Kembali

© Yayasan WWF Indonesia/Romy

Edukasi masyarakat tentang zoonosis di Desa Lubuk Kembang Bunga, Pelalawan, Riau.



Zoonosis Prevention, Pelalawan Government Educating Community Concerning Human and Wildlife Interaction

Posted on 27 January 2021
Author by drh. Annisa Wandha Sari

Currently, there are no less than 300 animal diseases that can infect humans. This is due to several factors such as ecological changes like deforestation, wildlife trade and hunting, changes in demographics and human behaviour, as well as reduced attention to public health and control measures, and other supporting factors. In the last 20 years, 75% of new diseases in humans have occurred due to pathogens transfer from animals to humans (zoonosis). Zoonosis has become a global issue and requires multi-sector, multi-disciplinary and multi-professional handling. One of the efforts to prevent the transmission of zoonotic diseases is to increase knowledge and public awareness concerning strategic zoonotic diseases through public education or outreach. 

One Health System is the keyword in this problem. One Health (formerly known as One Medicine) is dedicated to improving the lives of all human and animal species through the integration of the fields of human medicine, veterinary medicine, and environmental science. One Health is a strategy to expand interdisciplinary collaboration and communication in all aspects of health care for humans, animals, and the environment. One Health recognizes that human, animal, and ecosystem health are interconnected so that it requires the application of a coordinated, collaborative, multidisciplinary and cross-sectoral approach to address potential or existing animal – human – ecosystem risks.

One Health will be achieved through joint educational efforts among medicine, veterinary medicine, and public and environmental health; joint communication efforts in journals, conferences, and through collaborative health networks; and joint efforts in clinical care through the assessment, treatment and prevention of transmission of disease across species.

Yayasan WWF Indonesia in collaboration with the Health Office and the Plantation and Animal Husbandry Service of Pelalawan Regency and Kuantan Singingi Regency, Riau Province to educate public regarding human and animal interactions with zoonosis topic. This activity was carried out in villages located in the Tesso Nilo Ecosystem, namely Lubuk Kembang Bunga Village, Air Hitam Village, Bagan Limau Village, and Gunung Melintang Village. The Tesso Nilo ecosystem has abundant biodiversity, based on data of Yayasan WWF Indonesia conflict mitigation team in 2019, these villages often experience conflicts between humans and wildlife.

Based on data from the Animal Husbandry Service, Pelalawan Regency, the most common zoonotic diseases in Pelalawan are rabies and bird flu. One of the rabies cases closest to this village is in the village of Bukit Kusuma where a child who was bitten by an HPR (Animal Carrier of Rabies), bit his grandmother before dying. During 2020 to September there have been 6 cases of dog, cat and monkey bites and positive for rabies. Meanwhile, rabies cases in Gunung Melintang village have only occurred for a few weeks, 6-year-old child victim who was injured as a result of being bitten by HPR, namely a monkey. According to the results of the medical team's examination of the local health office and Animal Husbandry Service, this monkey is a wild monkey that was caught by his parents and kept at home but never vaccinated. This is of course a duty for all of us in the future. Wild animals have a natural habitat in the forest, it will be more comfortable and safer for them to be in their habitat than being used as pets at home. Because it will cause transmission and spread of disease. Especially if you don't take care of it properly. Those around them will become their prey.

This activity was carried out in three different places, namely the Multipurpose Building in Lubuk Kembang Bunga Village, the Bagan Limau Village Hall, and the Gunung Melintang Village office. The participants of this activity were representatives of the 4 villages. In the Covid-19 pandemic situation, we limit participants who come and apply health protocols in every activity. Activities in September and October 2020 were attended by around 25 participants and 4 speakers.

The participants were very enthusiastic about this activity. This can be seen from their enthusiasm in a discussion session, especially about how to choose food from healthy animals to avoid zoonosis, how to prevent conflicts between humans and wildlife, and what diseases can be transmitted by wildlife including elephants to humans, because in the village they have conflict very often. In addition, drh. Muchlisin as a representative from the Animal Husbandry Office explained that they gave high appreciation for this activity because they could convey facts in the field about zoonosis that occurred in District Pelalawan. 

