signing Blue, kami sangat terbantu dalam membuat SOP dan rancangan ketika kedatangan ahli selam dari luar atau bila ada staff baru. Kami jadi mampu menunjukan prinsip dan kebiasaan dari Dive Komodo terutama terkait wisata selam yang bertanggung jawab."


Dive Komodo bersama dengan wisatawan untuk melakukan bersih-bersih pantai

Hasil pendampingan Signing Blue telah menunjukan peningkatan yang cukup baik untuk mewujudkan wisata bahari yang bertanggung jawab. Peningkatan 16% untuk aspek lingkungan, 15% untuk aspek sosial ekonomi dan budaya, dan aspek efektivitas manajemen sebesar 9%. Hal ini membuktikan bahwa Blue Allies mampu meningkatkan pemahaman dan praktek yang telah mereka lakukan ketingkat yang lebih tinggi. Harapannya dengan adanya program Signing Blue ini, para pelaku usaha yang memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan pariwisata bahari berkelanjutan, terarahkan dengan baik dan tepat sasaran sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi biru.

Memilih tempat wisata yang bertanggung jawab merupakan salah satu aksi yang dapat dilakukan kita sebagai wisatawan untuk menjaga kelestarian ekosistem laut, selain itu kita juga berkontribusi dalam mengapresiasi pelaku usaha wisata yang telah berkomitmen dalam mewujudkan pariwisata bahari yang berkelanjutan.

Cari tahu lebih lengkap tentang Blue Allies di www.signingblue.com.


Pembersihan rutin Destinasi Wisata Selam antara Wakatobi Dive Trip bersama dengan asosiasi Selam

Tingkatkan Ketersediaan Seafood Ramah Lingkungan bersama Seafood Savers

Siapa yang tidak pernah makan seafood? Sebagai masyarakat yang tinggal di negara kepulauan, tentunya berbagai jenis hidangan seafood mudah untuk didapatkan. Tidak sedikit makanan khas daerah yang juga menggunakan bahan baku seafood.

Seafood Savers diinisiasi sebagai wadah untuk mendampingi pelaku usaha perikanan dari mulai produsen, unit pengolahan ikan, hingga ritel, restauran, maupun hotel agar dapat menyediakan produk seafood yang berkelanjutan atau ramah lingkungan. Selain itu, Seafood Savers juga melakukan penyadartahuan kepada konsumen akan pentingnya memilih seafood yang menyediakan informasi sumber atau ketertelusurannya.


Penting bagi konsumen untuk mengetahui sumber seafood yang akan dibeli, agar konsumen dapat mengetahui seafoodnya berasal dari proses yang ramah lingkungan. 

Dalam skala industri, Seafood Savers mendampingi pelaku usaha perikanan dalam memenuhi standar ekolabel perikanan yang diakui secara global yaitu Marine Stewardship Council (MSC) untuk perikanan tangkap, dan Aquaculture Stewardship Council (ASC) untuk perikanan budidaya. Saat ini terdapat 3 anggota Seafood Savers yang telah mendapatkan sertifikasi ekolabel ASC untuk komoditas udang vannamei. Sayangnya, produk para pelaku usaha perikanan yang melakukan praktik perikanan tangkap maupun budidaya yang berkelanjutan ini hampir sebagian besar di ekspor ke luar negeri. Beberapa menyatakan bahwa di Indonesia pasar untuk produk seafood yang ramah lingkungan masih cukup rendah.

Maka, di tahun 2011 Yayasan WWF Indonesia meluncurkan Panduan Konsumen Seafood atau Seafood Advisor yang berfungsi untuk memudahkan konsumen untuk mencari alternatif dari jenis-jenis makanan laut yang harusnya dihindari karena populasinya di laut Indonesia terus menurun. Seafood Advisor tersedia dalam bentuk leaflet serta aplikasi yang dapat diunduh di android maupun IOS. Seafood Advisor berisi berbagai jenis seafood yang didapat melalui perikanan tangkap maupun budidaya yang dikategorikan ke dalam tiga warna utama, yaitu merah yang berarti hindari, kuning yang berarti pertimbangkan, dan hijau yang berarti pilihan terbaik. Adapun daftar hitam yang berisi hewan laut yang terancam punah dan dilindungi.


Beberapa contoh produk seafood ramah lingkungan yang tersedia di Indonesia.

Konsumen sebagai rantai terakhir perjalanan seafood memiliki peran penting dalam upaya peningkatan ketersediaan seafood ramah lingkungan di Indonesia. Pasalnya dengan adanya permintaan dari konsumen, para pelaku usaha perikanan tidak bisa menolak apabila mereka diminta untuk melakukan praktik perikanan berkelanjutan demi menyediakan produk seafood yang ramah lingkungan. Manfaat dari upaya ini tentunya tidak hanya diperuntukan bagi kelestarian lingkungan laut saja, namun juga untuk keberlanjutan bisnis perikanan ke depannya.

Download aplikasi Seafood Advisor di sini: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wwf.id.seafoodadvisor


Cerita Terkini

Kampanye #SaveCenderawasih Earth Hour Indonesia: Menjaga Cenderawasih

Pagelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) yang dilaksanakan setiap 4 tahun sekali kembali diadakan di tahun 2021 pad...

Memperingati Hari Bumi dengan Nobar Film Seri Dokumenter Netflix “Ou

Memperingati Hari Bumi 22 April 2019 kali ini, WWF-Indonesia di dukung oleh Shangri-La Hotel Jakarta mengangkat te...

Dari Perambah menjadi Penjaga Lingkungan

Mari berkenalan dengan Jekie, pria berumur 39 tahun yang berasal dari desa Karuing, Kamipang, yang terletak di kab...

Get the latest conservation news with email