Kembali

© Maxime Aliaga/WWF

.



Deforestation Fronts Report: Tren Laju Deforestasi Indonesia akan Terus Menurun jika Upaya Terintegrasi Terus Dilanjutkan

Posted on 13 January 2021
Author by Yayasan WWF Indonesia

  • Laporan Deforestation Fronts: Drivers and Responses in a Changing World menunjukkan hutan dunia berkurang 43 juta hektar (seluas negara bagian California, AS) dalam satu dekade terakhir.
  • Laju deforestasi hutan Sumatera dan Kalimantan, Indonesia, menurun sejak 2015 atas berbagai upaya Pemerintah Indonesia dengan bekerja bersama masyarakat adat dan korporasi.
  • Menjawab isu deforestasi bisa dilakukan secara inklusif dengan penyesuaian pada konteks lokal dan regional, termasuk memadukan beberapa langkah solusi menjadi satu strategi.

Jakarta, 13 Januari 2021, WWF Internasional mengeluarkan laporan Deforestation Fronts: Drivers and Responses in a Changing World, yang mengungkap luasan hutan yang hilang di seluruh dunia dalam perioide 13 tahun terakhir sebesar 43 juta hektar atau seluas negara bagian California, Amerika Serikat. Laporan ini disusun berdasarkan analisis terhadap 24 wilayah di dunia dengan hutan terbesar, mencakup 29 negara di Amerika Latin, Afrika, dan Asia pada periode tahun 2004 hingga 2017.

Pertanian dan peternakan komersial adalah penyebab utama deforestasi secara global, menurut laporan tersebut, terutama pertanian skala besar, dengan pembukaan area hutan untuk menciptakan ruang bagi ternak dan untuk bercocok tanam. Pertanian subsisten merupakan pendorong di beberapa wilayah, misalnya di Afrika. Di Asia, pendorong utama adalah perluasan perkebunan dan pertanian komersial yang disebabkan adanya peningkatan permintaan global dan pasar domestik atas hasil perkebunan dan pertanian. 

Laporan Deforestation Fronts juga menyebutkan bahwa deforestasi masih terjadi di Indonesia, namun dengan laju yang menurun di Sumatera dan Kalimantan. Laporan ini merujuk pada data Laporan Deforestasi Indonesia tahun 2016 dan 2019 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dan beberapa sumber lainnya. Di Sumatera, deforestasi terjadi pada tahun 2006-2009 dan meningkat di tahun 2015, namun lajunya menurun sejak itu. Demikian juga di Kalimantan, tingkat deforestasi tertinggi terjadi di 2015, setelah itu menurun.

Laporan ini memberi rekomendasi kepada pemerintah negara-negara yang termasuk dalam analisa untuk meningkatkan perlindungan kawasan hutannya melalui beberapa cara, antara lain melalui (1) pengakuan dan penetapan hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal; (2) mengkonservasi kawasan yang kaya keanekaragaman hayati; (3) memastikan produk yang bersumber dari hutan diproduksi dan diperdagangkan secara legal dan lestari; (4) memastikan rantai pasokan perusahaan berkelanjutan dan lembaga keuangan berkomitmen pada zero deforestasi; dan (5) membuat kebijakan untuk memastikan semua komoditas dan produk hutan yang diimpor bebas dari deforestasi.

Dicky Simorangkir, CEO Yayasan WWF Indonesia, mengatakan, “Pemerintah Indonesia sudah melakukan berbagai langkah penanganan deforestasi. Kami mengapresiasi dikeluarkannya kebijakan yang konstruktif untuk mengatasi tantangan laju deforestasi dengan mengintegrasikan beragam pendekatan, mulai dari melibatkan masyarakat lokal, korporasi, pemerintah daerah di berbagai tingkatan, dan kebijakan legalitas komoditas hutan.” 

Sejalan dengan rekomendasi dalam laporan tersebut, Pemerintah Indonesia telah melangkah lebih dulu dengan melakukan penetapan hutan adat dan wilayah indikatif hutan adat dalam memperkuat hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai bagian penting dari perbaikan tata kelola hutan dan mengatasi laju deforestasi di Indonesia. Beberapa kebijakan yang sejalan dengan upaya menahan laju deforestasi lainnya yang patut diapresiasi adalah pemberlakuan penundaan izin baru untuk perkebunan kelapa sawit, pemberlakuan sistem verifikasi dan legalitas kayu serta inisiatif pembentukan Badan Restorasi Gambut oleh Pemerintah Indonesia. 

“Solusi yang dilakukan pemerintah ini akan menjadi sangat efektif bila berbagai pilihan tindakan dilakukan melalui pendekatan yurisdiksi atau berbasis ekoregional, untuk saling menguatkan,” tutup Dicky. 

Laporan Deforestation Fronts dapat dilihat di www.panda.org/deforestationfronts

- SELESAI- 


Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:  

Tentang Yayasan WWF Indonesia

Yayasan WWF Indonesia adalah organisasi masyarakat madani berbadan hukum Indonesia yang bergerak di bidang konservasi alam dan pembangunan berkelanjutan, dengan dukungan lebih dari 100.000 suporter. Misi Yayasan WWF Indonesia adalah untuk menghentikan penurunan kualitas lingkungan hidup dan membangun masa depan di mana manusia hidup selaras dengan alam, melalui pelestarian keanekaragaman hayati dunia, pemanfaatan sumber daya alam terbarukan yang berkelanjutan, serta dukungan pengurangan polusi dan konsumsi berlebihan. Untuk berita terbaru, kunjungi www.wwf.id dan ikuti kami di Twitter @WWF_id | Instagram @wwf_id | Facebook WWF-Indonesia | Youtube WWF-Indonesia | Line Friends WWF Indonesia


Cerita Terkini

Hiu Paus

...

Aktor Chicco Jerikho Dukung Konservasi Gajah di Aceh

Oleh: Chik Rini dan AzharAktor Chicco Jerikho yang juga “WWF Warrior” melakukan kunjungan ke desa-desa yang be...

Produksi Madu Kelulut Melindungi Pantai Peneluran Penyu di Paloh, Kali

Penulis pertama: Agri Aditya FisesaNon Staff For Marine Conservation In PalohPenulis Kedua: Hendro Susanto Ma...

Get the latest conservation news with email