Kembali

© WWF-Indonesia

Hanna sedang memberikan presentasi tentang Harimau Sumatera kepada siswa sekolah bersama Panda Mobile.



Belajar Konservasi dan Pengembangan Diri Bersama Panda Mobile

Posted on 14 July 2020
Author by Hanna Astaranti

Sudah pernah dengar tentang Panda Mobile WWF-Indonesia? 

Jika sudah, kemungkinan kamu adalah followers aktif akun media sosial WWF-Indonesia baik di Twitter, Facebook, maupun Instagram, atau mungkin sudah pernah berkegiatan bersama Panda Mobile. Panda Mobile adalah salah satu media edukasi untuk menyampaikan pesan konservasi lingkungan yang dilakukan oleh WWF-Indonesia. Target pesertanya beragam, mulai dari siswa TK hingga perguruan tinggi, serta masyarakat umum. Tujuannya adalah mengajak masyarakat untuk memulai gaya hidup hijau melalui berbagai aktivitas yang menarik dan menyenangkan

Perkenalkan, saya Hanna Astaranti. Satu dari tiga koordinator Panda Mobile yang juga merupakan Engagement Activation Officer di WWF-Indonesia. Rasanya menyenangkan sekali ketika diberi kabar jika saya dapat bergabung ke dalam tim Partnership WWF-Indonesia, setelah sebelumnya menjadi volunteer Panda Mobile selama empat tahun.

Oh ya, saya mau cerita sedikit mengenai perjalanan sebagai volunteer Panda Mobile. Pada 2014, ada pengumuman lowongan untuk menjadi volunteer sebuah project bertemakan lingkungan di kampus. Saya, yang sedari kecil sudah sangat tertarik di dunia konservasi alam, tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan itu. Singkat cerita, dari project itu saya berkenalan dengan koordinator Panda Mobile, lalu diberi  tawaran untuk menjadi volunteer. Di situlah perkenalan saya dengan WWF-Indonesia, yang juga merupakan langkah awal menggapai impian sejak kecil.

Selama berkegiatan sebagai volunteer, saya merasakan berbagai pengalaman baru. Panda Mobile sendiri banyak berkegiatan di sekolah. Kami harus berhadapan dengan siswa TK sampai SMA, sehingga menjadi lebih memahami cara berinteraksi dengan pelajar. Keterampilan berkomunikasi pun bertambah seiring dengan frekuensi bertemu dengan pihak eksternal dari berbagai usia. Tentu saja, selain keterampilan berkomunikasi, saya juga banyak belajar cara bernegosiasi dan berimprovisasi. Contohnya, ketika ada kendala yang membuat kegiatan Panda Mobile terlambat, kami diajak untuk berinisiatif mencari jalan keluar sehingga aktivitas tetap berjalan dengan mulus. 

Saya juga banyak bertemu orang baru dengan berbagai pengalamannya yang keren. Awalnya, saya sempat merasa minder karena beberapa volunteer sudah lama berkecimpung di dunia konservasi atau menjadi mahasiswa pencinta alam. Namun, mereka tidak membedakan latar belakang, dan tetap memberi pengetahuan baru yang membuat saya semakin tertarik dengan dunia konservasi. 

Suatu hari, salah satu volunteer mengajak saya untuk pergi ke sebuah taman di Jakarta. Kami berdiam sejenak untuk menajamkan panca indera. Di sana, ia mengajarkan untuk lebih peka dengan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar, khususnya ketika berada di kota besar yang jauh dari suasana hutan. Kami mengamati serangga, burung-burung, hingga biota yang ada di parit. Meskipun ragamnya tidak sebanyak yang saya pelajari di dalam ilmu biologi, tapi pengalaman ini merupakan bekal awal untuk mengenal dunia konservasi khususnya fauna.

Tanpa diduga, awal 2018 saya mendapat tawaran untuk menjadi koordinator Panda Mobile dan menggantikan koordinator sebelumnya. Tanpa ada keraguan, saya mencoba peruntungan. Di bulan Maret, saya bergabung di WWF-Indonesia secara resmi. Semakin dalam saya masuk, semakin merasa kecil pula, karena ternyata dunia konservasi alam sangat kompleks dengan pembahasan yang luas dan baru.

Tahun 2019 adalah tahun paling menyenangkan selama saya berkecimpung di WWF-Indonesia. Diawali dengan ikut serta di kegiatan Kumpul Bareng Earth Hour Indonesia, di mana saya bertemu dengan perwakilan anak muda dari Sabang sampai Merauke untuk membahas isu lingkungan di daerah masing-masing. Lalu di bulan Februari saya mendapat kesempatan untuk mendampingi Manager Marine & Fisheries untuk memberikan materi di Universitas Airlangga, Surabaya, dan dilanjutkan dengan menghadiri undangan makan malam di kediaman Wali Kota Surabaya! Banyak sekali hal yang terjadi di tahun itu. Akhir tahun ditutup dengan mengikuti Asia Pacific Growth Seminar di Lombok dengan peserta yang berasal dari beberapa negara di Asia dan Australia. Di sana, saya belajar cara melakukan fundraising yang biasa dilakukan oleh negara lain. Ilmu yang saya dapatkan bisa diadopsi untuk program ke sekolah bersama Panda Mobile.

Sepertinya, kata “beruntung” saja masih belum bisa menggambarkan betapa saya mensyukuri posisi saat ini. Dengan banyaknya pengetahuan yang sudah diserap, sebanyak itu pula saya akan menyalurkan ide dan energi untuk Panda Mobile. Jika ada pertanyaan, apakah saya akan tinggal lama di sini? Mungkin jika ada kesempatan untuk bisa mengembangkan diri, saya akan mengambilnya. Namun, ilmu tersebut akan kembali saya salurkan untuk Panda Mobile agar bisa semakin berkembang dalam menyampaikan pesan konservasi ke masyarakat yang lebih luas, demi bumi yang nyaman ditinggali oleh anak cucu kita nanti.


Cerita Terkini

Lokakarya PTSK Bagi Pendidik Perbatasan Kalimantan Utara

Pernahkah kamu mendengar suatu daerah bernama Krayan? Krayan adalah suatu daerah yang terletak di Kabupaten Nunuka...

Wujudkan SDG's Melalui Praktik Perikanan Bertanggung Jawab

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG's), adalah untuk menghasilkan serangkaian tuju...

Harga Jual Tinggi, Gelembung Renang Ikan Conggek Jadi Incaran

Oleh: Alfian Trendy Apriyanto dan Vava Fatchurochman/Fisheries Enumerator West Papua WWF-Indonesia Teluk Bint...

Get the latest conservation news with email