Kembali

© Danny Moenggoro

Keseruan peserta pelatihan saat mengajar di SDN Kandangan, Temanggung

Baca Juga




Belajar Menjadi Pengajar Untuk ESD di Indonesia

Posted by Nur Arinta on 05 February 2020
Author by Sal Sabila Prameswari

Gagasan tentang  pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan atau Education for Sustainable Development (ESD) sedang menjadi primadona dalam sistem pembelajaran di Indonesia, hal itulah yang saya dan kawan-kawan Earth Hour dan Marine Buddies regional Jawa Tengah, Jawa Timurdan Papua pelajari di Training of Trainer yang diadakan WWF-Indonesia.

Bertempat di Omah Yudhi yang berlokasi di Temanggung Jawa Tengah, kami mendapatkan banyak sekali ilmu mengenai ESD selama 4 hari yang diadakan dari 21-25 Januari 2020. Tak hanya fokus mempelajari masalah lingkungan yang terjadi di dunia, kami juga dibekali pengetahuan tentang metode pembelajaran yang menyenangkan dalam sistem pengajaran/edukasi. 

Rabu pagi itu (22/1/2020) sejuk sekali. Ditemani udara pagi dan pemandangan Omah Yudhi yang sangat asri, saya dan para peserta lainnya memulai sesi pembelajaran dengan mengamati sekitar. Mas Yudhi sang pemilik homestay bercerita tentang sejarah berdirinya tempat yang menenangkan ini. Mas Yudhi juga mengajak kami berkeliling area homestay sambil menceritakan kecintaannya terhadap tumbuhan dan alam. Ia juga menjelaskan tekniknya menanam dengan media bekas, seperti karpet dan selimut yang dipadukan dengan teknik vertical garden.

Saat berkeliling sambil mendengar tutur kisah mas Yudhi, ada dua hal yang membuat saya terkagum-kagum. Pertama, estetika tanaman yang ditanam dan ditempatkan dengan begitu terkonsep. Hal kedua yang juga menginspirasi saya tentu konsep rumah panggung yang sangat ikonik. Ya, Omah Yudhi berkonsep rumah panggung, termasuk tempat saya tidur beberapa malam ke depan. Asri, sederhana, namun tetap nyaman. Bila diperhatikan, hampir semua tempat di Omah Yudhi juga menggunakan barang bekas. Mas Yudhi membangun homestay  ini dengan menerapkan konsep “back to nature” dengan apik dan sempurna.

Setelah diajak berkeliling menjelajah dan mengamati area sekitar, kami dipertemukan dengan Pak Pietra. Pada sesinya, Pak Pietra menjelaskan apa itu SDG’s berikut ke-17 tujuannya dengan media kartu, sehingga penjelasannya pun sangat mudah dimengerti. Ini adalah metode yang dapat saya tiru saat saya melakukan edukasi ke sekolah nanti, cara belajar yang menyenangkan, ringan, dan membuat pesan edukasi tersampaikan dengan baik. Ia juga menjelaskan bahwa pola pikir kritis kita dimulai dari rasa peduli terhadap lingkungan sekitar.

Tujuan pembangunan berkelanjutan (Susutainable Development Goals/SDG’s) sebenarnya adalah sebuah kesepakatan yang telah disetujui bersama sebagai tujuan bersama oleh 193 negara di dunia pada 25 September 2015 di Markas Besar Perserikatan Bangsa-bangsa. Indonesia termasuk ke dalam negara yang menyepakati SDG’s, dimana seluruh goals tersebut harus dicapai di tahun 2030. Pendidikan sebagai salah satu instrumen fundamental dalam pencapaian SDG’s di Indonesia kemudian diterjemahkan menjadi ESD, yang mana telah mulai dilakukan di beberapa sekolah di Indonesia, namun memang belum banyak.

Pada kesempatan ini, kami bertemu dengan Ibu Dewi Partini, kepala sekolah dari SD Bhayangkara Yogyakarta, salah satu sekolah yang sudah menerapkan pengajaran ESD kepada peserta didiknya. Ibu Dewi mengatakan, di sekolahnya, penerapan ESD dalam kurikulum disisipkan ke dalam muatan lokal seperti pelajaran Seni Budaya, Prakarya, Teknologi, dan lainnya. Ia juga menegaskan, dalam mengimplementasikan ESD, kompetensi yang diberikan kepada anak adalah kompetensi utuh, yakni mengenal, memanfaatkan, dan melestarikan. Hal ini bertujuan agar apa yang dipelajari peserta didik bukan hanya menghafal dalam kelas, namun mereka dapat memahami esensi materi yang diberikan, tentunya dengan metode yang menyenangkan.

Setelah mendengarkan cerita penerapan ESD di wilayah Jawa, saya dan kawan-kawan diajak melihat bagaimana ESD diterapkan di Jambi. Mas Lutfie dari WWF-Indonesia di wilayah Jambi mengatakan kepada kami bahwa selain sekolah, pihak-pihak lain seperti perusahaan, komunitas, masyarakat, bahkan pemerintah juga harus menerapkan ESD dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan harus melibatkan semua pihak dari seluruh lapisan elemen masyarakat, untuk mendukung tercapainya 17 tujuan SDG’s di Indonesia.

