FINANSIAL

Sejak tahun 2014, WWF-Indonesia mulai merintis program keuangan berkelanjutan dan bekerja bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perusahaan perbankan nasional, untuk mendorong investasi dan pembiayaan berkelanjutan dari sektor keuangan.

Indonesia merupakan negara yang sedang membangun dan masih mengandalkan sumber daya alam sebagai penopang ekonomi yang utama. Sektor pertambangan, pertanian dan perikanan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 23% di tahun 2016. Guna mencapai target menjadi negara dengan PDB terbesar kelima di dunia pada 2045, pemerintah kini fokus untuk meningkatkan pertumbuhan harus mencapai 5.7% per tahun. 

Di sisi lain, pemerintah dihadapkan pada tantangan transisi pembangunan ekonomi hijau. Perubahan kebijakan dan perilaku pasar sebagai konsekuensi dari upaya penanggulangan perubahan iklim via Perjanjian Paris dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs)—dimana negara-negara dituntut untuk mencegah kenaikan temperatur global lebih dari 1.5 derajat celcius dibandingkan masa pra-industri. 

Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diluncurkan menjelang COP24 pada Oktober 2018, tanpa ada perubahan yang masif di dalam sistem pembangunan ekonomi, Indonesia akan sulit berkontribusi pada capaian global tersebut, dengan masih jamaknya praktik produksi yang tidak bertanggung jawab dilakukan di Indonesia. 

Dengan proyeksi kombinasi tantangan perubahan iklim dan pertumbuhan permintaan berbagai komoditas pangan dan bahan bakar bagi populasi dunia yang terus berkembang hingga beberapa dekade kedepan, pada tahun 2015-2016, WWF-Indonesia memperkenalkan Panduan WWF Internasional tentang Integrasi Lingkungan, Sosial dan tata Kelola bagi Perbankan  dan Panduan Pembiayaan Kelapa Sawit Berkelanjutan untuk menjadi panduan resmi sukarela  bagi perbankan.

Pada November 2015, atas inisiatif OJK, WWF-Indonesia memberikan program peningkatan kapasitas dan pendampingan teknis mengenai panduan WWF Internasional tersebut kepada delapan bank di Indonesia. Delapan bank yang mewakili 49.5% aset perbankan nasional ini kemudian mendeklarasikan diri sebagai “First Movers on Sustainable Banking”.

Kini, kedelapan bank tersebut telah membentuk suatu platform Initiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia (IKBI) bersama WWF-Indonesia untuk mempromosikan keuangan berkelanjutan inklusif, meningkatkan integrasi lingkungan, sosial dan tata kelola di dalam keputusan bisnis sektor jasa keuangan termasuk guna menangkap peluang-peluang dan inovasi pembiayaan terhadap bisnis- bisnis yang menerapkan praktik berkelanjutan—yang kerap memerlukan biaya investasi lebih mahal di tahap awal. Ke depan, WWF-Indonesia juga akan mulai aktif bekerja dengan investor-investor untuk mendorong kemantapan kemajuan keuangan berkelanjutan nasional.

Setidaknya ada empat (4) aspek utama di dalam proses transisi menuju sistem pembangunan ekonomi di Indonesia yang perlu dicermati. Pertama, Indonesia merupakan negara yang rentan terhadap perubahan iklim, diyakini akan meningkatkan risiko bencana hidrogeometeorologi menjadi 80% dari total bencana yang sifatnya tradisi di Indonesia.  Kedua, Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam dan hutan hujan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati dan cadangan karbon yang tinggi—sehingga berperan besar dalam upaya menghadapi perubahan iklim. 

Ketiga, Indonesia merupakan negara yang sedang membangun dan masih mengandalkan sumber daya alam sebagai penopang ekonomi utama. Keempat, menghadapi tantangan besar untuk memberi makan bagi jumlah populasi penduduknya yang sangat besar yang menempati posisi keempat terbesar di dunia.

BERITA & CERITA TERKAIT

Program Kelas Keuangan Berkelanjutan

Inisiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia (IKBI), HSBC Indonesia, Yayasan WWF Indonesia didukung oleh International Climate Initiative (IKI) membuka “Program Kelas Keuangan Berkelanjutan – Cohort: Transisi Energi dan Investasi Energi Terbarukan”.

Dr. Dicky P. Simorangkir, Pimpinan Baru Yayasan WWF Indonesia

Badan Pengurus Yayasan WWF Indonesia mengumumkan pengangkatan Dr. Dicky P. Simorangkir sebagai Direktur Eksekutif/Chief Executive Officer Yayasan WWF Indonesia dan resmi mulai bergabung pada tanggal 1 Oktober 2020.

Menjaga Habitat Gajah melalui Forum Sahabat Gajah

Menghadapi sekawanan gajah yang berbondong-bondong mendatangi kebun bukan lagi hal baru bagi masyarakat Pemerihan. Desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ini telah menjadi desa siaga dalam

Pengelolaan Hutan yang Bertanggung Jawab melalui Sistem Sertifikasi Ja

Hutan Indonesia merupakan habitat untuk keanekaragaman hayati unik yang meliputi 12 persen spesies mamalia di dunia, 7,3 persen spesies reptil dan amfibi, serta 17 persen spesies burung di seluruh dunia. Lebih dari itu, hutan juga berkontribusi pada ketersediaan air dan udara bersih yang kita nikmati setiap harinya.

Upaya Bersama untuk Melindungi Gajah Kalimantan

Kalimantan adalah pulau terluas ketiga di dunia, setelah Greenland, dan Papua. Pulau ini memiliki banyak sungai dan hutan tropis yang rapat, hutan ini menjadi habitat bagi spesies gajah terkecil, yang memiliki tinggi maksimum 2,5 meter.

#SOSHUTAN

Kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan di Indonesia sejak awal bulan Agustus 2019. Hal ini membuat banyak wilayah di Indonesia dilanda kabut asap. Mari bersama kita selamatkan Indonesia dari kebakaran hutan dan lahan dan juga asap!

Donasi Sekarang

Get the latest conservation news with email