Kembali

© Alain Compost/WWF

Praktik penebangan liar di Kalimantan.



PRESS RELEASE

APRIL&APP Memasok Kayu dari Sumber Kontroversial

Posted by Nur Arinta on 28 October 2019
Author by Koalisi Anti Mafia Hutan

Grup APRIL dan APP Tetap Memasok Kayu dari Sumber Kontroversial yang Dimiliki Grup Djarum pada 2018

Jakarta, 9 Oktober 2019—Koalisi Anti Mafia Hutan merilis laporan temuan pelanggaran komitmen zero deforestation oleh dua raksasa penghasil pulp dan kertas di Indonesia—grup Asia Pulp and Paper (APP)/Sinarmas dan Asia Pacific Resources International Limited (APRIL). Dua grup tersebut, pada 2018 kemarin memasok bahan kayu dari sumber kontroversi yang dimiliki oleh salah satu perusahaan Grup Djarum.
Pada 2013 dan 2015, APP dan APRIL sama-sama berkomitmen untuk menghentikan perusakan hutan alam. Setelah keduanya menyatakan bertanggung jawab atas pembukaan hutan alam dan lahan gambut di Indonesia selama dua dekade terakhir, termasuk habitat Orangutan dan Harimau Sumatera.
Beranjak dari temuan tersebut, laporan ini hendak mempertanyakan integritas komitmen keberlanjutan (zero deforestation) APP dan APRIL, yang dijadikan sebagai alat untuk menarik minat pasar yang hilang setelah kedua grup ini melakukan praktik pelanggaran HAM dan perusakan lingkungan. APP bahkan baru-baru ini mendapat penghargaan sertifikasi Green Label di Singapura, dan juga FSC (Forest Stewardship Council) mempertimbangkan membawa APP kembali setelah memutus hubungan sejak 2007.
Sementara produk pulp APRIL, saat ini digunakan oleh perusahaan afiliasinya yaitu Sateri untuk menghasilkan produksi tekstil, yang dilaporkan dibeli oleh perusahaan ritel pakaian ternama seperti H&M dan Zara. Djarum Grup saat ini juuga membangun industri pulp miliknya sendiri di Kalimantan Timur. Perusahaan ini bahkan belum memiliki komitmen untuk tidak memasok kayu hasil deforestasi, perusakan lahan gambut, atau eksploitasi masyarakat adat/komunitas lokal.
Koalisi Anti Mafia Hutan terdiri dari sejumlah organisasi masyarakat sipil yang berkomitmen untuk menumbuhkan kepedulian mengenai praktik-praktik perusahaan maupun kebijakan pemerintah yang mengancam hutan dan lahan gambut, dan juga mengancam hak-hak masyarakat adat maupun masyarakat adat.

- SELESAI -

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Syahrul Fitra, Auriga: [email protected]       
Nur Maliki Arifiandi, WWF-Indonesia: [email protected]
Aidil Fitri, Hutan Kita Institute: [email protected]
Sergio Baffoni, Environmental Paper Network: [email protected]

Cerita Terkini

SD Lazuardi GCS Depok, Belajar Keanekaragaman Hayati Bersama Panda Mob

“Ada berapa jenis gajah di Indonesia, Miss?" “Jenis penyu apa aja yang ada di Indonesia?” Fitur chat dalam a...

Konservasi untuk Pariwisata: Festival Alor 2019 (Panggil Ikan)

Pantai wisata Mali Kelurahan Kabola Alor, Jumat 19 Juli 2019Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini sedang men...

Mendorong Peran Generasi Muda dalam Pelestarian Lingkungan Bersama AIE

Suasana berbeda tampak di kantor WWF Bandar Lampung pagi itu. Riuh rendah diskusi terdengar dari ruang meeting kan...

Get the latest conservation news with email