On this occasion, in the midst of the Covid-19 pandemic situation, Midwife Yuhardina, a representative of the Health Office, also shared information regarding the new normal lifestyle that must be obeyed so that the Covid-19 case does not spread, which is the beginning of zoonotic diseases and becomes a pandemic between humans. We distributed posters and banners about zoonosis, modes of transmission, various types of zoonosis, and ways to prevent them to the village community. This is intended as a link of information to other surrounding communities and produces a healthy area protected from animal and human infectious diseases.

____________________________________________________________________________________________________________________________________________

CEGAH ZOONOSIS, PEMDA PELALAWAN MENGEDUKASI MASYARAKAT TENTANG INTERAKSI MANUSIA DAN SATWA

Saat ini tidak kurang dari 300 penyakit hewan yang dapat menulari manusia. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, yaitu perubahan ekologi, seperti deforestasi hutan, perdagangan satwa liar dan perburuan, perubahan demografi dan perilaku manusia, serta penurunan perhatian pada tindakan-tindakan kesehatan masyarakat dan pengendalian, serta faktor pendukung lainnya. Dalam 20 tahun terakhir, 75% penyakit baru pada manusia terjadi akibat perpindahan patogen dari hewan ke manusia atau bersifat zoonotik. Zoonosis menjadi isu global dan memerlukan penanganan secara multi sektor, multi disiplin ilmu dan multi profesi. Salah satu upaya mencegah penularan penyakit zoonosis adalah dengan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian masyarakat terhadap penyakit-penyakit zoonosis strategis melalui edukasi masyarakat atau sosialisasi. 

One Health System menjadi kata kunci dari masalah ini. One Health (sebelumnya One Medicine) didedikasikan untuk meningkatkan kehidupan semua spesies manusia dan hewan melalui integrasi bidang kedokteran manusia, kedokteran hewan dan ilmu lingkungan. One Health adalah strategi untuk memperluas kolaborasi dan komunikasi interdisipliner dalam semua aspek pelayanan kesehatan bagi manusia, hewan dan lingkungan. One Health mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan dan ekosistem saling berhubungan sehingga dibutuhkan penerapan pendekatan yang terkoordinasi, kolaboratif, multidisiplin dan lintas sektoral untuk mengatasi risiko potensial atau yang sudah ada yang berasal di hewan–manusia–ekosistem.

One Health akan dicapai melalui upaya pendidikan bersama antara kedokteran, kedokteran hewan, dan kesehatan masyarakat dan lingkungan; upaya komunikasi bersama dalam jurnal, konferensi, dan melalui jaringan kerjasama bidang kesehatan; serta upaya bersama dalam perawatan klinis melalui penilaian, pengobatan dan pencegahan penularan penyakit lintas spesies. 

Yayasan WWF Indonesia bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau melakukan edukasi pada masyarakat terkait interaksi manusia dan satwa dengan tema zoonosis. Kegiatan ini dilakukan di desa yang berada di Ekosistem Tesso Nilo yaitu Desa Lubuk Kembang Bunga, Desa Air Hitam,  Desa Bagan Limau, dan Desa Gunung Melintang. Ekosistem Tesso Nilo memiliki keanekaragaman hayati, dan berdasarkan data tim mitigasi konflik Yayasan WWF Indonesia tahun 2019, desa-desa ini sering mengalami konflik antara manusia dan satwa. 

