Kembali

© FoMMA

.



Berkat Lindungi Hutan, FoMMA Raih Penghargaan Equator Prize 2020

Posted on 06 June 2020
Author by Cristina Eghenter

"Karena hutan memberikan kami, masyarakat Dayak, segala sesuatu yang kami butuhkan"

 Alm. Amay Anye Apuy, Kepala Adat Besar Bahau Hulu, Kalimantan Utara


Pada tahun 1999, para Kepala Adat Besar Dayak berkumpul di Dataran Tinggi Krayan. Mereka berasal dari sebelas wilayah adat jauh di ujung barat laut Kalimantan Utara, Indonesia, berbatasan dengan Sarawak dan Sabah. Pertemuan ini merupakan akhir dari proses pemetaan partisipatif selama dua tahun dalam upaya mendokumentasikan wilayah leluhur dan hak adat  atas tanah dan sumber daya alam. Pada pertemuan itu, para Kepala Adat Besar sepakat untuk membangun suara yang kolektif agar lebih kuat dalam memperjuangkan pengakuan hak, nilai, dan praktik adat mereka. Sebagian besar wilayah adat  mereka tumpang tindih dengan kawasan konservasi Taman Nasional Kayan Mentarang. Kenyataan tersebut menimbulkan keresahan akan adanya kemungkinan pembatasan dan larangan oleh pengelola  taman nasional bagi masyarakat adat untuk mengakses dan memanfaatkan sumber daya hutan, di mana hutan adalah ruang hidup dan bagian dari kehidupan sosial budaya.

Inilah awal mula lahirnya inisiatif Forum Musyawarah Masyarakat Adat Taman Nasional Kayan Mentarang (FoMMA), sebuah organisasi masyarakat adat yang secara resmi didirikan pada 7 Oktober 2000 sebagai wadah komunikasi dan koordinasi untuk semua komunitas adat di dalam dan sekitar Taman Nasional. FoMMA mengusung misi advokasi demi memperoleh pengakuan hak-hak masyarakat adat melalui pelibatan pemerintah dengan mendepankan  dialog terbuka dan negosiasi untuk semua pemangku kepentingan secara setara.

Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, FoMMA meraih Equator Prize  sebagai “contoh kearifan lokal yang luar biasa berupa sebuah solusi berbasis alam untuk perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan”. Equotor Prize telah mengangkat  inisiatif masyarakat adat Kalimantan Utara ini ke panggung global  sekaligus membuktikan bahwa ketika masyarakat adat diakui, dipercaya, dan didukung sebagai pengelola wilayah, pendekatan ini menjadi solusi yang efektif untuk konservasi, serta contoh bagaimana pembangunan berkeberlanjutan dilaksanakan secara adil dan setara.

Dalam perjalanan 20 tahunnya, menjadikan FoMMA sebagai pelopor pemetaan partisipatif atas lebih dari dua juta hektar wilayah adat, termasuk kekayaan alam dan sosial, serta areal dengan keanekaragaman hayati tinggi yang dilindungi secara tradisional oleh masyarakat (AKKM/KKMH atau ICCAs). FoMMA juga mendorong  skema tata kelola bersama dalam pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) yang pada akhirnya menjadi taman nasional pertama di Indonesia yang diputuskan oleh pemerintah yang dikelola dengan manajemen kolaboratif. Didukung berbagai mitra di tingkat lokal, nasional, dan regional, FoMMA telah membantu  transformasi tata kelola Taman Nasional untuk mengakomodir wilayah adat yang dikelola dan dipelihara  oleh masyarakat  adat dengan memegang teguh tradisi.

Sejak 2012, peraturan di Indonesia telah membuka peluang baru untuk pengakuan  masyarakat adat dan hutan adat. Didukung oleh berbagai organisasi masyarakat sipil,  FoMMA telah berada di garis depan dalam proses pendaftaran wilayah adat  dan hutan adat. Pada tahun 2019, wilayah adat pertama di kawasan  Kayan Mentarang diakui oleh Pemerintah Daerah Malinau. Wilayah tersebut dengan wilayah adat lainnya beserta taman nasional akan membentuk ‘benteng hutan' yang efektif untuk mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim dan melindungi ekonomi lokal dan budaya masyarakat adat.

