SAINS

WWF-Indonesia melakukan pendekatan integratif pada sains, menggabungkan berbagai disiplin ilmu, menggunakan analisis dan pemodelan tingkat lanjut, bekerja pada data-data ilmiah, guna menemukan solusi untuk mengintegrasikan kajian lingkungan dalam setiap aktivitas pembangunan dan mengukur dampak dari upaya konservasi yang telah dilakukan WWF-Indonesia terhadap alam Indonesia.

Alam Indonesia, mulai dari daratan hingga laut beserta keanekaragaman hayati di dalamnya masih menjadi sasaran eksploitasi. Bahkan, sekarang alam kita tengah  berada dalam tingkat degradasi yang mengkhawatirkan. 

Laju kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini berusaha ditekan melalui upaya-upaya konservasi yang berakar pada sains. Kami percaya bahwa konservasi yang berbasis pada sains adalah inti untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati dan meningkatkan kesejahteraan manusia melalui pengelolaan lingkungan.

Untuk melakukan kajian ilmiah, WWF mengandalkan tim Conservation Science Unit (CSU) untuk memberikan pengetahuan berkualitas tinggi berdasarkan studi lanjutan yang berlaku dan memiliki implikasi terhadap kebijakan konservasi dan implementasi program yang dilakukan WWF-Indonesia.

Tim CSU memiliki tiga kerangka kerja program yang saling terkait:

  1. Manajemen berbasis hasil dan manajemen pengetahuan
  2. Perencanaan terpadu
  3. Riset konservasi

Dalam menjalankan tugasnya, tim CSU senantiasa bermitra dengan komunitas sains, termasuk para ahli dari universitas, pejabat pemerintah, LSM atau masyarakat secara umum tertarik pada sains.

BERITA & CERITA TERKAIT

Surga di Ekor Kalimantan

Pesisir Paloh bukan hanya rumah bagi empat dari enam jenis penyu yang dapat dijumpai di Indonesia, namun juga rumah bagi beberapa spesies perairan dan darat yang dilindungi.

Dr. Dicky P. Simorangkir, Pimpinan Baru Yayasan WWF Indonesia

Badan Pengurus Yayasan WWF Indonesia mengumumkan pengangkatan Dr. Dicky P. Simorangkir sebagai Direktur Eksekutif/Chief Executive Officer Yayasan WWF Indonesia dan resmi mulai bergabung pada tanggal 1 Oktober 2020.

Menjaga Habitat Gajah melalui Forum Sahabat Gajah

Menghadapi sekawanan gajah yang berbondong-bondong mendatangi kebun bukan lagi hal baru bagi masyarakat Pemerihan. Desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ini telah menjadi desa siaga dalam

Pengelolaan Hutan yang Bertanggung Jawab melalui Sistem Sertifikasi Ja

Hutan Indonesia merupakan habitat untuk keanekaragaman hayati unik yang meliputi 12 persen spesies mamalia di dunia, 7,3 persen spesies reptil dan amfibi, serta 17 persen spesies burung di seluruh dunia. Lebih dari itu, hutan juga berkontribusi pada ketersediaan air dan udara bersih yang kita nikmati setiap harinya.

Upaya Bersama untuk Melindungi Gajah Kalimantan

Kalimantan adalah pulau terluas ketiga di dunia, setelah Greenland, dan Papua. Pulau ini memiliki banyak sungai dan hutan tropis yang rapat, hutan ini menjadi habitat bagi spesies gajah terkecil, yang memiliki tinggi maksimum 2,5 meter.

#Race4HuluCiliwung

Kawasan Hulu Ciliwung merupakan salah satu ekosistem penyangga kehidupan di mana banyak makhluk hidup, termasuk manusia bergantung padanya. Ayo ikut bersama kami dalam #Race4HuluCiliwung dan ambil bagian dalam upaya melestarikan salah satu ekosistem kunci ini!

Donasi Sekarang

Get the latest conservation news with email