Berdasarkan data Dinas Peternakan, Kabupaten Pelalawan, penyakit zoonosis yang paling sering di Pelalawan ialah Rabies dan Flu Burung.  Salah satu kasus Rabies yang terdekat dari desa ini ialah di Desa Bukit Kusuma dimana seorang anak yang digigit HPR (Hewan Pembawa Rabies), lalu si anak ini sebelum meninggal juga menggigit neneknya. Selama tahun 2020 hingga september ini sudah terdapat 6 kasus gigitan anjing, kucing maupun kera dan positif rabies. Sedangkan kasus rabies di desa gunung melintang baru terjadi beberapa minggu ini dengan korban seorang anak berumur 6 tahun yang terluka akibat digigit HPR yaitu Kera. Menurut hasil pemeriksaan tim medis Dinas kesehatan dan Dinas peternakan setempat, Kera ini merupakan kera liar yang ditangkap orangtuanya dan dipelihara di rumah, namun tidak pernah dilakukan vaksinasi. Hal ini tentunya menjadi tugas bagi kita bersama untuk kedepannya. Satwa liar memiliki habitat alami di dalam hutan akan lebih nyaman dan aman baginya untuk berada dalam habitatnya dibandingkan dijadikan satwa peliharaan dirumah. Karena akan menyebabkan penularan dan penyebaran penyakit. Apalagi jika tidak merawatnya dengan baik. Nyawa keluarga dan orang sekitar akan menjadi mangsanya.

Kegiatan ini dilakukan di tiga tempat berbeda yaitu di Gedung Serbaguna Desa Lubuk Kembang Bunga, Balai Desa Bagan Limau, dan kantor Desa Gunung Melintang. Adapun peserta dari kegiatan ini merupakan perwakilan dari 4 desa tersebut. Dalam situasi pandemi Covid-19, kami membatasi peserta yang datang dan menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. Kegiatan pada bulan September dan Oktober 2020 yang dihadiri oleh sekitar 25 orang peserta dengan 4 orang narasumber.

Peserta yang hadir sangat antusias dengan kegiatan ini. Hal ini dilihat dari semangat mereka dalam berdiskusi terutama mengenai bagaimana memilih bahan pangan asal hewan yang sehat agar terhindar dari zoonosis, bagaimana mencegah konflik terjadi antara manusia dan satwa, serta penyakit apa saja yang dapat ditularkan oleh satwa liar termasuk gajah ke manusia, karena di desa mereka sangat sering terjadinya konflik. Selain itu, drh Muchlisin selaku perwakilan dari Dinas Peternakan menjelaskan bahwa mereka memberi apresiasi yang tinggi  untuk kegiatan ini karena mereka dapat menyampaikan fakta di lapangan mengenai zoonosis yang terjadi di Kabupaten Pelalawan pada masyarakat. 

Pada kesempatan ini, ditengah kondisi situasi pandemi Covid-19, Bidan Yuhardina yang merupakan perwakilan dari Dinas Kesehatan juga berbagi informasi terkait pola hidup new normal yang harus dipatuhi agar tidak merebaknya kasus covid 19 yang merupakan awal dari penyakit zoonosis dan menjadi pandemi antara manusia. Sebagai tanda telah diadakannya edukasi ini, maka kami membagikan poster dan banner mengenai zoonosis, cara penularan, macam-macam zoonosis, dan cara pencegahannya kepada masyarakat desa. Hal ini bertujuan sebagai penyambung informasi kepada masyarakat sekitar lainnya dan menghasilkan kawasan yang sehat dan terhindar dari penyakit menular hewan maupun manusia.


Cerita Terkini

Panda Mobile Ajak Kaum Muda Peduli Lingkungan pada Hari Pramuka

Pramuka adalah singkatan dari Praja Muda Karana yang merupakan gerakan kepanduan. Di Indonesia, pramuka merupakan ...

Restorasi gambut tak menentu, peraturan baru menguntungkan siapa?

Koalisi NGO Eyes on the Forest (EoF) menyerukan semua pihak untuk serius dalam melakukan restorasi gambut. Upaya i...

Bersama Menyelamatkan Gambut untuk Kita Gambut, Harapan Akhir Cegah Ke

Oleh: Syamsidar Siang hari tapi gelap, hidung dan dada terasa sesak, mata perih, jalan terhalang kabut; itula...

Get the latest conservation news with email