Seiring berjalannya waktu, banyak anggota FoMMA yang menjadi pemimpin adat baru di komunitas mereka masing-masing, atau pejabat pemerintah daerah, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Mereka terus mendorong solusi berbasis alam dan adat di mana masyarakat menjadi pengelola tanah, hutan, dan sungai di wilayah mereka  secara berkelanjutan, berdasarkan nilai-nilai tradisional seperti solidaritas, kepedulian, dan hubungan yang seimbang dengan alam.

WWF-Indonesia mengucapkan selamat kepada FoMMA atas penghargaan Equator Prize, dan turut mengakui bahwa kekuatan dan ketangguhan inisiatif ini berakar pada kearifan para tetua dan Kepala Adat Besar yang bertahun-tahun lalu telah memiliki visi untuk masyarakat adat di wilayah Kayan Mentarang serta mendorong kaum muda untuk menjaga tradisi dan wilayah sebagai penentu masa depannya yang berkelanjutan.

____________________________________________________________________________________________________________________________________________

SAVING THE FOREST: FOMMA WAS AWARDED EQUATOR PRIZE 2020

Back in 1999, numerous Heads of the Great Dayak tribe gathered in the Krayan Highlands. They represented from eleven customary kampongs, located at the tip of the Northwestern of North Kalimantan, bordering Sarawak and Sabah. This get-together was served as the closing ceremony after a two-year participatory land and natural resources mapping was finalized.

In this occasion, the Heads of the Great Dayak tribe concurred to further strengthen their voices in recognition of their customary rights, values, and practices. This consensus had been urged due to the most of customary lands overlaid with the Kayan Mentarang National Park conservation area. This situation was prone to restriction for indigenous people to access forest resources, of which forest is considered part of the their cultural and one of living sources. Shortly after this gathering the FoMMA was established.

The Kayan Mentarang National Park Indigenous Community Consultation Forum (FoMMA) was born in October 2000. FoMMA was established as a forum of communication and coordination among indigenous communities inside the national park and at the buffer zone area. This forum promotes recognition of indigenous people, through a platform of inclusiveness and openness dialogue with all stakeholders including local government. 

In commemoration of the World Environment Day this year, FoMMA was awarded the Equator Prize for its initiatives to blend the local wisdom with nature-based based solution, climate change resilience activities and sustainable development. This prestigious award led the North Kalimantan indigenous community's initiative to the global stage. This award also served as a recognition of indigenous people, who also take active part in giving solution for conservation. Besides, this prize also played as a proof that the sustainable development can be done in inclusively manner-no one left behind.

On the other note, the Indonesia’s regulation more in favor with the recognition of indigenous people and the customary forest since 2012. Supported by various civilian organizations, FoMMA has been at the forefront of the process of registering customary lands and forest. This hard work is paid off, in 2019, the Malinau Regional Government recognized the Kayan Mentarang area as the first customary land.

Throughout its 20 years of journey, FoMMA has been the pioneer of participatory mapping of more than 2 million hectares of customary land. This mapping also includes natural, social wealth, high biodiversity areas that are traditionally protected by the community (AKKM / KKMH or ICCAs). FoMMA promotes a co-management scheme in the Kayan Mentarang National Park (TNKM), which later became the first national park in Indonesia supported by various partners ranging from local, national and regional levels. FoMMA, in addition, has assisted the transformation of National Park’s management to accommodate customary territories, managed and maintained by indigenous people, by adhering the traditions.

As time goes by, many FoMMA members hold numerous government positions within their communities raging from the head of their respective communities, local government officials, and even the members of the Regional People's Representative Council (DPRD). With this position, they can continue to advocate the nature-based and customary solutions, based on their traditional values.

WWF-Indonesia congratulates FoMMA on the Equator Prize award and acknowledges that the strength and firmness of this initiative are rooted in the wisdom of the elders and heads. 

These ancestors have had a vision from many years ago the importance of saving the nature in Kayan Mentarang for the next generation.


Cerita Terkini

Panda Mobile Ajak Siswa Springfield International School Jaga Laut

Laut adalah badan air asin besar yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau. Laut saling berhubung...

Untuk Siapa Manfaat Praktik Perikanan Berkelanjutan?

Populasi ikan di seluruh dunia terus berkurang (Marine Bio 2019) dan menuju pada  tingkat yang mengkhawatirka...

Maluku Tenggara Memerangi Sampah dengan Plastik Free Network

Oleh: Mentari Astried Mahakena/Marine Ecotourism Development Specialist IBAS Maluku tenggara memiliki pesona ...

Get the latest conservation news with email