SAINS

WWF-Indonesia melakukan pendekatan integratif pada sains, menggabungkan berbagai disiplin ilmu, menggunakan analisis dan pemodelan tingkat lanjut, bekerja pada data-data ilmiah, guna menemukan solusi untuk mengintegrasikan kajian lingkungan dalam setiap aktivitas pembangunan dan mengukur dampak dari upaya konservasi yang telah dilakukan WWF-Indonesia terhadap alam Indonesia.

Alam Indonesia, mulai dari daratan hingga laut beserta keanekaragaman hayati di dalamnya masih menjadi sasaran eksploitasi. Bahkan, sekarang alam kita tengah  berada dalam tingkat degradasi yang mengkhawatirkan. 

Laju kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini berusaha ditekan melalui upaya-upaya konservasi yang berakar pada sains. Kami percaya bahwa konservasi yang berbasis pada sains adalah inti untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati dan meningkatkan kesejahteraan manusia melalui pengelolaan lingkungan.

Untuk melakukan kajian ilmiah, WWF mengandalkan tim Conservation Science Unit (CSU) untuk memberikan pengetahuan berkualitas tinggi berdasarkan studi lanjutan yang berlaku dan memiliki implikasi terhadap kebijakan konservasi dan implementasi program yang dilakukan WWF-Indonesia.

Tim CSU memiliki tiga kerangka kerja program yang saling terkait:

  1. Manajemen berbasis hasil dan manajemen pengetahuan
  2. Perencanaan terpadu
  3. Riset konservasi

Dalam menjalankan tugasnya, tim CSU senantiasa bermitra dengan komunitas sains, termasuk para ahli dari universitas, pejabat pemerintah, LSM atau masyarakat secara umum tertarik pada sains.

BERITA & CERITA TERKAIT

Aditya Bayunanda, CEO baru Yayasan WWF Indonesia

Badan Pengurus Yayasan WWF Indonesia mengumumkan Aditya Bayunanda atau akrab dipanggil Dito, sebagai Direktur Eksekutif/Chief Executive Officer (CEO) baru WWF-Indonesia efektif mulai 1 November 2022.

Gerakan Pariwisata Bersama Masyarakat Desa Marisa, Pulau Kangge, Kepul

Setelah sempat terdampak pandemi Covid-19 dan meredup hingga dua setengah tahun lamanya, kini lambat laun sektor pariwisata perlahan mulai bangkit kembali. Sejumlah destinasi wisata di Indonesia kembali mengeliat, salah satunya wisata di Kepulauan Alor, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Tersusun atas pulau - pulau kecil, Kabupaten Alor memiliki pesona bahari yang cukup popular, salah satu andalannya adalah Desa Marisa yang berada di Pulau Kangge.

Satu dari Lima Orang di Dunia Masih Bergantung pada Spesies Hidupan Li

Miliaran penduduk di seluruh dunia, menggantungkan hidup dari memanfaatkan sumber daya alam dalam bentuk makanan, energi, bahan pakaian, obat-obatan, kebutuhan akan rekreasi, inspirasi dan banyak hal penting lainnya, yang berkontribusi untuk kesejahteraan manusia. Namun krisis keanekaragaman hayati global yang semakin cepat, dengan sejuta spesies tumbuhan dan hewan yang menghadapi kepunahan, secara tidak langsung mengancam kesejahteraan manusia.

Rumput Laut Pulau Kangge

Sebagian besar masyarakat Pulau Kangge yang terletak di Kecamatan Pantar Barat Laut, bermata pencaharian sebagai pembudidaya rumput laut.

Desa Seribu Pancing

Desa Pasir Putih di Pulau Messah, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) kerap dijuluki sebagai Desa Seribu Pancing.

Get the latest conservation news with email