Pada hari berikutnya, kami dipertemukan dengan Pak Danny yang mengajarkan kepada kami bagaimana metode belajar yang dapat menghidupkan suasana. Ia juga menjelaskan trik-trik menjadi pengajar yang baik, cara menuturkan cerita dan pesan yang efektif dan dapat diterima oleh target audiens. Saya sangat senang sekali menerima materi ini, karena hal-hal tersebut sangatlah penting untuk saya dan kawan-kawan menjalankan ESD di sekolah-sekolah kami masing-masing.

Setiap sesi yang diberikan oleh Pak Danny terasa sangat menyenangkan, dan memang pembelajaran semacam itu yang diharapkan pendidikan zaman sekarang. Kami diajari tentang merancang sesi yang akan kami praktikkan esok hari di sekolah yang akan kami kunjungi, mulai dari membuka pembelajaran, mengajak mereka mengalami, mengurai masalah yang mereka alami, menganalisanya, merangkum pembelajaran, hingga dan menutup sesi pembelajaran.

Semua Murid, Semua Guru

Kami dibagi menjadi 4-5 orang dalam 1 kelompok dan diberi tugas membuat merancang sesi pembelajaran dari awal hingga akhir. Setiap grup haruslah merancang sesi dengan metode yang berbeda-beda namun tetap harus ada enam proses di atas. Berdasarkan hasil diskusi, kami melihat musik adalah sebuah metode penyampai pesan yang baik. Memilih metode bernyanyi dan mengajak anak-anak menciptakan lagu diharapkan dapat lebih mudah diterima oleh anak-anak. Tak hanya merancang sesi pengajaran, kami juga ditugaskan membuat perangkat belajar yang menarik. Sesi ini kami lakukan hingga larut malam. Terlihat melelahkan? Ya, kami lela, namun rasa lelah yang kami rasakan kalah dengan rasa senang dan bersemangat untuk bertemu dengan anak-anak di esok hari.

24 Januari 2020, kami mendatangi SDN Kandangan di Temanggung, lokasinya sangat dekat dengan homestay yang kami tempati. Saat kami datang kesana, wah bukan hanya kami yang bersemangat, ternyata mereka pun lebih excited. Acara dimulai sekitar jam 8, kami mengumpulkan anak-anak kelas 5-6. Merekalah yang akan menjadi peserta didik kami. Kami menari senam “Go Green” yang dipandu Vio di lapangan, setelahnya kami mengenalkan diri dan membagi seluruh peserta didik menjadi kelompok yang berisi 12 anak.

Banyak tepukan, nyanyian, tarian, dan tentunya ilmu baru saat kami bertemu dengan anak-anak. Sikap mereka yang sangat menerima kedatangan kami dan rasa penasaran mereka terhadap kegiatan yang akan kami lakukan bersama selama 3 jam ke depan membuat kami merasa sangat bahagia.

Taman SDN Kandangan yang ditumbuhi banyak tanaman membuat saya terpikir untuk meminta mereka menyebutkan semua tanaman di sekolah. Banyak tanaman yang baru saya ketahui namanya saat berkeliling taman sekolah. Tak hanya saya yang mengajarkan anak-anak ini, namun saya juga mendapatkan banyak pengetahuan dari mereka. Ya, kami saling belajar satu sama lain.

Ada satu kejadian yang membuatku yakin bahwa anak-anak ini adalah agent of change dari prubahan lingkungan yang lebih baik, ketika kelompok kami menjelaskan mengenai penggunaan tumblr, pengurangan plastic dan sedotan, dampak lingkungan ketika mereka membuang sampah sembarangan, dan perburuan liar yang semakin merajalela. Mereka menyimak dengan baik sambil mengangguk anggukan kepala tanda setuju bahwa lingkungan ini harus tetap dijaga keseimbangannya, dan tentunya kami senang mereka dapat memahami itu.

Malam harinya, kami berdiskusi kembali dan merumuskan rencana tindak lanjut untuk dilaksanakan di kota masing-masing. Perencanaan ini juga menjadi pedoman bagi kami agar sesegera mungkin memiliki timeline kegiatan, sehingga output atau tujuan kegiatan ini dapat terwujud—tujuan mengenalkan keanekaragaman hayati dan menerapkan ESD kepada lingkup sekolah yang akan kami dampingi.

Saya merasa beruntung bisa ikut dalam pelatihan ini. Dari pelatihan ini, saya mendapatkan perspektif baru tentang cara mengajar yang hanya di dalam kelas menjadi proses pembelajaran yang menyenangkan. Bahwa banyak media lain yang dapat menjadi media pembelajaran di luar buku, termasuk memanfaatkan alam dan lingkungan sekitar. Dapat mengenal kawan-kawan dari daerah lain juga menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya, banyak cerita-cerita baru dari daerah lain yang turut meramaikan proses belajar ini.


Cerita Terkini

Memelihara Koridor Bukit Tiga Puluh

Oleh: Nety SariPejamkan matamu dan bayangkan saja: Bukit Tigapuluh. Mungkin yang terlihat dalam pikiranmu adalah b...

WWF dan James Cook University Luncurkan Pedoman Praktik Perancangan da

Jumlah hiu dan pari menurun secara global, dan sejak 2014, seperempatnya berstatus terancam punah dan sebagian bes...

Satu Dekade Pengelolaan Hutan dan Community Logging di Tanah Papua

Jakarta, 19 September 2019 - Kondisi masyarakat hukum adat Papua saat ini bisa dikatakan “bak tikus mati di lumb...

Get the latest conservation news with email